Sunday, May 06, 2012

Benturan Tafsir Konservatif dan Tafsir Liberal atas Teks-teks Homoseksualitas dalam Alkitab

http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/01/benturan-tafsir-konservatif-dan-tafsir.html
Posted  by 



Pada tahun 1973 The American Psychiatric Association (APA) mencabut homoseksualitas dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental, dan dengan demikian posisi sebelumnya (tahun 1952) yang melihat homoseksualitas sebagai suatu penyakit mental klinis dihapuskan./1/ Langkah yang progresif ini kemudian di tahun 1975 diikuti oleh The American Psychological Association, dan juga oleh The National Association of Social Workers di Amerika Serikat.

Ketiga lembaga ini juga memberi batasan-batasan yang jelas terhadap konsep modern “orientasi seksual” sebagai “suatu pola kelakuan atau watak yang menetap pada seseorang dalam mengalami ketertarikan seksual, romantik dan afeksional khususnya terhadap laki-laki, perempuan, atau sekaligus terhadap laki-laki dan perempuan.” Karena didorong orientasi seksualnya ini, seseorang “membangun suatu hubungan pribadi yang intim dengan mitra pilihannya untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, persekutuan dan keintiman yang sangat kuat dirasakannya”, hubungan yang dipandangnya “memuaskan dan memenuhi semua harapannya dan merupakan suatu bagian esensial jati diri pribadinya”./2/

Orientasi seksual ini khas, berbeda dari komponen-komponen seks dan seksualitas lainnya, seperti seks biologis (hal-hal yang mencakup anatomi, fisiologi dan genetika yang membuat seseorang menjadi laki-laki atau perempuan), identitas gender (penghayatan psikologis sebagai laki-laki atau perempuan), dan peran sosial gender (menyangkut perilaku maskulin atau perilaku feminin, yang definisinya diberikan berdasarkan norma-norma kultural yang berlaku dalam suatu masyarakat).

 Homoseksualitas dalam dunia hewan. Betapa intim dan alamiahnya mereka!

Biasanya orientasi seksual ini dilihat mencakup tiga golongan, yakni heteroseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks dari lain jenis), homoseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks sejenis), dan biseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks lelaki dan mitra seks perempuan sekaligus).

Beberapa peristiwa telah terjadi belum lama ini di Indonesia yang menunjukkan kebencian kaum beragama Muslim fundamentalis terhadap kaum homoseksual; kebencian ini timbul tidak sedikit karena teks-teks skriptural yang dipahami secara harfiah. Dalam situasi seperti ini, untuk meniadakan atau minimal mengurangi tekanan sosiopsikologis dan sosiopolitis terhadap kaum homoseksual, teks-teks skriptural yang tampak melarang dan mengutuk homoseksualitas perlu ditafsir ulang untuk melepaskan teks-teks ini dari dominasi konstruksi tafsiran tradisional yang umumnya memang tidak memihak kepada kaum ini.

Sebagai sebuah sumbangan dalam mendekonstruksi tafsiran tradisional terhadap teks-teks homoseksualitas dalam kitab suci, tulisan ini fokus pada teks-teks Alkitab yang dalam pandangan pertama tampak dalam arti harfiah mengutuk kaum homoseksual.

Terdapat kurang lebih dua puluh rujukan ke homoseksualitas atau ke perilaku homoseksual dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tujuh di antaranya menurut kalangan Kristen konservatif merupakan teks-teks yang sangat jelas melarang dan mengutuk homoseksualitas atau perilaku homoseksual, yakni Kejadian 19; Imamat 18:22; Imamat 20:13; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9-10; 1 Timotius 1:9-10; Yudas 1:7. Tetapi kalangan Kristen liberal progresif mengajukan tafsiran yang berbeda atas teks-teks ini, dan menegaskan bahwa konsep “orientasi seksual” sebagai homoseksual belum dikenal oleh para penulis kitab-kitab suci kuno. Berikut ini tinjauan singkat atas tujuh teks ini dan tafsiran yang diberikan masing-masing kalangan Kristen ini terhadap masing-masing teks ini.

Kejadian 19

Perikop ini mengisahkan tentang niat Tuhan untuk memusnahkan kota Sodom (dan Gomora) karena (kedua) kota ini konon sangat besar dosanya dan durjana (18:20; 19:15). Dua orang lelaki (= malaikat) diutus Tuhan untuk menyelidiki keadaan kota ini. Ketika mereka sudah tiba di Sodom, mereka diterima oleh Lot dan diberi tumpangan di rumahnya pada malam hari itu juga. Tetapi semua lelaki dari seluruh kota ini, tua dan muda (19:4), pada malam itu mendatangi rumah Lot dan mengepungnya. Mereka memaksa Lot untuk menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka untuk mereka “sodomi” (Ibrani: yada= mengetahui, berhubungan seksual). Tetapi Lot melindungi mereka, bahkan dia sampai rela menawarkan dua anak perawannya kepada mereka sebagai pengganti dua orang asing tamunya itu. Ketika keadaan sudah genting, dua tamu itu menarik Lot ke dalam rumahnya, dan mereka membutakan mata orang banyak yang mau mendobrak pintu rumahnya itu sehingga mereka tidak bisa menemukan pintu masuk. Kisahnya berakhir dengan pemusnahan kedua kota ini melalui letusan gunung berapi, dan hanya Lot beserta keluarganya diluputkan dari bencana ini.

Dalam pandangan kalangan Kristen konservatif, Tuhan melenyapkan kota Sodom (dan Gomora) karena kaum lelaki penduduknya mempraktekkan hubungan homoseksual. Dengan demikian, dalam pandangan mereka, Tuhan mengutuk dan menghukum segala jenis homoseksualitas, yang, dalam pandangan mereka, merupakan suatu akibat lanjutan dari “kejatuhan” Adam dan Hawa sebagaimana dikisahkan dalam Kejadian 2-3.

Tetapi kalangan Kristen liberal menolak tafsiran semacam ini. Bagi mereka, teks ini tidak memberi petunjuk jelas apapun tentang bentuk kedurjanaan dan dosa kota Sodom. Sebaliknya teks dengan jelas menyatakan apa sebab-musabab kaum lelaki Sodom mau “menyodomi” dua tamu Lot itu, yakni karena mereka menilai keduanya adalah orang asing yang mau menjadi hakim atas mereka (19:9).

Dalam zaman kuno di kawasan Timur Tengah, raja-raja dari suku-suku bangsa yang ditaklukkan kadangkala diperkosa lewat anus oleh pasukan yang menyerbu masuk sebagai tanda kekalahan dan penghinaan atas mereka. Pemerkosaan secara anal ini juga adalah suatu cara untuk menghina dan merendahkan para wisatawan dan orang asing, dan sekaligus untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi penduduk asli dan pihak pemenang./3/ Kalaupun dua tamu Lot itu menilai niat kaum lelaki Sodom untuk memperkosa mereka secara anal sebagai suatu dosa, dosa ini bukanlah dosa homoseksualitas, melainkan dosa memperkosa orang asing yang bertujuan untuk menghina mereka dan untuk memperlihatkan kekuatan dan dominasi para pemerkosa.


Imamat 18:22

“Janganlah engkau tidur dengan laki-laki sama seperti engkau bersetubuh dengan seorang perempuan, karena hal itu suatu kekejian.”  

Bagi kalangan Kristen konservatif, teks ini, yang dilepaskan dari konteks sastranya, dengan tegas melarang hubungan seksual antar sesama lelaki melalui anus. Tetapi bagi kalangan liberal, teks ini tidak berbicara tentang larangan hubungan homoseksual secara umum.

Jika ditempatkan dalam konteks sastranya dan dalam konteks religius pada masanya, teks ini ternyata mau menyatakan sesuatu yang lain.

Pasal-pasal sebelum dan sesudah teks ini secara meluas berbicara mengenai idolatri (=penyembahan kepada berhala). Imamat 18:6-18 memuat larangan terhadap berbagai macam inses; ayat 19 berisi larangan bersetubuh dengan seorang perempuan yang sedang haid. Ayat 20 memuat larangan perzinahan. Persis pada ayat 21 kita baca larangan mempersembahkan anak-anak kepada suatu dewa pagan yang bernama Molokh; lalu setelah ayat 22 (lihat teks di atas) menyusul ayat 23 yang memuat larangan perkelaminan dengan binatang, baik oleh lelaki maupun oleh perempuan dari antara orang Israel. Sesudah itu menyusul ayat-ayat 24-30 yang dengan sangat jelas menyebut bahwa semua larangan yang telah disebut sebelumnya telah dilakukan oleh “bangsa-bangsa” lain, yang sama sekali tidak boleh diikuti oleh bangsa Israel.

Di dalam kuil-kuil dewa pagan, khususnya kuil dewa pagan Molokh, terdapat pelacur-pelacur bakti (lelaki atau pun perempuan dewasa, dan juga anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan) yang dalam ritual penyembahan kepada sang dewa melakukan aktivitas persetubuhan. Ritual seksual semacam ini melibatkan kegiatan hubungan homoseksual. Seperti juga banyak masyarakat agraris kuno lainnya, para penyembah dewa ini percaya bahwa jika mereka melakukan persetubuhan dengan para pelacur bakti ini di dalam kuil dewa mereka, dewa mereka akan senang dan sebagai akibatnya pasangan mereka, ternak mereka dan lahan garapan mereka, akan mengalami peningkatan kesuburan dan berbuah-buah./4/

Dengan latarbelakang ritual religius paganisme semacam ini, yang marak dilakukan pada masa Israel kuno, Imamat 18:22 jelas tidak berbicara mengenai larangan dan penolakan terhadap homoseksualitas secara umum, tetapi terhadap ritual pelacuran bakti yang dilaksanakan di kuil-kuil dewa-dewa pagan oleh bangsa-bangsa lain yang mengitari bangsa Israel. Dalam Ulangan 23:17 dengan eksplisit larangan semacam ini diberikan: “Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti (Ibrani: quedeshaw), dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti (Ibrani: quadesh).” Quadesh bertindak sebagai representasi simbolik Dewa; danquedeshaw sebagai representasi simbolik Dewi.


Imamat 20:13

“Jika seorang laki-laki tidur dengan seorang laki-laki seperti dia bersetubuh dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan suatu kekejian, dan pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.”  

Teks ini juga memiliki konteks ritual pelacuran bakti di kuil-kuil dewa-dewa pagan, khususnya Dewa pagan Molokh (20:1-7), yang melibatkan aktivitas persetubuhan homoseksual yang dipercaya akan mendatangkan kesuburan. Bangsa Israel dilarang keras meniru praktek ritual pagan semacam ini, dan jika mereka melakukannya, mereka akan dihukum mati. Dalam kehidupan bangsa Israel kuno, hukuman mati kadang dijatuhkan pada umumnya kepada orang Israel yang melakukan suatu pelanggaran ritual, di antaranya menyembah allah-allah lain, mengumpulkan kayu api pada hari Sabat (Bilangan 15:32-36), memakan persembahan-persembahan ritual dengan cara yang tidak pantas (Bilangan 18:32), bertindak sebagai imam dengan cara yang tidak sah (Bilangan 3:10)./5/


Roma 1:26-27

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikanpersetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman (Yunani: hē askhēmosunē), lelaki dengan lelaki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”

Surat Roma ditujukan Rasul Paulus kepada orang-orang Kristen yang berdiam di Roma (1:7). Mereka terbenam dalam kebudayaan Romawi di mana perilaku homoseksual ditemukan di mana-mana dan diterima oleh masyarakat. Dalam paganisme kota Roma, orang melakukan ibadah dan ritual kesuburan di kuil-kuil dewa-dewa dan di kultus-kultus misteri, dengan di dalamnya aktivitas pesta-pora seksual dilaksanakan gila-gilaan. Dengan bantuan anggur, berbagai macam obat perangsang, musik dan dukungan hadirin, para peserta ritual kesuburan ini terbawa masuk ke dalam keadaan mabuk dan kehilangan kendali diri, yang mendorong mereka tanpa kendali melampiaskan hasrat birahi mereka dalam suatu hubungan seksual yang tidak normal. Inilah konteks religius kultural teks Roma 1./6/

Sebutan “hawa nafsu yang memalukan” dalam teks Roma 1:26 mengacu kepada keadaan mabuk dan gila-gilaan ini yang dialami oleh sejumlah orang di jemaat kota Roma, yang telah meninggalkan kekristenan lalu menganut paganisme kota itu (1:18-23). Semula mereka alamiahnya adalah perempuan-perempuan heteroseksual dan laki-laki heteroseksual. Tetapi, ketika mereka sudah beralih ke paganisme kota Roma dan ambil-bagian dalam ritual-ritual kesuburan pagan, perilaku seksual mereka berubah: kaum perempuan heteroseksual menjadi lesbian, dan kaum lelaki heteroseksual menjadi gay. Paulus menyatakan bahwa mereka menerima “balasan yang setimpal”; ini tampaknya mengacu kepada penyakit kelamin yang telah menjadi epidemik di kalangan peserta kultus kesuburan Paganisme kota Roma./7/ Nah, kalangan inilah yang dikecam dan diperingati Rasul Paulus dalam Roma 1:26-27 sebagai kalangan yang bermoral bobrok dan patut dihukum mati (1:28-32), bukan kalangan yang karena orientasi seksual yang ada pada diri mereka menjalani kehidupan homoseksual.

Karena konsep “orientasi seksual” baru diperkenalkan di abad ke-20 ketika seksualitas dikaji secara ilmiah, dan tentu belum dikenal oleh Rasul Paulus, maka sangatlah tidak tepat jika kalangan Kristen konservatif  memakai teks Roma 1:26-27 untuk menolak dan mengutuk homoseksualitas secara umum.


1 Korintus 6:9-10

“Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci [malakoi], orang pemburit [arsenokoitai], pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Kata-kata Yunani untuk kata-kata “banci” dan “orang pemburit” (kata-kata ini dipakai dalam Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia) adalah malakoi dan arsenokoitai. Ihwal apa yang dimaksud dengan kata-kata ini dalam pikiran Rasul Paulus banyak diperdebatkan; dan mungkin sekali kata arsenokoitai adalah kata yang diciptakan sendiri olehnya mengingat sebelum dia menulis surat 1 Korintus kira-kira di tahun 55 M tidak ada penulis lain yang telah memakainya./8/

Kalangan Kristen konservatif menafsirkan kedua kata ini overall sebagai homoseksual dalam arti seumumnya (bandingkan terjemahan arsenokoitai sebagai “homosexual offenders” dalam Alkitab New International Version yang terjemahannya sarat dengan pandangan kekristenan konservatif). Menurut mereka, para homoseksual tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, atau dengan kata lain mereka akan masuk neraka setelah kematian. Jelas, ini bukanlah sebuah tafsiran yang tepat.

Jika Rasul Paulus (menulis surat 1 Korintus sekitar tahun 55 M) bermaksud mengacu ke homoseksual, dia akan memakai sebuah kata Yunani lain yang standard, yakni kata paiderasste yang menunjuk kepada orang yang berperilaku homseksual antara lelaki dengan lelaki./9/

Septuaginta (LXX) (terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani yang dibuat antara abad ke-3 dan abad ke-1 SM) menerjemahkan kata Ibrani quadesh dalam 1 Raja-raja 14:24; 15:12; dan 22:46 ke dalam suatu kata Yunani yang kurang lebih serupa dengan kata arsenokoitai. Perikop ini dalam LXX ini mengacu ke para “pelacur lelaki yang bekerja di kuil”, yaitu kaum pria yang terlibat dalam ritual seksual di dalam kuil-kuil pagan (Indonesia: pemburit bakti)./10/

Beberapa pemimpin lain gereja perdana berpikir bahwa surat 1 Korintus juga mengacu ke para pemburit bakti di kuil-kuil pagan. Ada juga yang berpendapat bahwa arsenokoitai sebetulnya mengacu ke para pelacur laki-laki yang menerima pelanggan perempuan, suatu pekerjaan yang tampaknya umum dilakukan di dalam kekaisaran Romawi./11/ Di samping itu, sangat mungkin arsenokoitai juga mengacu ke orang-orang yang bekerja sebagai germo atau muncikari./12/

Malakoi (yang diterjemahkan sebagai “banci” dalam Alkitab TB LAI) sebetulnya mengacu ke seorang lelaki muda atau seorang anak lelaki yang terlibat dalam hubungan seksual lewat anus dengan seorang lelaki dewasa yang memilikinya sebagai budaknya. Malakoi adalah mitra seks seorang pria dewasa yang kaya raya. Dengan demikian, istilah yang kedua, arsenokoitai, dapat mengacu ke lelaki dewasa yang memiliki seorang budak yang dijadikan mitra seksualnya pada saat si lelaki dewasa ini berhasrat melampiaskan nafsu syahwatnya. Praktek seksual semacam ini, antara tuan dan budak lelaki, antara seorang pedofili dan korbannya, biasa dijumpai dalam dunia Yunani-Romawi pada era permulaan kekristenan./13/

Jelaslah, dalam 1 Korintus 6:9-10 Rasul Paulus tidak sedang mengecam dan mengutuk orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual, baik laki-laki maupun perempuan. Yang ditolak olehnya adalah para praktisi hubungan seksual dalam ritual-ritual kesuburan di kuil-kuil pagan, atau, orang-orang lelaki kaya yang memperlakukan budah-budak lelakinya sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat mereka, atau orang-orang yang bekerja sebagai muncikari. Jelas, Rasul Paulus menyamakan kedudukan semua golongan ini, yakni sebagai orang-orang yang tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, padahal anak-anak lelaki yang menjadi budak-budak pemuas nasfu seksual para tuan mereka adalah korban-korban yang patut diberi pertolongan.


1 Timotius 1:9-10

“… yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi… orang cabul dan pemburit [arsenokoitēs], bagi penculik, bagi pendusta,…”

Pandangan negatif Rasul Paulus terhadap arsenokoitēs (yang diutarakannya dalam surat 1 Korintus pada tahun 55 M, sebagaimana telah dibahas di atas) tetap dipertahankan dalam surat 1 Timotius sebagai salah satu surat pastoral yang ditulis oleh para penjaga dan penafsir warisan teologis Paulus (dua lainnya adalah 2 Timotius dan Titus) antara tahun 100–150 M, yakni paling jauh delapan puluh lima tahun setelah Paulus dieksekusi. Bagi penulis surat 1 Timotius, perilaku arsenokoitēs bertentangan dengan “ajaran yang sehat” yang disusun berdasarkan “injil Allah” (ayat 10,11)./14/


Yudas 1:7

“… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.” 
Sama seperti Kejadian 19 tidak menyatakan dengan spesifik apa dosa kota Sodom (lihat ulasannya di atas), Yudas 1:7 juga tidak dengan spesifik menyatakan apa yang disebut penulisnya sebagai “kepuasan-kepuasaan yang tak wajar”, yang tidak harus ditafsirkan, seperti tafsiran Kristen konservatif, sebagai hubungan homoseksual.

Frasa Yunani dari frasa “kepuasan-kepuasan yang tak wajar” dalam teks ini adalah sarkos heteras, yang secara harfiah, karena direndengkan dengan “percabulan” (Yunani: pornea/15/), dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “nafsu daging yang lain” atau “hasrat seksual yang tidak wajar” atau “hasrat seksual yang menyimpang” atau “syahwat yang tidak alamiah”./16/

Penulis Surat Yudas menempatkan perilaku seksual yang menyimpang ini dalam konteks peristiwa pemusnahan kota Sodom dan Gomora seperti dikisahkan dalam Kejadian 19. Dengan demikian, sarkos heteras ini dapat ditafsirkan sebagai keinginan penduduk laki-laki kota Sodom untuk memperkosa dua malaikat yang mengunjungi kota mereka. Keinginan ini sesungguhnya adalah suatu penyimpangan, karena mereka ingin menggagahi dua malaikat tuhan secara seksual, padahal mereka adalah manusia biasa sementara malaikat adalah makhluk bukan-manusia. Perlu diketahui ada sebuah legenda Yahudi kuno yang mengisahkan bahwa perempuan-perempuan Sodom juga terlibat hubungan seksual dengan para malaikat./17/

Jadi, yang dikecam dan dikutuk oleh penulis Surat Yudas bukanlah homoseksualitas, tetapi keinginan penduduk Sodom untuk bersetubuh dengan makhluk bukan manusia. Dalam hukum Taurat terdapat larangan keras manusia bersetubuh dengan binatang sebagai makhluk bukan manusia (Imamat 18:23).


Penutup

Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual sejauh homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi seksual seseorang dan sejauh perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang intim dan langgeng.  

Perlu diingat bahwa gagasan tentang “orientasi seksual” (baik sebagai gay maupun sebagai lesbian atau kalangan lainnya yang keseluruhannya terangkum sebagai kaum LGBTIQ/18/) muncul ke permukaan lalu menjadi sebuah gagasan yang makin umum baru pada abad ke-20 ketika seksualitas manusia mulai dikaji secara saintifik.

Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah binatang. Karena homoseksualitas pada binatang tentu bukan timbul karena pola pergaulan yang tak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya warna kehidupan di planet Bumi ini./19/ Jika demikian, mengapa orientasi homoseksual pada manusia harus dipandang sebagai suatu penyimpangan akhlak yang harus dikutuk atas nama suatu ajaran agama? Jadi, perlu ditegaskan bahwa orientasi homoseksual pada manusia juga sama alamiahnya dengan orientasi heteroseksual atau orientasi biseksual. Heteroseksualitas tidak bisa dijadikan norma untuk menilai dan melecehkan baik homoseksualitas maupun biseksualitas.

Masih ada sejumlah teks lain dalam Alkitab yang bisa diacu dalam rangka kajian keagamaan terhadap homoseksualitas, yakni Kejadian 1:28; Kejadian 2:18; Kejadian 2:23-24; Kejadian 9:20-29; Ulangan 23:17; 1 Raja-raja 14:24; 15:12; 22:46; 2 Raja-raja 23:7; Hakim-hakim 19:14-29; Matius 8:5-13; Matius 19:4-5; Matius 19:10-12. Silakan semua teks ini dikaji sendiri.


oleh Ioanes Rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Lihat JAMA: Gay Is Okay With APA (American Psychiatric Association); tersedia online di 

Namun patut dicatat belum lama ini (2009) para peneliti dari The National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) menegaskan bahwa “adalah mungkin baik bagi pria maupun bagi wanita untuk berubah dari homoseksual ke heteroseksual” dan bahwa “terapi untuk reorientasi seksual kelihatan bermanfaat dan tidak berbahaya, sehingga harus terus disediakan bagi orang-orang yang mencarinya.” Tapi NARTH juga menegaskan bahwa “klien yang tidak merasa tertekan oleh orientasi seksual mereka harus tidak diarahkan untuk mengubahnya oleh para profesional kesehatan mental.” Lihat artikel “What Research shows: NARTH’s Response to the APA Claims on Homosexuality” dalam Journal of Human Sexuality 1 (2009) 1-128; ringkasan artikel ini tersedia online di http://www.narth.com/docs/journalsummary.html.   

/2/Halaman 30. “Case No. S147999 in the Supreme Court of the State of California, In re Marriage Cases Judicial Council Coordination Proceeding No. 4365(…) – APA California Amicus Brief― As Filed”, padahttp://www.courtinfo.ca.gov/courts/supreme/highprofile/documents/Amer_Psychological_Assn_Amicus_Curiae_Brief.pdf

/3/Lihat “The Bible and Homosexuality: Detailed Introduction, Part 1” dihttp://www.religioustolerance.org/hom_bibi.htm; juga “The Bible and Homosexuality: Detailed Introduction, Part 2” di  http://www.religioustolerance.org/hom_bibi1.htm.

/4/Lihat “Context and analysis of Leviticus 18:22” di http://www.religioustolerance.org/hom_bibh4.htm; Paul Turner, “Seeds of Hope: ‘But Leviticus Says’”, Whosoever, di http://www.whosoever.org/seeds/letter84.shtml; dan juga Anon, “What does Leviticus 18:22 really say?”, Pamphlet, National Gay Pentacostal Alliance (NGPA), P.O. Box 20428, Ferndale, MI.

/5/ Lihat “Leviticus 20:13” di http://www. religioustolerance.org/hom_bibh3.htm.

/6/Untuk informasi tentang konteks religius kultural surat Roma, khususnya bagian-bagiannya yang mengacu ke perilaku seksual, lihat R. S. Truluck, “The six Bible passages used to condemn homosexuals”, dihttp://www.truluck.com/html/; dan artikel “Free to be gay: A brief look at the Bible and homosexuality”, Universal Fellowship of Metropolitant Community Churches”, di http://www.ualberta.ca/~cbidwell/UFMCC/.  

/7/Lihat “Romans 1:26-27. Introduction” pada http://www.religioustolerance.org/ hom_bibc3.htm.

/8/Lihat artikel “Homosexuality in the Christian Scriptures, the ‘clobber passages’, 1 Timothy 1:9-10” dihttp://www/religioustolerance.org/hom_bibc7.htm.

/9/Lihat tafsiran 1 Korintus 6:9-10 dalam http://www.relgioustolerance.org/hom_bibc1.htm.

/10/ Paul Thomas Cahill, “An Investigation into the Bible and homosexuality” di http://www.christianlesbians.com/.

/11/Lihat artikel “Meanings of the Greek word ‘arsenokoitai’ (1 Corinthians 6 and 1 Timothy 1)” dihttp://www.religioustolerance.org/homarsen.htm

/12/ Lihat artikel “How to be true to the Bible and say ‘Yes’ to same-sex unions”, dihttp://members.aol.com/DrSwiney/bennett.html; lihat juga “Celebrating diversity: texts recently applied to homosexuality”, di http://members.tripod.com/~uniting/resource/bible.html.

/13/ Paul Thomas Cahill, “An Investigation into the Bible and homosexuality” di http://www.christianlesbians.com/; lihat juga Justin Cannon, “The Bible, Christianity and Homosexuality”, di http://www.truthsetsfree.net/study.html.  

/14/ Selain sumber-sumber yang sudah dirujuk di atas, kajian atas kata arsenokoitēs juga dapat dilihat pada “Homosexuality in the Christian Scriptures, the ‘clobber passages’, 1 Timothy 1:9-10” dihttp://www.religioustolerance.org/hom_bibc7.htm.

/15/ Untuk berbagai kemungkinan arti kata pornea, lihat kata “fornication” dalam The American Heritage® Dictionary of the English Language, edisi keempat, di http://www.dictionary.com/; dan Strong’s Concordance dihttp://www.freedom2201.tripod.com/.   

/16/ Dalam The New Oxford Annotated Bible Revised Standard Version (editor: Herbert G. May & Bruce M. Metzger) (New York: Oxford University Press, 1962, 1973), frasa sarkos heteras pada Yudas 1:7 diterjemahkan sebagai “unnatural lust” (begitu juga NRSV edisi 1989). Harper Collin’s New Revised Standard Version of the Bible memberi komentar pada catatan Yudas 1:7 demikian, “Orang-orang Sodom mencoba berhubungan seks dengan para malaikat”.  

/17/ Untuk tafsiran ini, lihat komentar atas Yudas 1:7 pada http://www.religioustolerance.org/hom_bibc2.htm.  

/18/ LGBTIQ = Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer.

/19/ Tentang homoseksualitas pada hewan, dua links ini menyediakan banyak informasi berharga:http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexual_behavior_in_animals dan 

Tuesday, April 17, 2012

Perginya Bapak Toleransi Mesir

http://cetak.kompas.com/read/2012/03/29/02101659/perginya.bapak.toleransi.mesir
KOMPAS, 29 Maret 2012


Hasibullah Satrawi, 
Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir; Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta



Pada hari Sabtu, 17 Maret 2012, berita duka datang dari Mesir, mengembuskan rasa berkabung ke seluruh dunia. Berita duka itu tak lain adalah meninggalnya Paulus Shenouda III, pemimpin tertinggi Kristen Koptik Alexandria, Mesir, dalam usia 89 tahun.

Surat kabar harian terkemuka di Mesir, Al-Ahram, melansir sejumlah ucapan belasungkawa dan duka mendalam dari banyak pihak. Mulai dari tokoh-tokoh terkemuka di Mesir, dunia Arab, hingga dari Gedung Putih, Amerika Serikat.

Bahkan, para pemimpin Ikhwan Muslimin yang dalam beberapa tahun lalu (sebelum terjadi revolusi 25 Januari 2011) kerap bersitegang dengan kelompok Kristen Koptik juga menyampaikan rasa kehilangan atas meninggalnya Shenouda III (Al-Ahram, 18/3).

Simbol Toleransi

Bagi pihak-pihak yang mengimani pentingnya toleransi demi terwujudnya kehidupan umat beragama yang damai, ramah, dan saling menghormati, wafatnya Paulus Shenouda III tak sekadar peristiwa kematian biasa. Lebih dari itu, wafatnya Paulus Shenouda III bisa berarti juga meninggalnya toleransi. Khususnya di Mesir mutakhir pascarevolusi yang sampai sekarang terus dilanda pelbagai macam aksi kekerasan. Baik kekerasan yang bersifat sosial-politik maupun kekerasan yang bersifat sosial-keagamaan.

Paulus Shenouda III selama ini berperan sangat besar bagi terciptanya kerukunan umat beragama di Mesir, khususnya antara umat Islam dan kalangan Kristen Koptik. Bersama-sama dengan tokoh keagamaan lain di Mesir, Paulus Shenouda III terus berjuang untuk menumbuhkan dan menjaga rasa persaudaraan di kalangan masyarakat Mesir. Hingga akhirnya masyarakat Mesir tidak terjebak dalam semangat sektarianistik yang bisa memecah belah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok agama, keyakinan, aliran, dan lainnya.

Sungguh tidak berlebihan apabila Imam Besar Syeikh Al-Azhar sekarang, Dr Ahmad Thayyib, menyebut wafatnya Paulus Shenouda III sebagai berita duka bagi seluruh masyarakat Mesir, baik yang beragama Islam maupun Kristen. Bahkan, Ahmad Thayyib menyebut Paulus Shenouda III sebagai simbol dan contoh tokoh toleransi sejati.

Selama lebih kurang empat tahun di Mesir (1999-2004), penulis menyaksikan dan merasakan langsung teladan toleransi dari tokoh agama di Mesir—termasuk Paulus Shenouda III—yang senantiasa mendapatkan liputan masif dari media di sana. Khususnya pada momen-momen keagamaan, seperti Lebaran bagi umat Islam dan Natal bagi umat Kristiani.

Pada momen-momen penting seperti hari besar keagamaan, segenap pemuka agama di Mesir kerap memberikan ucapan selamat secara bergantian. Paulus Shenouda III, contohnya, kerap mengucapkan selamat merayakan ibadah puasa atau berlebaran bagi umat Islam. Sebaliknya, para pemuka umat Islam, seperti mantan Imam Besar Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi (yang telah meninggal dunia lebih dulu), juga kerap menyampaikan ucapan selamat Natal bagi umat Kristiani.

Teladan toleransi keagamaan seperti di atas mempunyai dampak psikis yang sangat besar bagi kehidupan umat beragama sehingga tumbuh semangat toleransi dan saling menghormati di kalangan umat beragama. Apalagi, teladan toleransi dari para pemuka agama tersebut kerap mendapatkan liputan yang cukup besar oleh media setempat. Inilah yang sampai sekarang belum banyak terjadi di dunia Islam lain, termasuk di Indonesia.

Di satu sisi, teladan toleransi dari para pemuka agama harus diakui memang masih sangat terbatas di Indonesia; justru yang jamak adalah pengharaman ucapan selamat atas hari raya umat agama lain. Sementara di sisi lain, pemberitaan media tentang toleransi juga masih sangat terbatas; justru yang jamak adalah pemberitaan tentang kawin-cerai artis, korupsi para elite bangsa, dan berita kriminalitas atau kekerasan.

Oleh karena itu, jangan heran apabila kehidupan masyarakat di negeri ini penuh dengan suasana konfliktual yang bersifat destruktif, bahkan anarkistis. Hal itu dimungkinkan mengingat mereka memang sangat jarang mendapatkan suguhan yang bersifat positif, seperti teladan toleransi. Alih-alih, yang terjadi justru segenap elite dan para pemimpin bangsa kerap mempertontonkan hal-hal yang sangat tidak pantas dilihat oleh masyarakat luas.

Krisis Tokoh 

Dalam kondisi seperti sekarang, meninggalnya Paulus Shenouda III akan semakin menambah berat beban tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat Mesir ke depan. Setidaknya, wafatnya Paulus Shenouda III akan semakin membuat Mesir masuk lebih dalam ke jurang ”krisis tokoh panutan”.

Sebagaimana dimaklumi, pascarevolusi 25 Januari 2011, Mesir mengalami krisis tokoh panutan yang sangat serius. Di kalangan para pemuda yang menjadi motor utama revolusi, misalnya, hampir tidak ada tokoh panutan yang disegani. Justru yang banyak ditemukan adalah ”orang-orang biasa” yang kerap mengklaim sebagai ”tokoh panutan”.

Inilah yang bisa menjelaskan pelbagai macam rentetan aksi kekerasan yang senantiasa terjadi di Mesir pasca-lengsernya Hosni Mubarak. Mulai dari aksi kekerasan yang terjadi di pusat-pusat pemerintahan hingga aksi kekerasan yang terjadi di lapangan sepak bola. Mulai dari kekerasan yang bersifat sosial-politik hingga kekerasan yang bersifat sosial-keagamaan.

Terlebih lagi reformasi seperti yang terjadi di Mesir saat ini memberikan kebebasan kepada siapa pun dan kelompok apa pun untuk memperjuangkan apa yang diyakininya, termasuk di dalamnya kelompok-kelompok terlarang, seperti Ikhwan Muslimin dan kelompok salafi yang justru berhasil menguasai hampir 70 persen kursi parlemen.

Dalam kondisi seperti ini, Mesir sangat membutuhkan adanya tokoh panutan untuk memastikan bahwa semua kebebasan yang diperjuangkan hanya untuk kemaslahatan bangsa, persatuan nasional, serta kerukunan masyarakat di semua agama dan keyakinannya. Jika tidak, kebebasan yang ada hanya akan memicu pelbagai macam aksi kekerasan seperti yang selama ini kerap terjadi.

Apa boleh buat, kematian tetaplah kematian. Jika waktunya tiba, ia pasti terjadi tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya. Kematian tidak dapat ditahan oleh kebaikan atau bahkan oleh keyakinan.

Kini, Paulus Shenouda III telah mencapai finis kehidupan dan perjuangannya. Beliau tidak tahan untuk tidak segera menyusul teman seperjuangannya, Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan Iman Besar Al-Azhar, yang telah pergi terlebih dahulu sejak dua tahun lalu.

Selamat jalan Bapak Toleransi. Semoga yang ditingggalkan dapat melalui jalan toleransi yang telah engkau lapangkan, termasuk bangsa Indonesia.



Sunday, April 08, 2012

Manusia, Penyumbang Bakteri Terbesar

http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/04/06/87661/Manusia-Penyumbang-Bakteri-Terbesar/11
Jumat, 6 April 2012 16:36 WIB





TAHUKAH Anda, manusia merupakan penyumbang nakteri terbesar di dunia? Masing-masing orang menambahkan 37 juta bakteri setiap jam. Nah, bayangkan berapa banyak bakteri di sekitar kita saat ini.

Pada abad 18, seorang dokter asal Skotlandia, mengatakan debu bisa menghancurkan manusia lebih dahsyat ketimbang bubuk mesiu. Ia sebenarnya tak yakin dengan pernyataannya itu. Tapi ia sadar kejadian itu 100 persen nyata.

Seorang perofesor di bidang teknik lingkungan dari Yale University, Jordan Pecchia, mengatakan kita hidup dalam 'microbial soup'. Sebagai mikroorganisme, kita jarang membersihkan rumah. Sehingga banyak debu yang menempel di lantai dan menjadi sumber bakteri. Padahal kita kerap beraktivitas di rumah.

Pecchia membutuhkan waktu delapan hari menganalisa dan menghitung jumlah partikel biologis itu di lantai dasar auditorium universitas. Ruangan itu dikosongkan selama empat hari. Jendela dan pintu tidak dibuka selama eksperimen berlangsung. Tapi sistem HVAC tetap beroperasi secara normal.

Dari eksperimen tersebut, peneliti menyimpulkan konsentrasi bakteri dan jamur dengan berbagai ukuran meningkat secara signifikan di dalam kelas. Menurut Pecchia, sekitar 18 persen dari seluruh emisi bakteri yang diproduksi manusia. Empat dari dari 15 jenis bakteri paling umum termasuk Propionibacterineae. Bakteri jenis itu ditemukan di kulit manusia.

Pecchia mencatat manusia 'menerima' bakteri pemicu berbagai penyakit terutama dari udara yang mereka hirup dalam ruangan, bukan di jalan. 

Jadi, membersihkan ruangan lebih sering akan menjadi langkah awal yang lebih baik. Menurut data statistik, 90 persen waktu orang Amerika dihabiskan di dalam ruangan, baik rumah maupun kantor.

Thursday, April 05, 2012

Ini Dia 7 Tempat Perayaan Paskah Terbaik di Dunia

http://travel.detik.com/read/2012/04/05/133357/1885954/1025/ini-dia-7-tempat-perayaan-paskah-terbaik-di-dunia?991104topnews

  • Oleh: Dicky Ardian - detikTravel
  • Kamis, 05/04/2012 13:45:00 WIB


Hari raya Paskah akan segera diperingati umat Kritiani di seluruh dunia. Masing-masing tempat, punya tradisi unik tiada dua. Inilah 7 tempat terbaik di dunia untuk merayakan Paskah.
Dari berbagai tempat dunia, ada 7 tempat yang dianggap paling menggambarkan nuansa Paskah seperti dikutip dari momondo.dk, Kamis (5/3/2012):
1. Karnaval Paskah, Jamaika
Kemeriahan karnaval saat Paskah di Jamaika (Puma/momondo.dk)
Karnaval Paskah merupakan perayaan budaya terbesar di Jamaika yang ada sejak tahun 1990. Perayaan yang selalu berlangsung meriah ini biasanya diikuti lebih dari 100.000 pengunjung.
Parade dengan iring-iringan band-band lokal berkostum unik ini dimulai dari ibu kota negara, Kingston dan berakhir di Pantai Jouvert. Parade tersebut dimulai dari pagi hingga sore hari.
Uniknya, band-band pengisi acara memainkan musik khas Jamaika, yaitu reggae. Sehingga semua pengunjung yang datang tampak bergembira dan ikut bergoyang bersama.
Tradisi unik lainnya adalah memakan kayu manis dengan roti yang dilumuri keju. Makanan ini menjadi makanan wajib selama perayaan Paskah di Jamaika.
2. Semana Santa, Sevilla, Spanyol
Semana Santa, Sevilla, Spanyol (Sacred Destinations/momondo.dk)
Minggu suci hingga hari Paskah adalah salah satu perayaan yang paling penting dan spektakuler di Kota Sevilla, Spanyol. Acara ini sudah berlangsung selama berabad-abad dan selalu berhasil menarik lebih dari 1 juta orang pengunjung.
Perayaan ini dimulai pada Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah. Pada minggu-minggu itu, masyarakat ramai-ramai berziarah ke Katedral di Kota Sevilla yang merupakan Katedral terbesar ketiga di dunia.
Acara puncak pada perayaan ini dimulai saat Kamis tengah malam sebelum hari Paskah, di mana 60.000 biarawan berpartisipasi dalam perayaan tersebut.
3. Sao Bras de Alportel, Portugal
Sao Bras de Alportel, Portugal (Dave Appleton/momondo.dk)
Walaupun berlokasi di kota kecil yang terletak di sebelah timur Pulau Algarve di Portugal, namun kota ini selalu berhasil menarik banyak pengunjung dengan perayaan Paskah yang unik.
"Yesus bangkit!" dan "Hallelujah!" terdengar bersahutan di jalan-jalan kota ini. Pria-pria memegang obor dihiasi dengan bunga sambil berkeliling kota.
4. Parade Paskah, New York, Amerika Serikat
Parade Paskah, New York, Amerika Serikat (xrrr/momondo.dk)
Parade Bonnet Easter merupakan parade pada perayaan Paskah di Kota New York yang sudah ada sejak tahun 1870. Demi perayaan unik ini, sepanjang Jalan 5th Avenue ditutup untuk lalu lintas.
Di sana, Anda bisa melihat ribuan pengunjung menggunakan topi berwarna-warni. Tak ketinggalan, hewan peliharaan mereka, seperti anjing, kucing, bahkan ular, dirias memakai topi seperti pemiliknya. Anda juga dapat ikut turun ke jalan untuk menyaksikan parade.
Setelah puas dengan parade Paskah, Anda bisa berjalan-jalan ke Central Park dan mengikuti acara Paskah lainnya, yaitu Easter Extravangaza. Di sana terdapat banyak permainan yang menyenangkan untuk anak-anak.
5. Scoppio del Carro, Florence, Italia
Scoppio del Carro, Florence, Italia (-DjD-/momondo.dk)
Tradisi unik ini sudah ada di Kota Florence, Italia, sejak abad ke-11. Jika diartikan, Scoppio del Carro adalah ledakan keranjang. Di mana keranjang-keranjang yang tadinya tersusun rapi diledakan hingga memunculkan api suci.
Pada pagi hari tepat di Hari Paskah, puluhan keranjang antik yang berumur lebih dari 500 tahun digiring melalui jalan-jalan di Kota Florence menggunakan lembu-lembu berwarna putih. Keranjang tersbut dibawa menuju Ketedral Santa Maria del Fiore untuk menghiasi Misa. 
Setelah Misa selesai, keranjang tersebut diledakkan dengan suara yang sangat dahsyat. Menurut legenda populer di Italia, jika acara tersebut berjalan dengan baik, maka tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan kemakmuran bagi rakyat Florence.
6. San Miguel de Allende, Meksiko
Perayaan Pekan Suci di kota kolonial, San Miguel de Allende, Meksiko, selalu berhasil menarik pengunjung dari seluruh dunia. Hal itu, terutama karena peristiwa dramatis yaitu penderitaan Kristus di kayu Salib.
Minggu kedua sebelum Paskah, patung Yesus diarak keliling kota dari Kota Atotonilco. Lalu, dua minggu berikutnya dipindahkan ke gereja-gereja di sekitar Kota San Miguel de Allende.
Pada Jumat Agung, setiap gereja menyelenggarakan prosesi seperti majelis jemaat, tidak ada perayaan mewah saat hari tersebut. Namun, perayaan puncaknya pada hari Minggu Paskah dengan perayaan Firing of The Judases.
Dalam perayaan ini, tokoh-tokoh sejarah yang jahat bahkan hingga politisi yang dibenci dibuat menjadi manekin dari bubur kertas. Manekin tersebut kemudian diledakan dengan petasan sebagai bentuk pemberontakan. Perayaan ini berlangsung selama empat hari dan berakhir pada hari Rabu di minggu setelahnya.
7. Antigua, Guatemala
Sebagian besar masyarakat Guatemala merupakan penganut agama Katolik. Jadi sudah sepantasnya jika perayaan Paskah selalu digelar secara meriah.
Batu-batu di depan halaman rumah masyarakat dihiasi dengan bunga-bunga berwarna cerah dan dipenuhi dengan pengunjung yang ingin menyaksikan prosesi perayaan. Para pria membawa patung Kristus berukuran besar mengelilingi kota yang beralaskan karpet merah. Prosesi tersebut dilaksanakan sebagai penebusan dosa mereka di tahun terakhir.

Wednesday, April 04, 2012

Kota Tua Jerusalem, Via Dolorosa, dan The Last Supper

http://gayahidup.liputan6.com/read/385305/kota-tua-jerusalem-via-dolorosa-dan-the-last-supper
Vincent Hakim





Liputan6.com, Jerusalem: Kota Tua Jerusalem sudah terlihat di depan mata. Benteng yang kokoh memanjang dan tegar berdiri seolah menaungi sejarah panjang Kota Suci ini. Suasananya benar-benar klasik, tak ada basa-basi dan dibiarkan natural seperti apa adanya. Di Jerusalem, modernisasi dan kondisi tradisional dibiarkan tumbuh bersama dan dipelihara dengan baik. 

Kendaraan kami berhenti di suatu tempat, lalu kami turun dan berjalan sedikit menyusuri sebuah pasar tradisional di Kota Lama Jerusalem menuju ke suatu perkampungan bernama Via Dolorosa yang berarti Jalan Salib atau Jalan Duka. 

Sebutan Via Dolorosa atau Jalan Salib itu berkaitan dengan suatu peristiwa sejarah Perjalanan Salib Yesus. Peristiwa sejarah ini kemudian diimani oleh umat Katolik dan Kristen sebagai suatu rangkaian peristiwa imani dalam kerangka Karya Penyelamatan Allah bagi umat manusia. 

Di Via Dolorosa ini terdapat beberapa tempat yang diyakini sebagai lokasi rangkaian Perjalanan Salib Yesus. Dimulai dari depan Benteng Antonia tempat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh penguasa Kerajaan Romawi pada saat itu Pontius Pilatus dengan cara disalib, 2.000 tahun silam, kemudian proses perjalanan Yesus memanggul salib sambil menerima siksaan dari para tentara Romawi, hingga Yesus disalibkan di puncak bukit Kalvari atau dalam bahasa Yunani disebut Golgota yang letaknya di luar benteng Kota Tua. Di puncak Kalvari itulah, kemudian Yesus wafat, dimakamkan, lalu bangkit dan naik ke surga. 
Tempat-tempat yang disebut dengan Stasi atau Pemberhentian Perjalanan Salib itu kini dijadikan gereja-gereja kecil. Semuanya ada 14 stasi. Tradisi ziarah Jalan Salib ini mulai populer sejak abad ke-16. 

Jalanan di Via Dolorosa berupa lorong-lorong yang seolah dibentengi oleh tembok-tembok kuno yang kokoh di kiri kanannya itu membawa suasana begitu klasik. 

Lantai jalanan setapak itu terlihat mengkilap. Mungkin karena terinjak-injak ribuan peziarah dari seluruh dunia setiap harinya. 

Menurut guide yang mengantar kami, jalanan setapak itu memang dibiarkan sebagaimana aslinya dulu. Begitu pula tembok kiri kanan di sepanjang lorong Via Dolorosa. Meskipun semuanya itu sudah mengalami pemugaran beberapa kali. 

Di sepanjang lorong jalan setapak kawasan Via Dolorosa banyak para pedagang menjajakan berbagai macam suvenir terutama yang berkaitan dengan perziarahan. Para pedagang itu adalah warga Israel keturunan Arab dan Armenia. 


Usai mengikuti Perjalanan Salib Yesus di Via Dolorosa, saya melanjutkan napak tilas Yesus ke Kolam Bethesda dan Bukit Zaitun tempat Yesus ditangkap para prajurit Romawi. Dari bukit ini tampak jelas Lembah Kidron yang menjuntai memisahkan makam Muslim di bagian bawah dan Makam Yahudi di atas. Saya bisa melihat pemandangan indah punggung benteng Kota Tua Jerusalem, Kubah Kuning Dome of The Rock, dan kubah kehijauan Masjid Al Aqsa. Saat mentari menyinari kawasan ini pagi hari, betapa indah bagai siraman cahaya jatuh dari langit. 
Ketika hari menjelang siang saya beranjak menuju Holy Sepulchre atau Makam Kudus, lalu ke Ascention Chapel yang juga disebut Kapel Kenaikan Yesus ke surga. Tak terlalu jauh dari situ, saya pun melanjutkan perjalanan setapak menuju Pater Noster Church tempat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada para muridnya untuk pertama kali. Tempat ini sangat penuh oleh wisatawan peziarah dari berbagai negara. 

Yang tak akan mungkin saya lewatkan adalah melihat tempat Yesus dipenjarakan yakni di St Peter Galicantu. Penjara itu terletak di bawah tanah. Setelah itu barulah mengunjungi Taman Gethsemane yang menurut Kitab Suci Injil merupakan tempat Yesus berdoa sebelum disalibkan. 

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Udara sore menjelang pukul 16.00 waktu setempat di akhir Februari terasa sangat dingin apalagi angin berembus kencang. Tapi saya harus melihat dulu, tempat Yesus makan bersama ke duabelas rasul-Nya di Last Supper Room atau Ruang Perjamuan Terakhir yang letaknya berdekatan dengan makam Raja Daud atau David Tomb. 

Kisah Perjamuan Terakhir ini menginspirasi perupa Leonardo da Vinci untuk menggoreskan lukisan yang amat terkenal itu: The Last Supper.

Tuesday, April 03, 2012

Volcanic plumbing exposed

http://www.leeds.ac.uk/news/article/3088/volcanic_plumbing_exposed
Published Friday 30th March 12






Two new studies into the “plumbing systems” that lie under volcanoes could bring scientists closer to predicting large eruptions.
International teams of researchers, led by the University of Leeds, studied the location and behaviour of magma chambers on the Earth's mid-ocean ridge system - a vast chain of volcanoes along which the Earth forms new crust.
They worked in Afar (Ethiopia) and Iceland - the only places where mid-ocean ridges appear above sea level. Volcanic ridges (or "spreading centres") occur when tectonic plates "rift" or pull apart. Magma (hot molten rock) injects itself into weaknesses in the brittle upper crust, erupting as lava and forming new crust upon cooling.
Magma chambers work like plumbing systems, channelling pressurised magma through networks of underground "pipes".  
The studies, published in Nature Geoscience, reveal new information about where magma is stored and how it moves through the geological plumbing network.  Finding out where magma chambers lie and how they behave can help identify early warning signs of impending eruptions.
Scientists used images taken by the European Space Agency satellite Envisat to measure how the ground moved before, during and after eruptions. Using this data, they built and tested computer models to find out how rifting occurs.
Data in one study showed magma chambers that fed an eruption in November 2008 in the Afar rift of Northern Ethiopia were only about 1 km below the ground. The standard model had predicted a depth of more than 3 km.
It is highly unusual for magma chambers to lie in shallow depths on slow spreading centres such as the Afar rift, where tectonic plates pull apart at about the same speed as human fingernails grow.
Dr Carolina Pagli from the University of Leeds' School of Earth and Environment, who led the study, says: "It was a complete surprise to see that a magma chamber could exist so close to the Earth's surface in an area where the tectonic plates move apart so slowly. The results have changed the way we think about volcanoes."
Dr Pagli also noticed that the ground started "uplifting" (elevating) four months before the eruption, due to new magma increasing pressure in one of the underground chambers. Understanding these precursory signals is fundamental to predicting eruptions.
A wider study of eruptions in Afar and Iceland, two vastly different environments, found remarkable similarities. Many events occurred within a short space of time. Researchers identified multiple magma chambers positioned horizontally and vertically, allowing magma to shoot in several directions. Moving magma triggered earthquakes, and separate magma chambers fed single eruptions.
The 2008 eruption is part of an unusual period of recent volcanic unrest in Ethiopia, and is enabling scientists to learn more about volcanoes at spreading centres. Most spreading centres are under 2 km of water at the bottom of the ocean, making detailed observations extremely  challenging. The new knowledge derived from Ethiopian volcanoes will help scientists understand volcanoes in Iceland, where eruptions can have a bigger impact on the UK.
Dr Tim Wright from the School of Earth and Environment, who leads the international Afar Rift Consortium, said: "The dramatic events we have been witnessing in Afar in the past six years are transforming our understanding of how the crust grows when tectonic plates pull apart. Our work in one of the hottest place on Earth is having a direct impact on our understanding of eruptions from the frozen volcanoes of Iceland."
The studies were funded by the UK Natural Environment Research Council through the Afar Rift Consortium, the National Centre for Earth Observation, the US National Science Foundation, the UK Royal Society, and the Icelandic Research Fund.

Geophysical constraints on the dynamics of spreading centres from rifting episodes on land by Tim J Wright, Freysteinn Sigmundsson, Carolina Pagli, Manahloh Belachew, Ian Hamling, Bryndis Brandsdottir, Derek Keir, Rikke Pedersen, Atalay Ayele, Cindy Ebinger, Pall Einarsson, Elias Lewi and Eric Calais is published in Nature Geoscience, doi: 10.1038/NGEO1428
Shallow axial magma chamber at the slow-spreading Erta Ale Ridge by Carolina Pagli, Tim J Wright, Cynthia J Ebinger, Sang-Ho Yun, Johnson R Cann, Talfan Barnie and Atalay Ayele is published in Nature Geoscience, doi: 10.1038/NGEO1414