Friday, July 15, 2011

WHY WATER?

http://www.charitywater.org/whywater/
Learn about the water crisis

WHY WATER? 
Learn about the water crisis small_arrow

health and sanitation.

Diseases from unsafe water and lack of basic sanitation kill more people every year than all forms of violence, including war. Children are especially vulnerable, as their bodies aren't strong enough to fight diarrhea, dysentery and other illnesses.

90% of the 30,000 deaths that occur every week from unsafe water and unhygienic living conditions are of children under five years old. Many of these diseases are preventable. The UN predicts that one tenth of the global disease burden can be prevented simply by improving water supply and sanitation.


A clean water project nearby means more than safe drinking water to women and children in developing nations; it means time, freedom and incentive to change their communities.
women and children.

In Africa alone, people spend 40 billion hours every year just walking for water. Women and children usually bear the burden of water collection, walking miles to the nearest source, which is unprotected and likely to make them sick.

Time spent walking and resulting diseases keep them from school, work and taking care of their families.

Along their long walk, they're subjected to a greater risk of harassment and sexual assault. Hauling cans of water for long distances takes a toll on the spine and many women experience back pain early in life.

With safe water nearby, women are free to pursue new opportunities and improve their families’ lives. Kids can earn their education and build the future of their communities.

economies / communities.

In Africa alone, the overall economic loss due to lack of safe water and sanitation is $28 billion, or about 5% of GDP. In areas where gathering water is impossible, small-scale private water distributors charge full market prices, forcing the poorest households to spend up to 11% of their income on life's most basic need. Even this water is most likely contaminated if it has been collected from unprotected rivers or ponds.
Water is an astonishingly complex and subtle force in an economy. It is the single constraint on the expansion of every city, and bankers and corporate executives have cited it as the only natural limit to economic growth.
- Margaret Catley-Carlson, Vice-Chair, World Economic Forum


food supply.

Feeding our world takes up to 90% of our freshwater withdrawals but many people in developing nations still don't have access to enough water for irrigation. When a water project is built in a community, members can often use the new water source to grow small gardens near their homes and secure their own food supply. Self-sufficient households are less affected by external conflict, famine or inadequate government services.

gender equality.

All members – men and women -- are engaged in the construction and maintenance of their charity: water projects. When complete, 6-10 community members are appointed to the Water Committee and are responsible for overseeing the functionality of the water point. Water Committees are often the first chance for women to step into elected leadership roles. This new responsibility can restore dignity, initiative and equality to community members.

the future.

charity: water served its first one million people at the end of 2009. That’s a major accomplishment, but we have much more work to do. By 2050, the world's population is estimated to grow by three billion and 90% of this growth will be in the developing world. Unless sustainable water solutions are scaled fast, regions already stressed for safe water sources will be over capacity. We’re expanding our reach to meet these demands and will not stop until every person has safe water to drink.


The walk for water that used to take everyone here three hours, now takes 15 minutes. And the water is safe to drink.

A hygiene worker teaches your village the importance of sanitation. Your community builds latrines and sets up handwashing stations.

You join the Water Committee to oversee your village's new water source. As a woman, this is your first local leadership position.

You use the extra time and new water source to start a vegetable garden and feed your family. You sell your extra food at the market.

Your kids spend more time in school instead of walking for water. They graduate to become teachers, hygiene workers or business owners.

A nearby village learns how water transformed your community. They petition for a well in their village, and the cycle starts again.

water as a catalyst: disease prevention.

charity: water focuses on life’s most basic need -- water. But to significantly cut down disease rates in the developing world, water is just the first step. Almost everywhere charity: water builds a freshwater well, we also require sanitation training. In some communities, we build latrines; at the very least, we promote simple hand-washing stations made with readily-available materials. Clean water can greatly alleviate the world’s disease burden, but only with education and hygienic practice. charity: water is committed to using water as a gateway to sanitary living.
adding it up: the return.
every $1 invested in improved water access and sanitation yields an average of $12 in economic returns, depending on the project.

Even in regions prone to natural disasters, water infrastructure has proven to be a smart investment, sometimes reducing flood damage or disease rates among survivors. Clean water transforms lives, communities and generations -- and at a surprisingly low cost. $20 can provide clean water for one person.


how you can help.


mycharity: water is a website where you can create fundraising campaigns and collect donations. Every dollar raised is tracked to a water project.


100% of your donation will directly fund freshwater projects in developing nations. Just $20 can give one person clean, safe drinking water.


By wearing charity: water gear, you help spread the word about the global need for clean water. The profits help us continue to use 100% of donations to water projects.

Sunday, July 03, 2011

Betulkah Doktrin tentang Surga dan Neraka Perlu Supaya Dunia Aman???

https://www.facebook.com/notes/ioanes-rakhmat/betulkah-doktrin-tentang-surga-dan-neraka-perlu-supaya-dunia-aman/10150247013704096
by Ioanes Rakhmat


Konsep tentang surga dan neraka dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel yang ditulis pada abad kedua S.M., ketika bangsa Yahudi sedang mengangkat senjata melawan pemerintahan lalim raja Syria Antiokhus IV Epifanes yang sedang melancarkan politik helenisasi besar-besaran atas negeri Israel (= politik dan militerisme untuk menjadikan kebudayaan dan agama-agama Yunani -- yang disebut helenisme-- sebagai kebudayaan dan agama-agama bangsa-bangsa jajahan Aleksander Agung dan para penerusnya).


Konsep surga dan neraka diciptakan pada awalnya oleh suatu komunitas keagamaan atau suatu bangsa beragama (dalam hal ini, bangsa Yahudi kuno) yang sedang ditindas suatu bangsa asing adidaya, dan mereka tak memiliki kekuatan militer yang unggul. Akibatnya mereka mengalami banyak kekalahan, dan tidak sedikit dari antara mereka mati dalam banyak perlawanan yang tampak sia-sia. Nah, para tokoh keagamaan mereka, yang juga bertanggungjawab dalam kehidupan politik dan militer, menyusun konsep tentang surga dan neraka, baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah kejuangan para martir.

Ada dua tujuan dalam mereka menyusun doktrin tentang surga dan neraka. Pertama, untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Kepada para pejuang ini, lewat doktrin surga dan neraka dan kisah-kisah para syuhadah, dijanjikan bahwa kendatipun mereka akan mati dalam perang, mereka harus jangan menyerah, sebab sekalipun mereka mati mereka akan diberi pahala masuk surga sesudah mati syahid. Janji pahala surga ini, dalam suatu perang, sangat efektif untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan, tentu kalau perangnya dilangsungkan karena alasan keagamaan.

Bangsa beragama yang terancam kalah ini dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja, dan tampak kalah juga ketika berhadapan dengan musuh mereka? (Bagi bangsa beragama di zaman dulu, kalau bangsa ini kalah perang, berarti Allah mereka juga kalah.) Nah, sebagai tujuan kedua, pertanyaan besar ini dijawab dengan doktrin tentang neraka: Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, sebab akan tiba saatnya, ketika zaman dan sejarah dunia berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api neraka, yang akan memanggang mereka selamanya. Doktrin tentang hukuman di neraka adalah sebuah doktrin tentang kebencian yang tak bisa hilang, tetapi dipelihara sampai ke alam baka.

Karena ada janji surga dan ancaman neraka, doktrin tentang surga dan neraka umumnya dilengkapi beberapa doktrin lain: doktrin-doktrin tentang kiamat (berakhirnya sejarah dunia), tentang bencana sejagat, tentang kebangkitan orang mati, tentang pengadilan di akhir zaman, tentang figur sang Hakim jagat raya dari kawasan adikodrati, dan tentang kitab kehidupan yang di dalamnya tercatat biografi orang per orangan selama mereka hidup di Bumi, yang akan dijadikan landasan pengadilan di akhir zaman.

Belakangan, doktrin tentang surga dan neraka mengalami pergeseran fungsi, khususnya ketika doktrin ini tetap dipercaya dan dipegang meskipun umat tidak sedang perang. Doktrin ini berubah fungsi menjadi sebuah doktrin yang digunakan para rohaniwan untuk mengontrol perilaku umat orang per orangan. Seperangkat aturan moral (moral code) disusun, seperangkat doktrin dibangun, dan seperangkat ritual ditetapkan, untuk diikuti dan dijalankan umat tanpa hak dan kewajiban bertanya.

Para rohaniwan mengingatkan mereka dengan keras: Jika moral code dan seperangkat doktrin dan ritual ini tidak diikuti dan dijalankan sepersisnya, orang yang melawan ini akan masuk neraka abadi. Sebaliknya, anggota umat yang menaati semuanya akan menerima pahala surga. Jelas, dengan bisa mengontrol perilaku dan keyakinan umat, para rohaniwan ini tetap memegang kendali atas seluruh komunitas, dan mereka tetap bisa menjadi leader dengan kedudukan politik yang kuat, yang dapat memberi mereka banyak keuntungan lain (ekonomi, hak istimewa, hak menetapkan doktrin, hak menentukan kebenaran atau kesalahan, hak menghakimi, dan lain-lain).

Dalam kehidupan Gereja Katolik Roma (GKR) sekarang ini, doktrin tentang penghukuman di api neraka diperluas dengan dua doktrin lain tentang bagian-bagian kehidupan di akhirat yang mengawali atau menggantikan kehidupan sengsara di api neraka, yakni doktrin tentang limbo dan purgatori.

Limbo adalah kehidupan di akhirat yang diberikan kepada orang-orang pagan yang tak jahat tetapi penuh kebaikan dan kebajikan, noble pagans, sehingga mereka tak pantas dimasukkan ke dalam neraka, dan juga kepada bayi-bayi yang meninggal ketika belum menerima baptisan Kristen untuk keselamatan mereka. Limbo dibayangkan sebagai suatu tempat yang di dalamnya tak ada siksaan berat dan kekal seperti di neraka, tetapi juga tidak ditemukan kesukaan dan kebahagiaan seperti hidup dalam surga. Limbo adalah situasi tengah-tengah antara neraka dan surga.

Doktrin tentang limbo ini dirancangbangun tak lain untuk mengurangi rasa bersalah para rohaniwan GKR yang semula mengancamkan neraka kepada semua kaum kafir yang berakhlak luhur dan orang-orang yang baik tetapi tidak termasuk ke dalam komunitas GKR, dan tentu juga untuk memperkuat doktrin tentang neraka sebagai suatu tempat yang disediakan untuk orang-orang yang memang sangat patut dan sah dimasukkan ke dalamnya. Debat di dalam GKR tentang apakah doktrin limbo masih harus dipertahankan makin menguat sekarang ini ketika kasus-kasus janin yang diaborsi semakin menggunung, sementara GKR sangat menentang aborsi yang dilakukan dengan alasan apapun.

Purgatori, yang dikenal juga sebagai "api penyucian", menyediakan suatu tempat dan kurun di mana seseorang dimungkinkan untuk terhindar dari hukuman abadi dalam api neraka, dengan menjalani suatu penghukuman sementara, yang sebenarnya lebih tepat disebut "penyucian" atau "pemurnian" dalam jangka waktu tertentu sebelum akhirnya terbebaskan sama sekali dari siksa di neraka abadi. Menurut doktrin ini, ketika periode siksaan atau pemurnian terbatas ini selesai dijalani, orang yang menjalaninya dikeluarkan dari purgatori lalu diterima masuk ke dalam surga abadi, berdasarkan kalkulasi bahwa kejahatannya selama hidup di muka Bumi sudah lunas dibayar olehnya selama berada dalam purgatori.  Orang semacam ini dikalkulasi tidak terlalu jahat tetapi juga tidak terlalu baik.

Kita tahu, reformator Gereja Protestan pada abad enam belas, Martin Luther, dibuat sangat murka ketika GKR pada zamannya memanfaatkan doktrin tentang purgatori ini untuk menggalang dana besar bagi pembangunan Gereja Santo Petrus di Vatikan. Pada masa itu, GKR mengajarkan, jika seorang Katolik yang berdosa telah dengan cukup memberi sumbangan uang ke kas GKR untuk membangun gereja besar ini, orang ini akan terhindar dari purgatori ketika dia wafat nanti dan arwahnya akan langsung masuk surga, atau, kalau orang ini memberi sumbangan uang demi seorang  anggota keluarganya yang sudah meninggal, maka, begitu mata uang berdenting di kas gereja, arwah orang yang sudah meninggal ini dijamin gereja akan langsung dikeluarkan dari purgatori dan dimasukkan ke dalam surga abadi.        

Jadi, doktrin tentang surga dan neraka adalah sebuah doktrin politis religius, yang semula disusun untuk kepentingan perang, dan kemudian untuk mengendalikan perilaku dan kehidupan umat oleh para rohaniwan ketika doktrin ini tetap dipegang dalam konteks bukan perang dan ditambahi dengan doktrin tentang limbo dan purgatori.

Kalau ditanya, apakah surga dan neraka betulan akan ada dan dialami sesudah kematian, jawabnya adalah: seandainya manusia hidup terus dalam rupa roh sesudah kematian fisik di muka Bumi, maka roh yang tak memiliki tubuh, indra dan otak sama sekali tak akan bisa merasakan entah nikmat surga atau pun siksa neraka. Ketika otak lenyap, maka pikiran dan perasaan pun lenyap. Surga dan neraka sesudah kematian hanya ada dalam doktrin, dalam kisah, dalam mitologi, dan tidak ada dalam realitas faktual apapun.

Orang umumnya beranggapan, kalau doktrin tentang surga dan neraka sesudah kematian tak diajarkan, kejahatan di muka Bumi akan semakin meningkat. Anggapan ini salah, karena beberapa alasan.

Pertama, kekuasaan untuk mengadili dan menjatuhkan hukuman di muka Bumi ada pada pemerintah suatu negara. Jadi, untuk mengurangi atau menekan angka prevalensi kejahatan di muka Bumi, hukum positif dalam suatu negara harus dibangun, ditegakkan dan diberlakukan dengan konsekwen dan konsisten pada semua orang tanpa pilih bulu.

Kalau ada orang bisa lolos dari jerat hukum, misalnya karena pemerintahan di dalam suatu negara lemah, buruk dan korup, jalan keluarnya bukanlah menakut-nakuti rakyat dengan doktrin tentang neraka yang panas dan berlangsung abadi, melainkan membereskan hukum dalam negara itu dengan sungguh-sungguh.

Kini, dalam era globalisasi, yang mengikat manusia di suatu negara bukan hanya hukum positif nasional, tetapi juga hukum internasional; dan yang ada bukan hanya lembaga pengadilan dalam negeri, tetapi juga lembaga pengadilan internasional. Sudah banyak terjadi, seorang yang lolos dari jerat hukum di negerinya sendiri akhirnya diadili dan dijatuhi hukuman di luar negeri.

Kedua, perlu kita ketahui bahwa dalam zaman modern ini jumlah orang yang tak lagi bisa menerima doktrin tentang surga dan neraka sangat banyak, di antara mereka termasuk orang-orang yang potensial melakukan kejahatan. Kalau orang zaman modern ditakuti-takuti hanya dengan sebuah doktrin keagamaan tentang hukuman di neraka, dan hukum positif dalam suatu negara tak ada atau dihapuskan, jelas kejahatan di dunia akan semakin meningkat.

Ketiga, ketaatan yang ditimbulkan oleh doktrin tentang api neraka adalah ketaatan yang tak dewasa, immature, tak keluar dari kesadaran nurani sendiri, tetapi muncul karena rasa takut yang besar. Doktrin tentang hukuman di neraka melahirkan bukanconscience, nurani, melainkan fear, ketakutan. Untuk membangun suatu masyarakat yang warganya taat hukum dan tak melakukan kejahatan, yang dibutuhkan adalah pembinaan moralitas bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang fungsional, mature dan accountable. Dalam rangka membangun suatu moralitas individual dan sosial semacam ini pendekatan “reward and punishment” sekuler dipakai. Doktrin tentang ancaman api neraka tak akan menghasilkan conscience yang fungsional, accountable dan mature dalam diri warga masyarakat, melainkan akan menghasilkan suatu masyarakat yang penuh ketakutan yang tak membangun, a society of fear.

Keempat, kalau orang baru mau hidup beragama dan bermoral dengan baik hanya jika mereka ditakut-takuti ancaman hukuman di api neraka, kehidupan bermoral dan beragama semacam ini berada baru pada tahap kanak-kanak, bukan tahap dewasa. Kita tahu umumnya kanak-kanak akan baru mau belajar dengan baik jika kepadanya diiming-imingi hadiah permen atau sebuah boneka, atau bahkan kalau kepadanya diperlihatkan sebilah rotan yang siap dipukulkan ke pantatnya. Orang yang beragama baru pada tahap kanak-kanak ini, yakni beragama secara egoistik dan dipenuhi ketakutan, akan memakai agamanya sebagai alat untuk mencapai kepuasan pribadinya saja, dan untuk mendatangkan kesusahan pada orang lain. Seorang anak sangat senang jika boneka milik kakaknya atau boneka milik temannya direbut untuk diberikan kepadanya, dan dia tak akan perduli kalau kakaknya atau temannya itu jadi menangis sedih.

Kelima, doktrin tentang hadiah surga dan hukuman di neraka sesudah kematian menghasilkan orang beragama yang melihat kehidupan yang bermakna hanya ada di alam baka setelah kematian. Bagi mereka, kehidupan di Bumi sekarang ini hanya sementara, hanya untuk dilintasi, tak bermakna penuh, bahkan maya saja. Orang beragama yang berpandangan semacam ini bisa tak akan perduli pada banyak persoalan dan penyakit sosial di dunia masa kini, dan tak menyumbang apapun dalam usaha global memerangi banyak kejahatan. For example, para pejihad Muslim yang sangat percaya pada keberadaan surga dan neraka, sangat ingin segera masuk surga dan menerima banyak hadiah istimewa dari Alloh SWT, dengan melakukan terorisme atas nama Alloh ini untuk membunuh kaum kafir, infidel, sebanyak-banyaknya! Syukurlah, kaum Muslim yang sudah mature beragama menolak terorisme sebagai suatu jalan masuk ke surga!

Catatan:
Sheol (Ibrani) dan Hades (Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata neraka atau kata jahanam (gehena).

Sheol, dalam Yudaisme kuno pra-Zoroastrianisme, dipahami sebagai kawasan bayang-bayang, non-fisikal, dan sebagai bayang-bayang orang yang sudah meninggal tak punya emosi dan pikiran apapun dan tak menunggu ganjaran atau pahala apapun--- suatu kondisi kehidupan tanpa makna dan tanpa substans.

Sheol juga dibayangkan sebagai tempat di bawah muka Bumi, dalam tanah, kuburan orang mati; dan di beberapa kawasan Palestina kuno, kawasan pekuburan juga berdekatan letaknya dengan kawasan pembakaran sampah, dan dari sini dikembangkanlah konsep tentang api neraka yang panas di bawah muka Bumi, dan dikembangkan lebih jauh sebagai tempat penghukuman orang jahat yang tidak lagi dipandang hanya sebagai bayang-bayang, tetapi sebagai entitas personal yang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka selama masih hidup dalam dunia.

Dalam mitologi Yunani, yang diadopsi oleh kekristenan perdana, dibayangkan dunia di bawah muka Bumi yang dikuasai Hades, Dewa kematian dan hakim atas arwah-arwah.

Karena pengaruh agama Persia (Zoroastrianisme), Yudaisme kuno membayangkan sheol bukan lagi di bawah muka bumi, tetapi suatu kawasan adikodrati yang tak bisa ditentukan lokasinya, yang corak dan sifatnya dipertentangkan secara dualistik dengan surga adikodrati yang juga lokasinya tak bisa ditentukan. Dan setiap kawasan ini dibayangkan ada penguasanya sendiri-sendiri.

Wednesday, June 29, 2011

Tiga Ranah Debat Sains dan Agama


Tulisan ini menyoroti tiga ranah debat antara sains dan agama: pertama, ranah moralitas; kedua, ranah sains dan wahyu skriptural; dan ketiga, ranah filosofis eksistensi Allah dan hakikat manusia. 


Moralitas
Tentu nilai-nilai altruistik yang umum ditawarkan agama-agama kuno, yang mendorong manusia mau berkorban demi kebaikan manusia lainnya, tetap relevan. Tetapi banyak moralitas yang ditawarkan agama-agama kuno tak cocok lagi sekarang ini.

Semua kitab suci agama kuno ditulis dalam suatu kebudayaan patriarkal yang merendahkan kaum perempuan. Patriarkalisme ini berbenturan dengan moralitas modern yang membela kemitraan sejajar perempuan dan lelaki dalam semua aspek kehidupan. Begitu juga, sementara orang modern menerima kesetaraan kalangan LGBT di semua bidang kehidupan, kalangan skripturalis kebanyakan agama membenci mereka. Agama-agama teistik kuno, termasuk Yesus dan kekristenan perdana, membela teokratisme, yang kalau diterapkan sekarang akan berbenturan dengan banyak nilai moral yang dibela sistem demokrasi modern. Dalam dunia kuno, genosida dipraktekkan atas nama suatu allah, sementara kini dipandang sebagai satu musuh umat manusia. Dalam zaman modern, pemikiran bebas didorong dan dijamin oleh UUD suatu negara, tapi para agamawan berbagai agama memakai kitab suci untuk memberangus pemikiran yang tak sejalan dengan isi kitab suci. Moralitas yang ditarik dari teks-teks legal dalam kitab-kitab suci kuno banyak bertabrakan dengan moralitas yang manusia modern susun dengan terutama memperhitungkan konteks sosio-historis suatu tindakan.

Pendek kata, ada banyak nilai moral yang ditawarkan kitab-kitab suci kuno, yang tak kena lagi untuk zaman sekarang. Akibatnya, fungsi agama sebagai satu sumber terpenting ajaran moral bagi kehidupan modern dipertanyakan. Sam Harris, dalam buku terbarunya, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values(2010), menunjukkan bahwa sains modern, khususnya neurosains (= sains tentang sifat, kapasitas dan cara kerja neuron-neuron yang membentuk organ otak manusia), dapat menjadi satu sumber nilai-nilai moral yang dibangun berdasarkan suatu kesadaran bahwa semua manusia membutuhkan well-being, kesejahteraan, bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakatnya. Karena otak melahirkan sains, dan sains memunculkan teknologi, dan keduanya digunakan untuk kesejahteraan manusia dan ketahanan semua bentuk kehidupan, maka otak juga akan sanggup, tanpa agama sekalipun, untuk menggariskan nilai-nilai moral sekuler, yang mengarahkan tindakan manusia ke suatu tujuan pamungkas, yakni  menghasilkan, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua insan.

Sains modern menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu kemampuan genetik untuk mempertahankan kehidupan mereka, lewat “selfish gene” (Richard Dawkins), dan lewat suatu mekanisme sosio-biologis “survival of the fittest” (Charles Darwin) yang bekerja dalam proses evolusi biologis, sosial dan kosmologis yang tak pernah selesai. Dalam diri spesies homo sapiens, manusia cerdas, yang memiliki “self consciousness” (kesadaran diri), dorongan mempertahankan kehidupan tak lagi bersifat naluriah, melainkan dipikirkan, diprogram, dan dievaluasi oleh otak manusia, dan dijalankan dalam tindakan dan perilaku. Dalam rangka inilah otak manusia menunjukkan suatu kemampuan untuk melahirkan nilai-nilai moral, lewat sains, lewat kesadaran yang tertanam dalam otak, dan lewat kemampuan berpikir retroaktif dan antisipatif yang menembus ruang dan waktu, ke belakang maupun ke depan.

Sains dan Wahyu Skriptural
Pengetahuan modern dan cara menganalisis objek-objek secara saintifik baru muncul abad 16 atau abad 17 lewat kegiatan penelitian Galileo Galilei (1564-1642), yang kini diakui sebagai Bapak sains modern, dan lewat analisis filosofis rasionalis René Descartes (1596-1650) yang diakui sebagai Bapak filsafat modern dan dikenal luas lewat sebuah pernyataannya “Cogito ergo sum”, “Aku berpikir, maka aku ada.”

Karena semua kitab suci ditulis pada masa pramodern, ketika orang belum mampu berpikir, mengobservasi dan menganalisis secara saintifik, jelas mustahil jika orang mau menemukan sains modern dalam kitab-kitab suci kuno. Jika kitab-kitab suci kuno benar memuat sains, mustinya sejak dulu para ahli kitab suci bisa menjadi para penemu sains. Faktanya tak demikian.

Sains modern lahir bukan dari kegiatan mengkaji kitab suci apapun, tetapi dari eksperimentasi, dari observasi atas segala fenomena alam, dan dari kegiatan berpikir yang logis, mendasar, runtut, analitis, konsisten dan koheren, dan dari bukti-bukti empiris objektif. Kitab-kitab suci disusun berdasarkan suatu iman pada keberadaan makhluk-makhluk adikodrati (Allah, misalnya), tanpa suatu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim imaniah ini.

Suatu klaim saintifik hanya diterima benar jika ada bukti-bukti empiris yang mendukungnya; ini yang disebut sebagai epistemologi evidensialis. Kitab-kitab suci mengklaim kebenaran imaniah yang berlaku absolut dan diyakini tak bisa salah karena dipercaya datang sebagai wahyu; ini yang disebut sebagai epistemologi revelatif, yang bertabrakan dengan epistemologi evidensialis dalam dunia sains. Sains tak bisa diabsolutkan, tak bisa diilahikan, meskipun tentu saja ada berbagai posisi saintifik yang sudah teruji dan sudah mapan. Sains juga tidak bisa diklaim tidak bisa salah, tetapi selalu terbuka pada falsifikasi saintifik dan reformulasi.

Banyak agamawan mengklaim bahwa kebenaran-kebenaran yang diberitakan dan dipertahankan dalam kitab suci (mereka) adalah kebenaran-kebenaran mutlak yang serba pasti, tak bisa salah dalam segala hal, karena dipercaya diberitahukan atau diwahyukan oleh Allah yang tak bisa salah, sehingga terjamin kebenarannya, dan berlaku kekal, tak pernah usang. Klaim ini sebetulnya salah sama sekali.

Justru kebenaran-kebenaran yang diwartakan agama-agama adalah kebenaran-kebenaran yang paling tidak pasti, paling relatif, sebab hal-hal yang diklaim sebagai kebenaran dalam agama-agama tidak berpijak pada bukti-bukti empiris objektif yang dapat diobservasi oleh indra atau oleh peralatan teknologis, melainkan hanya dipercaya saja secara subjektif. Sebaliknya, kebenaran-kebenaran saintifik jauh lebih pasti ketimbang kebenaran-kebenaran yang diberitakan agama-agama, sebab semua kebenaran sains diklaim benar dengan berdasar bukti-bukti empiris objektif yang bisa diobservasi oleh indra dan oleh peralatan teknologis. Bahkan ada banyak kebenaran saintifik yang kebenarannya sudah mencapai status kebenaran mutlak, sebagai kebenaran-kebenaran saintifik yang sudah mapan, misalnya hukum-hukum besi fisika yang tak bisa salah, dan berlaku universal, di muka Bumi maupun di seluruh jagat raya.   

Banyak agamawan mengklaim bahwa kitab suci mereka sejalan dengan sains modern. Tetapi sebetulnya mereka hanya dengan paksa mencocok-cocokkan sains modern dengan kitab suci. Jika sains yang semula diklaim sejalan dengan kitab suci berubah, mereka pasti akan mencari teks skriptural lain untuk dipaksa sejalan dengan sains modern. Kalaupun sejumlah agamawan bisa dengan jujur mempertemukan sains modern dengan keyakinan religius mereka, ternyata keyakinan religius mereka sudah sangat tidak ortodoks lagi.

Kini banyak agamawan dari berbagai agama mengklaim bahwa pemikiran keagamaan mereka, dan khususnya yang terekam dalam kitab-kitab suci mereka, sejalan dengan fisika quantum. Tetapi fisikawan Victor J. Stenger menunjukkan bahwa klaim-klaim semacam ini diajukan karena para agamawan itu salah memahami berbagai dimensi fisika quantum; tentang ini, lihat bukunya Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness (Amherst, New York: Prometheus Books, 2009). Kalaupun para agamawan dapat memasukkan Allah sebagai suatu faktor dalam sains, Allah semacam ini hanya berfungsi sebagai “god of the gaps”, Allah pengisi “celah-celah” yang masih belum bisa diisi oleh sains. Ketika celah-celah ini suatu saat berhasil ditutup oleh data serta bukti saintifik, Allah semacam ini akan menganggur, tak lagi aktif mengisi celah-celah sains. Tempat Allah semacam ini dalam dunia ditentukan oleh para agamawan, dan merekalah yang memberi tugas pada Allah ini, bukan sebaliknya. Aneh juga ada Allah yang semacam ini.

Belakangan ini ada berbagai usaha membangun “sains skriptural”, misalnya sains Vedik, sains Quranik, atau sains Alkitabiah. Tujuannya antara lain bersifat politis, yakni untuk mengunggulkan kedudukan satu agama dalam suatu negara, dan untuk mengendalikan dan menjinakkan arah gerak progresif sains lewat kekuasaan monster agama, dengan akibat seluruh rakyat negara ini diperbodoh oleh para agamawan. Di kalangan Muslim, misalnya, ada berbagai usaha untuk membangun sains Islam, yang dibuat berkonfrontasi dengan apa yang mereka dengan keliru sebut sains Barat, sains imperialis Amerika! Anehnya, banyak kaum bangsawan di Saudi Arabia malah menyekolahkan putera-puteri mereka di universitas-universitas besar di Amerika Serikat, sebuah negara besar modern yang mereka cap imperialis!

Akhirnya akan pasti tampak bahwa semua “sains skriptural” ini hanyalah pseudo-science (atau malah junk science, dalam penilaian para saintis tulen Barat) yang tak memiliki bukti empiris dan dasar teoretis saintifik apapun, sehingga hanya pantas dipandang sebagai doktrin keagamaan, seperti halnya kreasionisme dan intelligent design yang diciptakan kekristenan Amerika. Karena para agamawan kini sedang membawa agama ke dalam ranah sains dan ranah politik, tentu saja bisa dimengerti mengapa para saintis tulen (Barat) kini melakukan banyak pembedahan atas semua klaim keagamaan dengan memakai pisau-pisau bedah sains.

Eksistensi Allah dan Hakikat Manusia
Sampai kini, faktanya, tak ada satu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim agama-agama teistik bahwa Allah itu ada. Penelitian fisikawan Victor J. Stenger, misalnya, malah menghasilkan suatu kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada. Dua buku mutakhirnya perlu dibaca, Has Science Found God? The Latest Results in the Search for Purpose in the Universe (2003), dan God: The Failed Hypothesis. How Science Shows That God Does Not Exist (2007).

Ketimbang menerima hipotesis kaum agamawan bahwa alam semesta ini ada karena telah diciptakan oleh Allah, sains fisika kini mengargumentasikan bahwa jagat raya ini tercipta sendiri dari ketiadaan, karena bekerjanya gaya gravitasi supersimetri, prinsip relativitas, dan terjadinya fluktuasi quantum dalam suatu titik ruang-waktu yang kosong dan acak, yang tak memungkinkan adanya ruang kosong apapun yang tak berisi energi. Fluktuasi quantum ini bermuara pada suatu inflasi atau eskpansi besar yang selanjutnya menimbulkan big bang. Fisikawan besar Stephen Hawking adalah salah seorang saintis yang berargumentasi demikian, dalam bukunya The Grand Design (2010).

Kini, para “saintis skriptural” Barat, dengan topangan dana dari The John Templeton Foundation, sedang fokus pada berbagai penelitian terhadap mind, pikiran, dengan harapan bahwa mind bisa dibuktikan sebagai suatu zat spiritual, bukan zat material. Alasan mereka: Jika pikiran manusia adalah suatu zat rohani, maka Allah sebagai roh tentu ada. Tapi pertanyaannya adalah: Mengapa pikiran manusia lenyap ketika otak tidak lagi menerima pasokan nutrisi, hormon dan oksigen, ketika tak ada lagi energi elektrokimiawi neurologis yang mengalir dalam otak manusia, ketika manusia mati? Bukankah kalau pikiran manusia itu suatu zat rohani yang independen, tak terikat pada zat material organ otak, pikiran ini akan tetap ada kendatipun otak rusak atau manusia si pemilik otak mati, dan manusia akan dapat tetap hidup hanya dengan roh sekalipun tidak memiliki organ otak? Karena manusia pasti mati ketika otaknya mati atau ketika otaknya dicopot, atau pikiran lenyap ketika otak mati, berarti roh manusia itu tidak ada, dus berarti juga Allah itu, sebagai suatu zat spiritual yang memberi roh kehidupan kepada jasad manusia, tidak ada.

Sebuah argumen ilustratif analogis telah diajukan kalangan agamawan untuk menolak kesimpulan dalam alinea di atas, bahwa roh Allah dan roh manusia itu tidak ada. Mereka memakai ilustrasi stasiun pemancar gelombang radio yang menyiarkan gelombang radio ke mana-mana lalu ditangkap oleh sebuah pesawat radio. Dalam ilustrasi ini, pemancar gelombang radio itu surga, dan gelombang radionya adalah roh Allah, dan pesawat penerima gelombang radio adalah otak manusia, yang berfungsi sebagai antena-antena penangkap "gelombang radio ilahi". Kata mereka, kalau pesawat radionya dimatikan (dalam posisi OFF) atau rusak, gelombang radionya dan stasiun pemancar gelombang radionya masih tetap ada, tidak ikut mati atau rusak.

Kepada kalangan agamawan yang berargumentasi demikian, hanya perlu diajukan satu permintaan: Tunjukkanlah kepada dunia di mana lokasi geografis stasiun pemancar gelombang radio yang mereka sebut surga, dan tunjukkanlah lewat radar adanya gelombang radio ilahi yang mereka bayangkan sebagai roh Allah! Permintaan ini sangat serius, sebab kalau organ lunak berwarna putih, yang memiliki massa, yang objektif ada di dalam tempurung kepala kita, yang kita namakan otak, adalah penerima gelombang radio ilahi, maka gelombang radio ilahi ini juga harus bisa ditunjukkan keberadaannya secara empiris objektif di layar radar, dan lokasi pemancarannya juga harus dapat diidentifikasi-- lebih-lebih sekarang ini teknologi radar sudah sangat maju!

Kalangan skripturalis teistik berkeras bahwa manusia adalah suatu ciptaan unik Allah, yang menjadi hidup karena hembusan roh Allah, dan ada dalam planning Allah sejak awal untuk menjadikannya mahkota termulia dari semua ciptaan lain, untuk berkuasa atas jagat raya. Namun para saintis menegaskan bahwa manusia adalah salah satu bentuk kehidupan yang pada level fundamental tak berbeda dari semua benda material lain dalam jagat raya, yang tersusun dari partikel-partikel subatomik u-quark,d-quark dan elektron.

Kita sudah tahu bahwa sains evolusi, dengan didukung bukti-bukti empiris yang makin melimpah, sudah berhasil memperlihatkan bahwa homo sapiens, makhluk cerdas, yang kita beri nama manusia, adalah makhluk yang sungguh-sungguh berasal dari alam dan merupakan bagian dari alam, yang pada awalnya hanya memuat satu bentuk kehidupan bersel tunggal arkhaea. Buku bagus paling mutakhir yang menggambarkan proses evolusi ini dengan bukti-bukti sangat melimpah, adalah buku Richard Dawkins, The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution (New York: Free Press, 2009). Sebuah buku tentang sains evolusi yang juga ada di rak buku saya, yang isinya sangat terang dan gamblang, adalah buku karya Jerry A. Coyne, Why Evolution Is True (Penguin Books, 2009).

Sains evolusi menunjukkan bahwa manusia muncul di Bumi sebagai suatu hasil proses evolusi biologis sangat panjang menurut suatu mekanisme seleksi alamiah, proses evolusi yang terus berlangsung acak, buta, tak bertujuan, tak terencana dan tak terpandu oleh kekuatan eksternal adikodrati apapun. Jadi, "the intelligent designer", sang perancang cerdas, yang mereka namakan Allah, sama sekali tak ada, tak memberi desain apapun atas alam ini dan semua bentuk kehidupan di dalamnya, dan khususnya tak merancang dengan cerdas homo sapiens. Dalam menjelaskan asal-muasal semua bentuk kehidupan, khususnya bentuk kehidupan yang kita namakan homo sapiens, hipotesis bahwa Allah adalah sumber semua bentuk kehidupan ini, sama sekali tidak diperlukan. The supernatural designer is dead!

Tetapi, kalangan agamawan dan "saintis teistik" sudah lama berkeras bahwa alam semesta kita ini, dan khususnya sistem matahari kita (solar system), telah dengan luar biasa "disetel dengan pas" (fine-tuned) sehingga menghasilkan suatu zona yang cocok untuk munculnya bentuk-bentuk kehidupan dan khususnya spesies manusia di planet Bumi lewat evolusi. Zona yang terbentuk oleh fine-tuning ini dinamakan Goldilocks Zone. Kalangan ilmuwan juga mengajukan sebuah istilah lain, yakni prinsip anthropik dalam teori tentang fine-tuning ini. Prinsip ini menyatakan bahwa karena dalam jagat raya ini kita, manusia (anthropos), dapat hidup, maka semua hukum fisika dalam jagat raya kita haruslah hukum-hukum yang bersahabat dengan bentuk-bentuk kehidupan sehingga dapat memunculkan kehidupan.

Salah seorang yang dengan gigih mempertahankan teori tentang fine-tuning adalah seorang yang berpengaruh, yang bernama Francis Collins, direktur National Institute of Health di Amerika Serikat. Bahkan ada sejumlah orang yang melangkah lebih jauh untuk membela teisme, dengan menyatakan bahwa fine-tuning dan Goldilocks Zone tak bisa lain selain buah kreasi suatu Oknum cerdas supernatural yang merancang semua kondisi awal yang tercipta pada saat big bang, yang memungkinkan terciptanya fine-tuning dan zona istimewa semacam ini; lantas mereka mengklaim bahwa "sains telah menemukan Allah".  

Tetapi lagi-lagi fisikawan Victor J. Stenger telah menulis sebuah buku mutakhir yang sangat bagus, yang menyajikan analisis-analisis saintifik untuk menunjukkan bahwafine-tuning adalah sebuah konsep yang salah. Bukunya ini berjudul The Fallacy of Fine-Tuning: Why the Universe Is Not Designed for Us (New York, Amherst: Prometheus Books, 2011).

Dalam bukunya itu, Stenger (dan banyak fisikawan lain) menegaskan bahwa jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan suatu bagian dari banyak jagat raya yang dalam kosmologi mutakhir disebut multiverse, yang berisi jagat raya individual yang jumlahnya tak terbatas, yang membentang ke segala arah tak terbatas dalam ruang tak terbatas, dan untuk jangka waktu tak terbatas di masa lampau dan di masa depan. Secara kebetulan kita hidup dalam suatu jagat raya yang cocok untuk jenis kehidupan kita. Jagat raya tidak disetel dengan pas untuk mempersiapkan kedatangan manusia di dalamnya, melainkan kitalah, manusia, yang telah disetel dengan pas oleh kekuatan-kekuatan alam sehingga kita cocok dengan jagat raya kita khususnya. Tulis Stenger, "Parameter-parameter fisika dan kosmologi tidak secara khusus telah disetel untuk cocok bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia", dan "jagat raya akan tampak sebagaimana seharusnya seandainya pun tidak disetel dengan pas untuk spesies manusia."

Tetapi kalangan agamawan teistik, bahkan juga sekian saintis yang tak beragama, menolak konsep multiverse yang digunakan untuk menolak fine-tuning, dengan alasan bahwa solusi multiverse adalah suatu solusi yang "non-saintifik" sebab kita tidak memiliki suatu cara apapun untuk mengobservasi adanya jagat raya paralel di luar jagat raya kita sendiri.

Terhadap penolakan ini, Stenger, dalam bukunya itu (halaman 22-23), menulis: "Sesungguhnya suatu multiverse adalah suatu konsep yang lebih saintifik dan lebih hemat ketimbang menghipotesiskan adanya suatu roh pencipta yang tak dapat diobservasi dan konsep adanya hanya satu jagat raya tunggal. Multiverse adalah suatu hipotesis saintifik yang sah, sebab konsep ini sejalan dengan pengetahuan terbaik kita", salah satunya adalah teori dawai (string theory) yang diajukan oleh Leonard Susskind.

Menurut teori dawai, atom-atom fundamental dari jagat raya bukanlah partikel-partikel nol-dimensi, melainkan dawai-dawai (strings) satu-dimensi yang bervibrasi. Menurut teori ini, jagat raya memiliki enam dimensi, bukan hanya 4 dimensi ruang dan waktu. Dalam teori dawai, ada 10 pangkat 500 jagat raya yang masing-masing berbeda, dengan parameter-parameter yang berbeda. Melalui proses quantum natural, terbentuk 10 pangkat 500 jagat raya yang tentunya dari antaranya tidak hanya ada 1 jagat raya yang memiliki parameter seperti yang terdapat dalam jagat raya kita yang cocok untuk kehidupan.         

Menyangkut terciptanya kehidupan, sains biologi sintetis di tahun 2010, seperti telah ditunjukkan oleh The J. Craig Venter Institute di Amerika Serikat, telah berhasil membuktikan dalam laboratorium bahwa kehidupan cukup dihasilkan dari zat-zat kimiawi yang mati, yang persenyawaannya berlangsung menurut suatu informasi genetik yang disusun secara digital oleh sebuah komputer.

Craig Venter dkk tidak komat-kamit berdoa meminta roh Allah menghidupkan senyawa kimiawi yang mati, tetapi otak mereka bekerja keras dan mata mereka terkonsentrasi pada peralatan teknologis yang sedang bekerja, ketika mereka melakukan uji-coba penciptaan kehidupan ini, yang bermuara pada suatu keberhasilan yang revolusioner gilang-gemilang, keberhasilan yang menghantam habis kepercayaan keagamaan bahwa manusia (atau makhluk hidup apapun)  diciptakan oleh Allah lewat pemberian nafas/roh kehidupan yang dihembuskan oleh Allah ini (tentang revolusi saintifik Craig Venter ini, masuklah kehttp://www.facebook.com/note.php?note_id=10150126200719096).

Penutup
Semua orang beragama tentu ingin agama tetap bisa memandu sains. Kenyataannya, sains bergerak masuk ke wilayah-wilayah yang dulu hanya dikuasai oleh agama, dan merebutnya dari tangan para agamawan. Maka para agamawan tak pelak lagi harus bekerja keras mencari jalan-jalan lain, dengan langkah pertamanya adalah memahami sains secara objektif.