Thursday, March 06, 2014

Beras Cerdas

Mau tahu 'beras cerdas' dari Jember?

http://www.tempo.co/read/news/2011/07/04/095344668/Mau-tahu-beras-cerdas-dari-Jember

TEMPO.CO, Jember - Seorang dosen dan peneliti Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej), Ir. Achmad Subagio, MAgr. Ph.D, berhasil menciptakan beras tiruan dari ubi kayu atau ketela. Dalam waktu dekat, beras tiruan itu akan diujicobakan kepada masyarakat di sejumlah kabupaten di Jawa Timur. "Kami bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Jawa Timur," kata Subagio, Senin, 04 Juli 2011.

Beras tiruan pengganti beras asli itu, kata dia, secara resmi akan diluncurkan kepada publik pada saat peringatan Hari Pangan Sedunia bulan Oktober mendatang. Beras analog (analogue rice/mimetic rice) buatan Bagio itu, diberi nama 'Beras Cerdas'.

Doktor lulusan Osaka Prefecture University-Jepang itu mengungkapkan beras tiruan buatannya itu memiliki 'lima kecerdasan'. Pertama, cerdas dalam bahan baku, beras tiruan itu dibikin dari tepung lokal, berbahan lokal yakni Mocaf dan bahan alami lain yang bisa diperoleh atau ada di daerah di Indonesia, seperti sayuran. Kedua, cerdas dalam proses pembuatan. "Saya jamin, seperti halnya Mocaf, teknologi pembuatannya, simpel, bisa diproduksi massal oleh industri besar dan kecil seperti usaha kecil dan menengah (UKM)," katanya.

Ketiga, cerdas dalam cara memasaknya dan mempersiapkan, artinya produk itu bisa dimasak secara sederhana seperti memasak beras atau mie instan yang cukup menggunakan dengan 'rice cooker' atau panci masak. Keempat, beras itu juga cerdas dalam pemanfaatan kesehatan, dan kelima, cerdas untuk tujuan pembangunan nutrisi, eknomi dan kesejahteraan rakyat.

Untuk dua 'kecerdasan' yang terakhir itu, kata Subagio, terbukti dari hasil penelitian dan percobaannya yang saat ini sudah mencapai 95 persen. "Kita melihat peluang lain, bahwa mocaf jadi beras cerdas, itu ternyata bisa 'dimainkan',"katanya.

Artinya, beras bikinannya itu bisa dikombinasikan dengan bahan lain agar bisa sesuai atau disesuaikan dengan selera, juga kebutuhan konsumsi karbohidrat secara umum dan kebutuhan khusus. Misalnya untuk kebutuhan khusus masayarakat yang rawan gizi atau mengalami gizi buruk, beras tiruan itu ditambah dengan sumber protein, yodium dan zat besi. "Begitu juga untuk penderita kolesterol atau diabetes, autis serta ibu hamil dan menyusui, dengan mudah ditambahkan unsur yang dibutuhkan, dan diambilkan dari bahan lokal juga. "Untuk ibu hamil dan menyusui, misalnya kita tambahkan sayur katu, dan sayuran lain yang banyak mengandung asam folat," katanya memberi contoh.

Soal kandungan dan prosesnya, Subagio kembali meyakinkan bahwa semuanya terjamin higienis, organik alias alami. Karenanya, dia berani menyatakan bahwa beras cerdas itu memiliki kandungan gizi lebih daripada beras. Selain kandungan karbohidrat dari tepung mocaf, juga beras, ditambah bahan-bahan alami lain, yang mengandung protein, antioksidan, vitamin dan mineral. "Jelas begitu (lebih). Apalagi, 25 sampai 30 persen beras cerdas ini bahannya juga dari beras padi,"katanya.

Sejauh ini uji coba secara laborat, mahasiswa dan dosen menyatakan tidak ada masalah dengan cita rasa beras tiruan itu. Cita rasanya khas, tidak ada aroma dan rasa ubi kayu atau ketela. Dan yang penting, mampu mengenyangkan seperti habis mengkonsumsi nasi dari beras.

Saat Tempo mencicipi beras cerdas yang sudah matang, rasanya mirip seperti mengkonsumsi nasi ketan. Terasa sedikit 'lengket' di gigi saat mengunyah. Namun tetap gurih dan terasa hambar seperti makan nasi putih atau nasi jagung tanpa lauk. Ketika uap makanan itu diendus, sama sekali tak tercium aroma ketela atau singkong.

Bentuk 'beras cerdas' itu, sejauh ini diakui memang belum 100 persen sama persis dengan beras dari gabah yang telah digiling atau dikelupas kulitnya. Secara fisik, beras timan itu mirip pelet yang biasa dijadikan pakan ternak atau ikan."Kami sedang menunggu penyelesaian alat yang dibuat rekan dari Universitas Brawijaya, agar bentuknya nanti mirip atau menyamai beras asli,"kata Subagio.

Setelah nanti diproduksi secara massal, berapa harga beras tiruan itu? Dosen dan peneliti senior Fakultas Pertanian Unej itu, menjamin setara dengan harga beras. Setelah menghitung komponen mocaf, beras, dan ongkos produksi, beras cerdas untuk konsumsi umum, katanya, bisa dilepas dengan harga sekitar Rp 6 ribu per kilogram, atau setara dengan beras jenis medium. Namun untuk kebutuhan khusus, bisa lebih dari itu, misalnya untuk penderita autis, dan diabetes," katanya.

Subagio optimistis, gagasan yang akan diwujudkan bersama DKP Jawa Timur itu, akan bisa diproduksi dan diterima masyarakat luas.

Mahbub Djunaidy


Beras Cerdas dari Singkong

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/02/02350796/Beras.Cerdas.dari.Singkong

Walau di sekitar rumahnya banyak tertanam singkong, Jatima (46) alias B Saiful, warga Dusun Sembilangan, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengaku belum pernah merasakan nikmatnya makan nasi dari beras cerdas. Padahal, bahan baku beras cerdas berasal dari singkong, tetapi rasanya menyerupai nasi dari olahan padi.
Jatima dan 50 orang lebih warga Desa Panduman, pekan lalu, bersama Kepala Desa Panduman Hj Murtini, Rektor Universitas Jember Moh Hasan, dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Ahmad Subagio, serta Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Jawa Timur Apriyanto mengakui rasa nasi dari beras cerdas sangat enak. Warga yang merasakan nasi itu pun tak mengira, bahan baku beras tersebut dari singkong.
Sebagian besar warga beranggapan beras cerdas seperti nasi tiwul atau rasa gaplek. Namun, ternyata rasanya lebih enak daripada nasi dari padi beras untuk keluarga miskin (raskin). ”Jauh bedanya jika dibandingkan dengan beras pembagian. Rasa nasi dari beras cerdas ini tak kalah dari rasa nasi beras pulen,” kata Jatima.
Saat itu, mereka merasakan menu nasi cerdas dengan berbagai lauk yang disediakan di Balai Desa Panduman, seperti ikan asin goreng, orem-orem, sambal terasi, kerupuk, rempeyek, dan pepes tongkol. ”Lebih enak lagi kalau nasi cerdas dibuat nasi goreng dan diberi sosis. Lebih nikmat daripada nasi goreng dengan bahan baku beras,” kata Murtini. Kepala Desa Panduman itu pun tidak segan-segan mengundang warganya belajar memasak beras cerdas dengan aneka resep.
Teknologi cerdas
Beras cerdas adalah beras restrukturisasi dari beragam bahan baku, alami, dan asli Indonesia. Beras ini diproses dengan teknologi yang cerdas sehingga lebih bergizi dan lezat. Ahmad Subagio mengatakan, beras cerdas memiliki beberapa konsep. Pertama, cerdas dalam bahan baku karena beras itu dikonstruksikan dari tepung lokal modified cassava flour (mocaf) atau tepung singkong. Bahan baku juga bisa disesuaikan dengan kekayaan pangan daerah.
Kedua, cerdas dalam proses karena beras itu diproses dengan teknologi yang bertingkat dari rendah hingga tinggi. Jadi, bisa diproduksi dengan peralatan yang bisa dibuat sendiri oleh warga. Ketiga, cerdas dalam cara masak karena dapat dimasak dengan cara sederhana, seperti kebiasaan orang Indonesia dalam mengolah beras. Keempat, cerdas dalam pemanfaatan bagi kesehatan. Bahan baku yang cerdas itu bisa disesuaikan untuk target spesifik kesehatan tertentu, seperti mengatasi malanutrisi.
”Beras cerdas yang dimasak secara tradisional menghasilkan nasi dengan rasa, aroma, warna, dan ketampakan yang lebih disukai daripada yang dimasak dengan rice cooker,” kata Ahmad Subagio.
Beras cerdas ditemukan tim peneliti di Universitas Jember saat mengolah mocaf tahun 2004. Penelitian lanjutan membuktikanmocaf bisa digunakan sebagai bahan sumber pangan pokok, yaitu beras cerdas. Caranya dengan mencampurkan mocaf, jagung, protein susu, dan bahan tambahan untuk meningkatkan kandungan protein dan sifat fungsionalnya. Saat ini, bekerja sama dengan BKP pusat, Kementerian Pertanian dan BKP Jawa Timur mendirikan empat pabrik model, masing-masing berkapasitas dua ton per hari di Kabupaten Jember, Ponorogo, dan Blitar, Jawa Timur.
Beras cerdas diperkenalkan kepada warga di Jawa Timur melalui program peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan sasaran keluarga miskin. Di Kecamatan Jelbuk dan Sumber Baru, Jember, setiap keluarga sasaran menerima bantuan BKP sebanyak 10 kilogram beras cerdas. Ini bukan pengganti raskin.
Mewakili warganya, Murtini mengaku keberatan jika harga beras cerdas Rp 7.000 per kilogram (kg). ”Apabila harga beras cerdas Rp 5.000/kg, mungkin rakyat kami banyak yang membeli,” kata dia lagi.
Ahmad Subagio mengakui, harga beras cerdas bagi warga pedesaan memang masih berat. Masalahnya pada bahan baku. Tepung singkong sekarang mencapai Rp 4.000/kg. Setelah diproses, harga pokok beras cerdas menjadi Rp 6.500/kg. ”Harga singkong sudah tinggi karena pemerintah tak mendorong masyarakat menanam singkong. Apalagi kini Indonesia mengimpor singkong pula,” keluhnya. (syamsul hadi)

Beras Cerdas

http://ariewidayanti.blogspot.com/2013/04/beras-cerdas.html

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Sosialisasi Beras Cerdas dari Managemen sebuah perusahaan BUMN, yang bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur. Langsung saja muncul tanya di benak saya. Beras Cerdas ? apa pula ini. Apakah beras varian baru, yang kalau dikonsumsi bisa meningkatkan kecerdasan? Atau apa? Penasaran mode on..

Berbekal rasa itu, saya pun menghadiri  acara tersebut keesokan harinya. Dan...setelah penjabaran  oleh Bapak Achmad Subagio, PhD - penemu komposisi beras cerdas- saya pun jadi ngeh. O....gitu toh maksudnya...
Begini sodara-sodara.. Sebenarnya acara ini adalah follow up dari Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan -topik ini sudah saya publish dengan judul Jangan Makan Nasi! - . 
Nah, sebagai salah satu upaya untuk menyediakan bahan alternatif pengganti beras, maka pemerintah bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Melalui serangkaian penelitian dan eksperimen, akhirnya ditemukan sebuah komposisi yang dinamakan BERAS CERDAS.
Beras cerdas ternyata bukanlah sebuah varian baru dari padi. Ini adalah beras analog alias beras "jadi-jadian". What?.. Ya, bukan beras betulan. Makin penasaran kan?

Jadi..sebenarnya "beras" ini dibuat dari perpaduan beberapa komponen  yang mampu memenuhi kebutuhan gizi kita. Seperti tepung cassava , tepung beras modifikasi, sayuran, minyak sawit, dan beberapa bahan lain. Bahan-bahan tersebut di mix dan dicetak hingga berbentuk mirip butiran beras. 
Lantas mengapa diberi embel-embel nama "cerdas"?
Jawabannya, karena : 
cerdas bahan baku 
Komposisi utamanya adalah tepung cassava yang berasal dari singkong. Singkong merupakan tumbuhan asli Indonesia yang mudah ditanam, di hampir semua daerah di Indonesia. Minim biaya perawatan pula..

cerdas proses
Diproses dengan teknologi yang mudah dan murah, sehingga dapat diproduksi dengan peralatan yang sederhana.

cerdas cara memasak
Cara memasaknya praktis. Cukup disiram air panas, tunggu sampai air terserap. Kemudian kukus selama 10 menit. Mateng deh..

ini nih penampakan si beras cerdas

Selain cerdas-cerdas di atas, masih ada beberapa kelebihan beras ini :
  • Kandungan protein, serat, vitamin dan mineralnya lebih tinggi
  • Bebas gluten
  • Kadar gula lebih rendah
  • Terdiri dari 5 varian. Yaitu : reguler, Fortifikasi (bisa ditambahkan zat-zat tertentu yang dibutuhkan), untuk anak masa pertumbuhan, penderita kolesterol dan diabet.
  • Bisa diolah menjadi aneka makanan seperti beras biasa. Misalnya, nasi uduk, nasi goreng, dsb.
Menarik  kan?... Trus gimana dengan rasanya? 
Dengan semangat empat lima, sayapun mencicipi nasi cerdas yang disajikan bersama sayur lodeh rebung, oseng jambal pedas, tahu tempe bacem, plus otak-otak bandeng. Hhmmm..nyam nyam...
Teksturnya pulen seperti nasi biasa. Rasanya ... ada sedikit aroma dan rasa khas olahan singkong. Agak-agak apek gitu. But..so far masih ok kok. Cuma, mungkin kalo untuk lidah anak-anak, kayaknya butuh pembiasaan yang lebih lama.

Anyway..salut deh sama tim yang membidani lahirnya beras cerdas ini. Semoga bisa menjadi sumber pangan alternatif. 
Ayo!!! siapa mau coba?

Sunday, March 02, 2014

Honour in the skies: The day a chivalrous German flying ace saluted a crippled US bomber and let them fly to safety instead of shooting them down

http://www.dailymail.co.uk/news/article-2245472/Amazing-tale-WWII-pilots-encounter-German-flying-ace-saluted-American-plane-let-fly-safely-instead-shooting-down.html

The bombing mission targeting a German munitions factory had been a success, but Second World War pilot Charlie Brown's attempts to get home safely seemed doomed to failure.

His B-17F bomber had been attacked by no fewer than 15 planes - leaving one of his crew dead and six wounded; 2nd Lt Brown himself had been knocked out and regained consciousness just in time to right his plane after it went into a dangerous nose dive. 

But as he tried to return from the raid on Bremen to the safety of Allied territory after the mission on December 20, 1943, the danger was not over.

Brown soon had another major concern: a German plane was flying directly next to his own - so close that the pilot was looking him directly in the eyes and making big gestures with his hands that only scared Brown more.

Saved: Charlie Brown was the lone pilot controlling an American bomber in 1943 when a German soldier decided not to shoot at the bloodied soldierMercy: Franz Stigler thought it was wrong to shoot at the damaged plane because it was like aiming at a 'parachute'
Mercy: Charlie Brown (left) was the lone pilot controlling an American bomber in 1943 when Franz Stigler (right) decided not to shoot at the bloodied soldier because he 'fought by the rules of humanity'
Re-enactment: The German plane came purposefully close to the American plane
Re-enactment: The German plane came purposefully close to the American plane
The moment was fleeting however, as the German quickly saluted the American plane  - nicknamed in 'Ye Olde Pub'  - before peeling away as soon as one of Brown's men went for the gun turret to attack their enemy.

The New York Post details Brown's ensuing 40-year struggle to come to terms with why that German pilot decided to go against orders and spare the Americans - allowing him to fly and land his battered plane safely and go on to live a happy and full life following the war.

The pilot in question was Franz Stigler, a 26-year-old ace who had 22 victories to his name - needing just one more to be awarded the Knight's Cross.

But on that day, as his Bf-109 closed in on the US plane he sensed something was wrong - the enemy plane was not engaging with him; in fact, unbeknown even to Brown, the plane had lost it's tail-gun compartment and one wing was badly damaged.

As Stigler drew closer he saw the gunner covered in blood, and how part of the plane's outside had been ripped off. And he saw the wounded, terrified US airmen inside, trying to help one another tend to their injuries.

It was then he remembered the words of his commanding officer Lt Gustav Roedel. 'Honour is everything here,' he had told a young Stigler before his first mission.

The crew of Ye Olde Pub
The crew of the B-17F - nicknamed Ye Olde Pub - that took off on a cold, overcast winter day in Britain to target an FW-190 factory at Bremen, Germany. That mission on December 20, 1943, was 2nd Lt. Charles L. Brown's first combat mission as an aircraft commander with the 379th Bomb Group.  
Back Row (l-r)

S/Sgt Bertrand O.Coulombe - Engineer/Top Turret Gunner; Sgt Alex Yelesanko - Left Waist; Sgt Richard A. Pechout - Radio Operator; Sgt Lloyd H. Jennings - Right Waist; S/Sgt Hugh S. Eckenrode - Tail Gunner; Sgt Samuel W. Blackford - Ball Turret

2nd Lt Charles L. Brown - Pilot; 2nd Lt Spencer G. Luke - Co-Pilot; 2nd Lt Albert Sadok - Navigator; 2nd Lt Robert M. Andrews - Bombardier  

The senior airman added: 'If I ever see or hear of you shooting at a man in a parachute, I will shoot you down myself.

'You follow the rules of war for you - not for your enemy. You fight by rules to keep your humanity.'

His moral compass was more powerful than his need for glory.

'For me it would have been the same as shooting at a parachute, I just couldn't do it,' Stigler later said.

He ended up escorting them for several miles out over the North Sea. But he feared that if he was seen flying so close to the enemy without engaging, he could be accused - and doubtless found guilty - of treason.

And when he saw a German gun turret looming into view he realised he had to make a decision. Meanwhile, the US crew had begun to train a gun on him.

Stigler made his decision, he saluted his counterpart, motioned for him to fly away from German territory and pulled away.

Flying aces: A specially-commissioned painting to mark the moment Franz Stigler's humanity and compassion allowed Charlie Brown to steer his plane to safety
Flying aces: A specially-commissioned painting to mark the moment Franz Stigler's humanity and compassion allowed Charlie Brown to steer his plane to safety
Honoring past moves: Brown and Stigler met with then-Florida governor Jeb Bush in 2001
Honoring past moves: Brown and Stigler met with then-Florida governor Jeb Bush in 2001

SUCCESSFUL MISSION THAT CAME SO CLOSE TO ENDING IN TRAGEDY

The bombers began their 10-minute bomb run at 27,300ft under heavy fire from anti-aircraft guns. 
Even before they had dropped their payload Brown's B-17 took hits that shattered the Plexiglas nose, knocked out the number two engine, damaged number four, and caused damage to the controls. These initial hits forced Brown to drop out of formation with his fellow bombers
Almost immediately, the solitary, struggling B-17 came under a series of attacks from 12 to 15 German Bf-109s and FW-190s.
In the ten-minute assault the number three engine was hit and oxygen, hydraulic, and electrical systems were damaged.
By tthe end of it, the planes controls were only partially responsive.
The bomber's 11 defensive guns were reduced by the extreme cold to only the two top turret guns and one forward-firing nose gun.
The tail gunner was killed and all but one of the crew in the rear incapacitated by wounds or exposure to the frigid air.
Lieutenant Brown took a bullet fragment in his right shoulder.
This was the state Stigler found the plane in, prompting his remarkable act of mercy.

The stricken B-17 did make it across 250 miles of the North Sea and landed at Seething in Norfolk.

As soon as he landed, Brown told his commanding officer about the spotting of the German soldier, but he was instructed not to tell anyone else for fear of spreading positive stories of the German enemy.

In 1987, more than 40 years after the incident, Brown - who was still traumatised by the events of that fateful day - began searching for the man who saved his life even though he had no idea whether his savior was alive, let alone where the man in question was living.

Brown bought an ad in a newsletter catering to fighter pilots, saying only that he was searching for the man 'who saved my life on Dec. 20, 1943.'

Stigler saw the ad in his new hometown of Vancouver, Canada - where he had moved after the war, unable ever to feel at home in Germany - and the two men got in touch.

'It was like meeting a family member, like a brother you haven't seen for 40 years,' Brown said at the pair's first meeting.

Stigler revealed how he had been trying to escort them to safety and had pulled away when he feared he had come under fire. He told Brown that his hand gestures where an attempt to tell him to fly to Sweden.

Their story, told in the book A Higher Call, ended in 2008 when the two men died within six months of one another, Stigler at age 92 and Brown 87.

In their obituaries, each was mentioned as the other's 'special brother'.

A B-17 bomber similar to the one flown by charlie Brown in his bombing mission over Germany
A B-17 bomber similar to the one flown by charlie Brown in his bombing mission over Germany

Monday, February 17, 2014

Pelajaran dari Kelud

http://nasional.kompas.com/read/2014/02/16/0916135/Pelajaran.dari.Kelud

Ahmad Arif


SURYA / AHMAD ZAIMUL HAQWarga dan tim SAR mengamati abu vulkanik yang meninggi keluar dari Gunung Kelud yang terlihat dari jarak lima kilometer di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jumat (14/2/2014). Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Kelud yang meletus pada Kamis lalu sekitar pukul 22.30 WIB bersamaan keluarnya tremor tersebut, mengalami 442 kali gempa vulkanik dangkal. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ

KOMPAS - “Kalau Kelud meletus lagi, semoga saat itu saya tidak lagi menjadi Kepala PVMBG,” kata Surono di kawah Kelud, Jawa Timur, 4 November 2011. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana letusan Kelud ke depan.”

Ucapan Surono itu kembali melintasi pedalaman kepala begitu Kelud kembali menggeliat sejak beberapa hari terakhir. Pagi itu gerimis, kami menuruni tangga menuju bekas danau kawah Kelud yang telah menghilang. Surono lalu berdiri di kaki kubah lava yang masih menguarkan bau belerang. Saya melihat rautnya gelisah. “Peta KRB (Kawasan Rawan Bencana) Kelud harus sudah diubah,” katanya.

Saat itulah dia kemudian menyampaikan rasa jeri pada letusan Kelud di masa mendatang. Ketika Kelud akhirnya meletus pada Kamis (13/2/2014) malam lalu, Surono memang telah berhenti sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Namun, dia ternyata tidak bisa lepas dari Kelud karena pada Jumat (14/2/2014) pagi, Surono justru dilantik menjadi Kepala Badan Geologi Kementerian yang membawahi PVMBG.

Kelud memang spesial bagi Surono. Gunung ini ibarat kawah candradimuka, yang menggodok kepakarannya soal gunung api. Kelud mengantarkan Surono meraih gelar master dan doktor dari Université Joseph Fourier, Grenoble, Perancis, karena penelitiannya tentang instrumen akustik untuk memantau kondisi Kelud saat gunung itu meletus pada tahun 1990.

Berubah

Selama ratusan tahun, Kelud dikenal memiliki letusan freatik (phreatic) karena keberadaan danau kawahnya. Letusan ini dipicu oleh masuknya air danau ke kantong magma yang bersuhu sekitar 1.000 derajat.

Persentuhan air danau dan magma ini kemudian memicu munculnya uap panas yang segera menjebol sumbat, melontarkan debu, bebatuan, bom gunung api, hingga air. Paduan material padat dan air danau ini menciptakan lahar letusan yang secara historis menimbulkan korban dan kerusakan besar di sepanjang Sungai Brantas, dan sungai lain yang berhulu di Kelud.

Teks Sanskerta, berjudul ”Goentoer Pabanjoepinda” yang ditulis pada tahun 1334 dan dikutip oleh geolog dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo dalam disertasinya, Etude de l’éruption de 1990 du volcan Kelud (1992), menggambarkan karakter letusan Kelud di masa lalu itu, ”.... Bumi mengguncang, uap panas dimuntahkan dari gunung api dan banyak abu jatuh, gemuruh guntur, petir besar-besar..., muntahan lahar segera tiba kemudian....”

Selama lebih dari 1.000 tahun, upaya mengatasi letusan Kelud lebih terfokus pada muntahan lahar ini. Bahkan, istilah lahar, yang kemudian dipakai dalam term vulkanologi secara global, berasal dari fenomena Kelud ini.



KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYATBocah mandi di sudetan yang mengalir menuju Waduk Siman di Kecamatan Kepung, Kediri, Jawa Timur, Kamis (3/11/2011). Sudetan dan waduk diperkirakan telah ada sejak zaman Mpu Sindok (kerajaan Mataram Kuno era Jawa Timur). Di sekitar waduk ditemukan sejumlah prasasti, salah satunya Prasasti Harinjing yang berisi pembuatan sudetan, mitigasi bencana gunung berapi sejak 894 Masehi. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT

Upaya pertama dan tertua yang tercatat dalam sejarah untuk mengatasi lahar Kelud adalah pembangunan sudetan dari Sungai Konto ke Sungai Harinjing atau sekarang dikenal sebagai Sungai Serinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri. (lihat Kelud Revolusi Gunung Api, laporan khusus Ekspedisi Cincin Api Kompas, 21 Januari 2012) .

Prasasti Harinjing atau juga disebut Sukabumi yang ditemukan di sekitar Desa Siman mencatat upaya itu. Prasasti dengan angka tahun 921 Masehi ini diperkirakan dibuat pada era pemerintahan Tulodong, memuat informasi tentang pembangunan bendungan (mula dawuhan) dan saluran sungai (dharmma kali) yang keduanya dibangun tahun 804 Masehi. Kanal buatan ini saat ini dikenal sebagai Sungai Harinjing, sekarang bernama Sungai Serinjing.

Boomgaard dalam A World of Water: Rain, Rivers, and Seas in Southeast Asian Histories (2007) menyebutkan, bendungan dan saluran sungai itu kemungkinan terhubung dengan sebuah candi. Menurutnya, rencana besar penyaluran air tersebut sebagai salah satu strategi besar mengendalikan air dan mengurangi dampak bencana.

Pada era Belanda, upaya untuk mengendalikan letusan Kelud dilakukan dengan merekayasa danau kawahnya. Saat Kelud meletus pada 1919, volume air danau kawah saat itu mencapai 40 juta meter kubik. Jarak luncur lahar letusan saat itu mencapai 37,5 kilometer dan jumlah korban tewas mencapai 5.110 jiwa.

Dengan berpatokan bahwa ancaman Kelud membesar seiring dengan besarnya volume air kawah, Belanda berupaya membuat saluran air guna mengurangi volume danau itu.

Kusumadinata (1979) mencatat, pada 11 Juli 1907, Belanda berupaya membuat saluran air di lereng barat Kelud. Dampaknya, tinggi muka air kawah turun 7,4 meter dan isi air berkurang 4,3 juta meter kubik. Pada tahun 1919, penggalian terowongan dilanjutkan. Air dari terowongan rencananya akan dialirkan ke arah Kali Bladak atau sering disebut Kali Badak.

Namun, pekerjaan terhenti karena terowongan ini runtuh. Pembuatan terowongan dimulai lagi pada 1923 dengan menggali 7 terowongan pembuangan utama dan beberapa saluran sekunder. Pembangunan ini sukses mengurangi volume air danau dari 40 juta meter kubik menjadi hanya 1,8 juta meter kubik.

Seluruh terowongan itu rusak dan tersumbat saat Kelud meletus tahun 1951. Garis tengah danau yang semula 500 meter menjadi 700 meter, volume air danau pun bertambah menjadi 23,1 juta meter kubik. Pada tahun 1953, pekerjaan perbaikan terowongan kembali dimulai dan selesai pada tahun 1955. Tahun 1966 dibangun terowongan Ampera sepanjang 20 meter. Dengan terowongan Ampera, volume air danau menjadi 4,3 juta meter kubik.

Namun, pada akhir 2007, raut Kelud berubah total. Danau kawah Kelud yang jadi ciri khas gunung ini dan diperkirakan telah berusia 2.400 tahun itu menghilang. Kelud pun sudah tidak bisa disebut ’kelud’—PVMBG menyebutnya Kelut. Tidak ada lagi danau kawah yang menyapu saat letusan.

Nama Kelud—dalam bahasa Jawa sapu—dilekatkan ke gunung api ini karena saat meletus menyemburkan lahar letusan, lalu menyapu desa-desa di lerengnya.

Perubahan karakter, bahkan identitas gunung ini, telah membuka masalah baru. Sebelumnya, PVMBG menggunakan perubahan suhu dan warna air danau Kelud untuk memantau aktivitas gunung ini, karena gunung ini juga irit mengirim gempa saat krisis. “Kami harus memikirkan cara lain untuk memantau Kelud karena danaunya sudah diganti kubah lava,” kata Surono kala itu.

Hujan batu

Kubah batu yang menyumbat kawah Kelud inilah yang menakutkan Surono saat menemani perjalanan tim Ekspedisi Cincin Api Kompas dua tahun silam. “Sulit membayangkan jika kubah lava ini terlontar seketika saat Kelud meletus karena energi letusan Kelud yang sangat eksplosif,” katanya. Skenario terburuk bisa saja terjadi jika aliran magma tak kuat menjebol sumbat lava, lalu menjebol titik lemah lain di lereng Kelud, di dekat permukiman.

Untung saja skenario terburuk itu tak terjadi. Daya eksplosif Kelud berhasil membongkar kubah batu dan meontarkannya menjadi hujan batu kerikil, hingga abu yang memenuhi hampir seluruh Pulau Jawa.

Selain itu, Keputusan Kepala PVMBG  Hendrasto untuk mengosongkan kawasan dalam radius 10 km dari kawah Kelud sebelum Kelud meletus layak diacungi jempol. Keputusan itu tentu tak gampang dibuat mengingat pada 2007, PVMBG pernah mengevakuasi warga di sekitar Kelud hingga berbulan-bulan, namun gunung ini kemudian tak meletus eksplosif  sehingga banyak pihak yang mencibir keputusan itu. Surono pernah merasakan pahitnya cibiran saat dia mengevakuasi warga, termasuk seluruh stafnya dari Pos Pemantauan Kelud pada 2007.

Nyaris saja! Selain perubahan karakter Kelud yang berubah tak gampang terbaca, alat-alat pemantauan gunung api Indonesia sebenarnya masih sangat minim. Saya pun teringat dengan pengakuan Surono dalam beberapa kali perjumpaan. Dari 127 gunung api, baru separuhnya yang dipantau intensif. Surono mengibaratkan proses pemantauan gunung api di Indonesia seperti menaruh anak kecil di pinggir kolam. ”Kalau kita lengah, pasti masuk kolam. Kalau selamat, bisa dibilang karena kebetulan,” katanya  Surono.

Letusan Kelud kali ini sekali lagi mengajarkan pentingnya menyadari posisi Nusantara yang dilingkari Cincin Api, yang menuntut kita untuk terus bersiaga. Apalagi, karakter dan sifat gunung juga bisa berubah. Gunung api adalah organisme Bumi yang hidup. Mereka lahir, tumbuh, tertidur, mati, lalu terbangun, dan meletus.

Gunung api terus berevolusi. Begitu pula seharusnya kita yang hidup di sekelilingnya...


Simak kembali catatan Ekspedisi Kompas Cincin Api “Kelud Revolusi Gunung Api” di edisi khusus epaper.kompas.com danwww.cincinapi.com.

Friday, February 14, 2014

Mengenal Gunung Kelud

http://rovicky.wordpress.com/2007/10/19/mengenal-gunung-kelud/
by Rovicky

Gunung yang satu ini sering juga disebut dengan Gunung Kelud ataupun Gunung Kelut. Gunung ini secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Puncaknya berada pada ketinggian 1717 (meter dpal) . Puncak kawah gunung ini, terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
:( “Wah betul Pakdhe, jelasin yang rinci ya. Kalau kita ngga kenal kita ngga bisa tahu perilakunya sehingga kita akan mampu menghindari “keinjek kaki waktu dia menjoget”, ya ?” :P .
:D “Ngga usah rinci Thole, mengko malah lupa”.
Mengenali perilaku gunung api mirip mengenali binatang peliharaan kita (pet). Oleh sebab itu jaman dahulu ada penunggu atau pawang. Seperti adanya mBah Maridjan di Gunung Merapi itu. Tapi aku tidak tahu siapa penunggu Gunung Kelud ini. Wah ternyata kata Si Ambu namanya mBah Ronggo.

Berkas:Kelut.jpg

Letusan Gunung Kelud


Gunung ini tercatat sebagai gunung yang sangat aktif. Menurut penelitianSmithsonianselama seratus tahun terakhir ini sudah tercatat letusan hampir 40 kali.

letusan-kelud.jpg


Letusan terbesar dalam catatan sejarah sejak seribu tahun lalu terjadi pada tahun 1586 dimana waktu itu terjadi hampir semua karakter erupsi [ Central vent eruption, Crater lake eruption, Explosive eruption, Fatalities, Damage (land, property, etc.) dan Mudflow(s) (lahars)]. Menurut buku Data Dasar Gunung Api di Indonesia jumlah korban diperkirakan mencapai 10 000 orang. Bayangkan saja pada tahun itu tentunya jumlahpenduduk masih sangat sedikit, tapi mampu menelan jumlah korban sangat banyak. Letusan tahun 1856 itu diperkirakan memiliki kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI): 5. Kira-kira setara letusan Pinnatubo tahun 1991.
Sebagai bayangan kekuatan letusan :
  • Tambora, Indonesia 1815: VEI=7, 92,000 meninggal
  • Santorini, Greece 1628 B.C.: VEI=6, unknown meninggal
  • Krakatau, Indonesia 1883: VEI=6, 36,400 meninggal
  • Santa Maria, Guatemala 1902: VEI=6, 6,000 meninggal
  • Mount St. Helens, USA 1980: VEI=5, 57 meninggal
  • Vesuvius, Italy 79: VEI=5, 3,360 meninggal
  • Pinatubo, Philippines 1991: VEI=5, 932 meninggal (lihat gambar)

Letusan krakatau yang VEI=6 itu setara dengan 150-175 megatons of TNT, atau ekivalen dengan 7,500-8,750 bom atom Hiroshima (satu bom Hiroshima kira-kira termal energinya 20 kilotons).
:( “Pakdhe jadi sakjane kalau semua bom atom di dunia ini meletus bareng-bareng dunia tetep aman ya dhe ?”
:D “Hush, kalau bom atom ada radiasinya yang mematikan. Bukan hanya getaran dan panasnya saja.”
Kalau melihat trend letusan Gunung Kelud dalam grafik diatas, sepertinya rata-rata hanya 3 untuk 500 tahun terakhir ini (lihat gambar). Namun karena keunikannya, maka ahli-ahli Volkanologi tidak mampu menebak letusan ini seperti menebak letusan Gunung Merapi tahun lalu.

Keunikan Gunung Kelud.


kelud.jpg

Salah satu keunikan gunung api ini adalah adanya danau kawah. Konon dalamnya lebih dari 600 meteran dan mampu menyimpan air sampai 40 juta m3. Bayangkan kalau air sebanyak ini dipakai untuk menggelontor pasir-pasir lepas disekitarnya. Mempertimbangkan bahayanya kalau sampai 40 juta m3 air tersebut terbawa oleh letusan dahsyat, maka pada tahun 1907 pemerintah Belanda membuat sistem trowongan dan berhasil mengurangi air danau kawah sebanyak 4,3 juta m3. Pada tahun 1923, menyusul runtuhnya dinding trowongan , maka dibuatkan lagi 7 trowongan yang berhasil mengurangi jumlah air sampai menjadi 1,8 juta m3. Klicksaja gambar profil gunung diatas


:D “Keunikan gunung ini seperti melihat keunikan individu. Manusia memiliki kesamaan karakter untuk setiap bangsa. Misal orang Jawa itu kalem, Orang Batak itu keras. Namun selalu saja masing-masing ada yang tidak memiliki sifat general ini”
:( “Lah hiya Pakdhe aja criwis ngga anteng kayak wong Jowo”


:D “Gunung-gunung api di Jawa mirip jenisnya strato-volkano, atau gunung yang berlapis-lapis dan berbentuk kerucut. Tetapi akan sangat berbeda dengan gunung api di Hawai yang magmanya sangat encer, dan relatif mendatar. Dapat dilihat juga antara Gunung Merapi dengan Gunung Kelud berbeda, kan ?. Seperti orang Jawa ada yang mancung dan ada yang pesek kayak kamu, Thole” :P .
:( “Halllah Pakdhe. Oooh, makanya masing-masing gunung biasanya punya pawang ya Pakdhe?”

Pawang Gunung Kelud bernama Mbah Ronggo

Kediri (ANTARA News)- Juru kunci Gunung Kelud, Mbah Ronggo, tampaknya ingin mengikuti jejak Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Mbah Ronggo yang aslinya bernama Parjito hingga kini masih enggan mengungsi dari rumahnya di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, Kab Kadiri, Jatim, sekalipun sudah “dirayu” oleh Kapolres Kediri, AKBP Eky Hari Festianto. “Kami sudah meminta Mbah Ronggo untuk segera mengungsi ke tempat yang sudah disediakan,” kata Kapolres Kediri usai menemui Mbah Ronggo di rumahnya, Kamis (18/10).

http://www.volcano.si.edu/volcanoes/region06/java/kelut/06klt01f.png

Karena adanya danau air ini, maka pengamatan pada kedalaman magma sangat sulit. Salah dua gejala yang diamati adalah kenaikan suhu kawah, dan mnunculnya gelembung. Yang kedua dapat juga menggunakan alat perekam getaran gempa volkanik, untuk menuntun dimana kira-kira puncak aliran lava saat ini. Karena kesulitan inilah, maka Pak Surono kepala PVMBG (pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi) yang bertanggung jawab soal kegunung apian ini tidak mudah untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk menghindarkan diri.

Peta Daerah Rawan Bencana.


kelutkrb3d.jpg

Dari websitenya PVMBG (pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi) dapat diketahui daerah bahaya yang sudah pernah dipetakan sebelumnya. Dengan menggunakan Google Earth maka peta rawan ini dapat di-tampal (overlay), sehingga dapat dilihat bagaimana kira-kira dampak terhadap penduduk sekitarnya.
Menurut peta rawan bencana ini, arah pergerakan lahar dari Gunung Kelud ini diperkirakan ke arah barat. Yang agak menghawatirkan adalah daerah sepanjang warna biru (rawan aliran lahar) ini merupakan daerah yang padat penduduknya. Dengan Google earth akan mudah diketahui bahwa hampir sepanjang warna biru ini merupakan pemukiman penduduk.
Menurut, Pak Miko, seorang kawan di IAGI menuliskan bahwa Wilayah G. Kelud dibagi atas beberapa daerah yaitu Daerah Terlarang ( radius 5 km dari kawah dengan luas 91 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah batuan, awan panas, lahar letusan dan lahar hujan. Data tahun 1972 menunjukkan hunian 50 orang. Kemudian Daerah Bahaya I ( radius 10 km dari kawah dengan luas 223 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah batuan. Daerah ini dihuni oleh 136.500 orang ( data tahun 1972 ). Selanjutnya Daerah Bahaya II yang ancamannya lahar sekunder. Daerah ini meliputi bantaran sungai-sungai lahar yang luasnya 56 km2 dan dihuni oleh 178.000 orang.

kelutkrbcrop.jpg

Mempertimbangkan besarnya jumlah penduduk yang menempati Daerah Bahaya I (136.500 orang , data tahun 1972 !!! ), maka bisa dibayangkan betapa sulitnya PVMBG dalam mengambil keputusan tentang status G. Kelud. Taruhannya sungguh berat , di satu sisi menyangkut begitu banyaknya keselamatan jiwa manusia dan di sisi lain menyangkut juga biaya evakuasi yang miliaran rupiah ( kalau 100.000 orang saja yang diungsikan dan perlu biaya Rp 10.000 / hari maka diperlukan dana minimal Rp 1 milyar/ hari !!! ) . Kita tentunya yakin bahwa apa yang telah diputuskan oleh para pakar di PVMBG pastilah merupakan keputusan terbaik karena didasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah yang cukup akurat . Walaupun demikian, sebagai umat beragama, kita tentunya percaya bahwa apapun keputusan kita, Tuhan jualah yang akhirnya menentukan.

Perhatikan bulan purnama nanti.
Kalau melihat adanya hubungan antara bulan dengan aktifitas volkanisme seperti yang pernah ditulis sebelumny a tentang Efek bulan terhadap pasang-surut, gempa dan gunung api, maka perlu diperhatikan pada waktu bulan purnama (yang paling dekat tanggal 27-28 Oktober) dan pada waktu bulan mati setelahnya. Tentunya ini bukan sebuah ramalan looh ya. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Karena mengingat biaya mengungsi juga tidak sedikit. Jadi yang paling tepat seperti yang dilakukan PVMBG yaitu pengamatan dimana (kedalaman) magma itu berada, serta teramati dari suhu kawah yang meningkat tajam yang menunjukkan bawah magma sudah mendekati danau kawah.
Salam WASPADA !

Being gay IS in your genes, say scientists in controversial new DNA study

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2559021/Being-gay-DNA-researchers-claim-controversial-new-study.html
FIONA MACRAE SCIENCE CORRESPONDENT IN CHICAGO

WHAT MAKES A HOMOSEXUAL?

Other studies suggests that conditions in the womb also influence sexual orientation.
For instance, the more older male siblings a man has, the greater chance he will be gay.
Scientists say the phenomenon cannot be explained by the youngest boy being babied and mollycoddled or other differences in the way they are brought up.
It is thought that carrying a male baby in the womb triggers an immune response in the mother, creating antibodies that attack part of the unborn child's brain linked to sexual orientation.
This response gets stronger the more boys a woman carries, raising the odds of homosexuality.
Exposure to hormones in the womb is also likely to be important and some argue that upbringing plays a role in sexuality.

The confirmation of the existence of a ¿gay gene¿ or genes will strengthen arguments that homosexuality is a matter of biology, rather than choice.

Being gay could be in the DNA.
Scientists have found two stretches of DNA linked to homosexuality in men.
The confirmation of the existence of a ‘gay gene’ or genes will strengthen arguments that homosexuality is a matter of biology, rather than choice.
However, it also raises the prospect of a genetic test that could be used by insurance companies to discriminate against clients or by pregnant women to abort gay babies.
In the study, Chicago University researchers analysed the DNA of more than 400 pairs of gay brothers, recruited at Gay Pride festivals at marches over several years.
This revealed flagged up two pieces of DNA that seem to be linked to homosexuality.
It is not known which of the many genes they contain are key or how they affect the development of sexual orientation.
However, the result, revealed at the American Association for the Advancement of Science’s prestigious annual conference, backs up a contentious 1993 study.
That research, the first to find evidence of a ‘gay gene’, created a storm of controversy, which was further fuelled when other scientists failed to find a genetic link.
Dr Michael Bailey from Northwestern University in Illinois, who contributed to the latest study, said it is the biggest of its kind.
He added: ‘Sexual orientation has nothing to do with choice. Our findings suggest there may be genes at play – we found evidence for two sets that affect whether a man is gay or straight.
‘Although this could one day lead to a pre-natal test for male sexual orientation, it would not be very accurate, as there are other factors that can influence the outcome.’
Despite this, he would not would not object to a prenatal test being developed.
He said: ‘Clearly parents should not be allowed to torture or kill babies. But they can currently choose to terminate a pregnancy early on, so they should be allowed to have as much information on the future child as possible.’
Chicago University researchers analysed the DNA of more than 400 pairs of gay brothers recruited at Gay Pride festivals at marches over several years.

Qazi Rhaman, a King’s College London psychologist, said that genes are thought account for up to 40 per cent of a person’s sexual orientation is governed by genes, and that it is likely that many genes are involved.
This would make developing a genetic test incredibly difficult.
He said: ‘There is no real risk of anyone finding a 'genetic test' for sexual orientation based on these or any of the scientific findings about the genetics of sexuality from the past 20 years.
‘The reason is that there is no gay gene.  You are not going to be able to develop a test to find them all.’
Dr Rhaman, who has written a book about sexual orientation, added that all psychological traits involve genetics and people should not be afraid about link homosexuality to genes.
Richard Lane, of gay rights organisation, Stonewall, said that while studies into the origins of homosexuality have yet to produce convincing evidence, they do to point to a biological root.
He said: ‘The thing that’s consistent across all of them is that they all point to sexual orientation being something fundamental to a person rather than the lifestyle choice some opponents of equality repeatedly suggest.’
Other studies suggests that conditions in the womb also influence sexual orientation.
For instance, the more older male siblings a man has, the greater chance he will be gay.
Scientists say the phenomenon cannot be explained by the youngest boy being babied and mollycoddled or other differences in the way they are brought up.
It is thought that carrying a male baby in the womb triggers an immune response in the mother, creating antibodies that attack part of the unborn child's brain linked to sexual orientation.
This response gets stronger the more boys a woman carries, raising the odds of homosexuality.
Exposure to hormones in the womb is also likely to be important and some argue that upbringing plays a role in sexuality.