Saturday, March 31, 2012

Jimly: Negara Tidak Berhak Mengakui Agama

http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/03/29/86721/Jimly-Negara-Tidak-Berhak-Mengakui-Agama/3
Sosbud | Kamis, 29 Maret 2012 23:19 WIB





Metrotvnews.com, Jakarta: Pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie berpendapat negara harus berkepentingan sekaligus berperan dalam memberdayakan agama untuk meningkatkan kualitas moral warga.

"Negara di satu sisi memang harus memisahkan diri dengan agama, tetapi juga jangan bermusuhan karena peran agama sangat penting dalam peningkatan kualitas moral warga," katanya dalam "Pengajian Komunitas Titik Temu" bertema "Konstitusi dan Kemajemukan Agama di Indonesia" yang diadakan oleh "Nurcholis Madjid Society" di Jakarta, Kamis (29/3).

Fungsi negara dalam hubungannya dengan agama, menurut Jimly, secara realistis bisa dilakukan dengan memfasilitasi semua aliran ataupun kepercayaan. "Jadi, hubungan antara negara dengan agama bukan terjadi dalam bentuk pengakuan terhadap agama tertentu sebagaimana tercantum pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama (UU PNPS)," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

UU PNPS menyebut bahwa negara hanya mengakui enam agama yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. "Negara tidak berhak untuk mengakui agama karena usia agama jauh lebih tua dibandingkan dengan usia negara," kata Jimly.

Jimly memaparkan lima macam bentuk hubungan antara negara dengan agama. Yang pertama, menurutnya, adalah bentuk ekstrem yakni pemusuhan terhadap agama sebagaimana terjadi dalam negara-negara Komunis di Eropa Timur pada masa perang dingin. "Mereka tidak membolehkan agama hidup di ruang publik dan mengagitasi masyarakat negaranya untuk ikut memusuhi agama," kata Jimly.

Pola hubungan antara negara dan agama yang kedua bisa ditemukan di Prancis dan Turki. Negara sama sekali tidak membolehkan simbol-simbol agama muncul di ruang publik, namun di sisi lain mengizinkan masyarakatnya untuk berkeyakinan terhadap Tuhan.

"Model yang ketiga adalah hubungan yang moderat sebagaimana bisa ditemui di Amerika Serikat. Di sini, negara secara tegas memisahkan diri dengan agama, namun sekaligus berkepentingan memberdayakan agama," kata Jimly.

Kontinum keempat hubungan agama dan negara dalam pandangan Jimly bisa ditemukan di Indonesia. Negara itu, menurut Jimly, tidak secara formal memisahkan diri dari prinsip ketuhanan, namun tidak memaksa penduduknya untuk memeluk aliran kepercayaan tertentu. "Yang terakhir bisa kita lihat di Arab Saudi atau Brunei Darussalam yang secara formal berafiliasi dengan agama tertentu," kata dia.

Menurut Jimly, hubungan yang ideal antara kedua komponen kehidupan masyarakat itu adalah pola yang ketiga, namun di sisi lain mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan waktu untuk mencapai idealitas tersebut.(Ant/BEY)

Wednesday, March 28, 2012

Tajuk Sindo: Potensi yang luar biasa

http://www.sindonews.com/read/2012/03/28/458/600901/potensi-yang-luar-biasa

detail

Kita memiliki potensi pariwisata atau turisme yang luar biasa. Sayang, potensi demikian hanya dipandang atau diberlakukan secara biasa. Potensi pariwisata ini bisa dilihat dari program Beyond Bali yang meliputi 15 daerah yang sebagian besar berada di luar Bali (harian Seputar Indonesia, Minggu, 25 Maret 2012).

Dari Pelabuhan Sabang di ujung Pulau Sumatera hingga Raja Ampat di timur Indonesia, semua memiliki nilai jual untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Potensi pariwisata yang kita miliki punya nilai jual yang tinggi dan bukan pada tahun-tahun belakangan ini saja muncul, tetapi sejak belasan atau bahkan puluhan tahun yang lalu.

Potensi yang luar biasa, tetapi dilihat atau diberlakukan biasa dapat kita lihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum peduli dengan potensi luar biasa ini. Kita masih terpaku pada jualan tentang komoditas perdagangan, baik komoditas pertanian ataupun energi bumi (minyak atau gas). 

Tengok saja agenda lawatan pemerintah kita ke luar negeri yang selalu lebih banyak diisi dengan agenda perdagangan, bukan pariwisata. Padahal, dalam hal perdagangan kita lebih banyak dirugikan negara-negara berekonomi kuat.

Kita yang disebut penghasil minyak mentah, tetapi justru melakukan impor minyak jadi dari negara bukan penghasil minyak. Kita adalah salah satu penghasil minyak sawit terbesar di dunia, tetapi dalam kebijakan perdagangan luar negeri kita selalu dikerjain. 

Ini bukan berarti mengecilkan potensi perdagangan hasil bumi atau energi bumi. Tapi seharusnya pemerintah juga melihat dengan jelas potensi pariwisata kita yang luar biasa. Kita bisa menengok Prancis yang pada 2011 berpenduduk sekitar 63 juta jiwa.

Jumlah wisatawan yang masuk ke Prancis pada 2011 mencapai 78 juta wisatawan asing dan bisa mendatangkan devisa sekitar USD45 miliar atau sekitar Rp405 triliun. Padahal “jualan” Prancis hanyalah Menara Eifel, wisata belanja, atau tempat-tempat bersejarah milik mereka. 

Adapun potensi pariwisata milik Prancis takseberapa dibandingkan dengan potensi pariwisata Indonesia. Artinya, potensi wisata di Prancis hanya biasa, tetapi dipandang atau diberlakukan secara luar biasa. 

Kita hanya mampu mendatangkan 7,5 juta wisatawan asing, itu pun lebih banyak didominasi dari Malaysia dan Singapura. Negara tetangga Singapura yang nyaris hanya menjual wisata belanja saja mampu mendatangkan wisatawan sekitar 13 juta dengan potensi devisa sekitar 33 miliar dolar Singapura atau sekitar Rp161 triliun.

Karena potensi yang luar biasa hanya dipandang atau diberlakukan biasa ini, jumlah wisatawan kita masih jauh dari Prancis atau bahkan Singapura. Ada beberapa bukti kuat kenapa potensi pariwisata yang luar biasa ini hanya dipandang biasa. Pertama tentang infrastruktur kita. 

Bandara, pelabuhan, jalan hingga fasilitas transportasi darat kita sangat tidak layak untuk menerima kunjungan wisatawan. Aksesibilitas kita masih sangat buruk. Ini seolah kita memiliki barang yang bagus, tetapi untuk membeli barang tersebut sangat sulit.

Kabar terakhir, bandara terbesar milik kita termasuk salah satu bandara terburuk di dunia. Kedua adalah tentang kemudahan dalam melakukan kunjungan ke Indonesia. Jika ingin mendatangkan belasan juta atau bahkan puluhan juta wisatawan, kemudahan untuk masuk ke negeri ini harus dipermudah.

Selain birokrasi sulit dan berbelit, ditambah lagi banyaknya oknum aparat yang justru melakukan pungutan liar kepada wisatawan. Sekali lagi ini potensi luar biasa. Bayangkan jika kita mampu mendatangkan wisatawan dalam jumlah belasan ribu atau puluhan ribu, mungkin devisa yang dihasilkan bukan hanya Rp81 triliun, tetapi mencapai ratusan triliun.

Singapura yang hanya memiliki wisata belanja dan Prancis yang memiliki Eifel serta wisata belanja saja bisa menghasilkan ratusan triliun, kenapa kita yang punya potensi luar biasa tak bisa melebihi mereka? Kita bisa asalkan potensi ini dipandang dan diberlakukan dengan cara luar biasa.

Bahaya Industri Agama

https://www.facebook.com/groups/103950206399622/doc/135670533227589/



Satu dekade yang lalu, Inul Daratista digugat ramai-ramai oleh massa berjubah agama hingga sampai ke Majlis Ulama Indonesia. Gara-gara “pengeboran Inul” muncul H. Rhoma Irama di garis depan, dan sejumlah Ulama yang mendatangi DPR agar segera disahkan UU Anti Pornografi. Rupanya massa pedangdut lebih memihak Inul daripada Bang Haji, bukan karena fatwa keagamaannya, namun soal kejujuran beragama. Inul lebih jujur, karena dia “ngebor” semata mencari uang di Jakarta. Tetapi Raja Dangdut itu menggunakan lambang-lambang dakwah dibalik industri musikalnya, yang sangat tipis batasannya, apakah berdakwah melalui musik atau membangun industri musik dengan merek dakwah?

Dalam waktu bersamaan, kiai dan budayawan, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) membuat lukisan heboh.  Melukis lingkaran majlis dzikir, ditengahnya ada perempuan sedang mengebor gaya Inul Daratista.  Suatu kritik spiritual yang luar biasa dalam kanvas itu, betapa banyaknya majlis dzikir yang tak lebih dari tirai bagi syahwat para pelakunya. Mereka kehilangan Allah Swt, ketika berdzikir, malah perpektif nafsunya yang muncul dalam ritualnya.

Ketidakjujuran seringkali menguatkan politisasi agama dan menciptakan tuhan-tuhan semu yang menjanjikan birahi instan, untuk sekadar melupakan problema sosial, ekonomi dan politik pada publik, adalah bentuk pelarian yang sungguh memuakkan. Belakangan malah muncul gerakan bisnis bernuansa spiritual, kecerdasan spiritual, sedekah berlipat duniawi, pelatihan-pelatihan pengembangan SDM bernuansa spiritual,  agar mendapatkan dua pundi-pundi sekaligus, mati masuk syurga, sekaligus dapat untung duniawi.  Gerakan yang justru menimbulkan pembusukan esensi agama itu sendiri.

Mengapa? Karena terjadi transaksi “gaya hidup beragama”, sebagai jawaban instan atas peluang-peluang material di celah-celah spiritual yang kososng. Hasilnya adalah status baru dalam kehidupan sosial modern, sosok manusia dengan gaya hidup modern, namun tetap religius dengan mainstream agar dipandang sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Padahal ajaran agama, sama sekali tidak mentolerir cara beragama yang riya’ dan hipokrit seperti itu.

Kasus-kasus penyimpangan atas nama agama, atau yang kebetulan dilakukan tokoh yang berlatar agama, mengingatkan kita betapa bahaya bendera-bendera agama dikibarkan untuk kepentingan industri ekonomi dan politik. Lebih-lebih ketika ummat terpedaya oleh kelatahan budaya, bahwa setiap yang didukung oleh mayoritas itu memiliki kebenaran mutlak, dan yang minoritas itu tidak lebih dari buih sampah yang batil. Padahal kebenaran bisa didukung mayoritas, dan bisa didukung hanya minoritas. Begitu juga sebaliknya, kebatilan.

Jika kita survey di seluruh negeri ini, merk-merk dagang dan merk “politik” dengan bernuansa serba religius, jumlahnya hampir ratusan. Karena menurut teori marketing, sebuah produk yang bisa melekat secara emosional setara agama, maka produk itu benar-benar sukses di pasar. Inilah yang menarik proyek “berhala bisnis” yang dijadikan lahan industri siapa pun yang ingin memaksa Tuhan menuruti selera nafsunya.

Karena komoditas manusia modern telah melampaui takarannya, maka perkembangan industri muncul dengan eksploitasi apa pun yang untuk membangun kapitalisasi dengan segala cara. Bahkan, konsumsi-konsumsi psikhologis yang maniak terhadap kekerasan, bisa dijadikan lahan bisnis kekerasan, dan berujung industri perang. Konsumsi hedonikal, bisa menyeret maniak kebinatangan manusia untuk dijadikan obyek potensial untuk industri syahwat, pemuasan perut, dan emosi status sosial, maupun mimpi semunya.

Kekerasan, kebuasan dan kebinatangan, akan terus tumpang tindih saling berkelindan dalam gerakan peradaban yang destruktif.  Agama dan simbol spititual menjadi sasaran paling potensial untuk dijadikan legitimator atas usaha-usaha syahwatiah tersebut, dan sangat berbahaya jika masuk dalam bursa pasar, sebagai spirit  dari satu sisi dua mata uang globalisasi.

Agama mana pun ketika tampil dalam konstruksi verbal, formal, dan simbolik, selalu berujung keruntuhan historinya, karena kepentingan berebut penguasaan simbol-simbol agama tidak pernah muncul sebagai kekuatan sejarah, kecuali sekadar buih-buih yang hebat yang menghempaskan dirinya sendiri dalam kebudayaan yang hampa, tanpa moral. Sehina mereka yang memperdagangkan akhirat untuk kepentingan dunianya, atau sehina mereka yang berbisnis dengan Tuhan, karena memaksakan nafsunya untuk mengukur kriteria keabsahan Ilahi dibalik sukses dan gagalnya urusan duniawi.

Kisah sedih yang berulang
Dalam kultur “amaliah publik” (awam) di bawah, tentu lebih banyak lagi  munculnya instanisme religious untuk mengukur derajat kesucian tokoh atau pemimpin agama.  Hal ini ditandai maraknya dunia magic dan hal-hal luar biasa yang dilatari kultur spiritual seseorang, lalu dijadikan ukuran status kesucian, manakala instanisme duniawi bisa diproduksi oleh kekuatan spiritualnya. Inilah bentuk-bentuk  pembebasan semu penuh tipudaya (ghurur) yang tidak membebaskan belenggu ketololan bangsa, khususnya umat beragama.

Kisah sedih soal manipulasi keagamaan, cabulisme, dan munculnya kepalsuan-kepalsuan spiritual, senantiasa berulang dalam kehidupan kita, terutama ketika depressi ekonomi dan politik menjadi kabut yang tidak menumbuhkan semangat dan harapan, maka spontanitas emosi sosial selalu bersemburat tanpa kendali, bahkan dalam pelarian spiritualnya.

Lembaga-lembaga agama, pemerintah dan institusi pendidikan sangat bertanggungjawab atas keberlangsungan kekuatan moral dalam beragama. Karena, dalam Islam, institusi itu mana pun, baik pemerintahan maupun Ormas, lembaga pendidikan,  dibangun justru untuk menegakkan agama. Bukan sebaliknya, agama dijadikan lahan formalisasi, bagi kepentingan ekonomi dan politik,  yang berujung perebutan hegemoni konflik.

Agama bukanlah hiburan spiritual yang dipertontonkan. Spiritualitas agama bukan menjadi pintu gerbang bagi para pemburu harta karun, apalagi untuk membangun piramida tahta. Jika memegang amanah agama ini seperti memegang bara, janganlah memilih salju duniawi melalui jubah agama. Karena anda akan sulit membedakan, mana nafsu menghadap Allah Swt, dan mana cinta kepada Allah Swt.

M. Luqman Hakim, Ph D 
Dimuat di majalah GATRA edisi 16 / XVIII 29 Peb 2012

Mahfud: Hak Keperdataan Anak Diluar Nikah Minus Waris

http://www.surya.co.id/2012/03/28/mahfud-hak-keperdataan-anak-diluar-nikah-minus-waris



MOJOKERTO I SURYA Online - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) salah kaprah dan tak paham konsep hukum yang dipakai MK terkait status anak yang lahir di luar nikah. Mahfud juga menampik jika keputusan yang ditelurkan pihaknya justru menghalalkan perzinahan.
Mahfud menegaskan, vonis MK itu justru sebagai langkah untuk menghalangi perzinahan. Dengan putusan itu kata Mahfud, maka orang yang melakukan perzinahan harus bertanggung jawab karena telah diancam hukuman.
”Kami menyiapkan ancaman hukuman bagi mereka yang tidak bertanggung jawab. Ini justru menghalangi adanya perzinahan,” kata Mahfud MD usai memberi kuliah umum di kampus Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Rabu (28/3/2012).
Ia mengakui ada beberapa pemahaman yang berbeda antara pihaknya dengan MUI. MUI sendiri kata Mahfud, menyamakan hubungan keperdataan dengan nazab. Padahal kata dia, dari sisi hukum, keduanya tidak memiliki hubungan (berbeda).
”MK menyatakan bahwa orang yang lahir di luar perkawinan itu punya hubungan keperdataan dengan bapaknya. Lalu oleh MUI hubungan keperdataan diartikan hubungan nazab. Ini yang salah,” katanya.
MK juga menyatakan bahwa perkawinan yang sah itu adalah dilakukan menurut agama masing-masing. Oleh sebab itu, setiap anak yang lahir di luar perkawinan yang sah, tidak mempunyai hubungan nazab, tapi ada hubungan dalam keperdataan. Ia mencontohkan jika ada anak yang lahir di luar perkawinan yang sah, sementara si bapak tidak mengakuinya.
”Nah, anak ini bisa melakukan tuntutan keperdataan kepada bapaknya,” katanya.

Namun, keperdataan yang dimaksud MK, bukan soal waris dan perwalian. Berdasar pada pasal 365 KUHPerdata, barang siapa melakukan sesuatu yang bisa merugikan orang lain, bisa dituntut.
”Sudah jelas. Bahwa keperdataan yang kami maksud bukan keperdataan yang behubungan dengan nazab, yakni soal waris dan perwalian,” ucap dia.

Monday, March 26, 2012

Ketimbang Meratapi Harga BBM, Orang Amerika Berhemat dengan 5 Tips Ini

http://jaringnews.com/ekonomi/umum/12357/ketimbang-meratapi-harga-bbm-orang-amerika-berhemat-dengan-tips-ini
Eben Ezer Siadari 



Berikut ini lima tips yang disarankan oleh Kelli Grant, Senior Consumer Reporter untuk SmartMoney.com.
WASHINGTON, Jaringnews.com -  Masyarakat AS sudah terbiasa dengan harga BBM yang tinggi. Walau pun kenaikan harga BBM cukup memprihatinkan mereka dewasa ini, umumnya masyarakat makin terdorong mencari cara kreatif agar dapat berhemat mengantisipasi harga BBM yang diperkirakan masih akan terus meningkat. Uniknya, para pebisnis pun tak kalah kreatif untuk memanfaatkan kenaikan harga BBM ini sebagai cara untuk menarik pelanggan.

Lalu, bagaimana cara orang AS berhemat di tengah situasi yang kurang mengenakkan ini? Berikut ini lima tips yang disarankan oleh Kelli Grant, Senior Consumer Reporter untukSmartMoney.com.

1.   Mengkaji ulang sistem pembayaran belanja. Seiring dengan terus membubungnya harga BBM di AS, banyak kartu kredit yang menawarkan rewards berupa bonus gratis pembelian BBM. SPBU juga banyak menawarkan potongan harga bagi pembelian secara tunai. Dua bonus ini disarankan agar semakin banyak dimanfaatkan masyarakat dalam menghemat belanja BBM. Di Indonesia sendiri, sejumlah penerbit kartu kredit sudah menawarkan rewards semacam ini.

2.   Penggunaan diskon belanja. Banyak supermarket di AS yang mengikat konsumennya dengan tawaran diskon pembelian BBM untuk sejumlah pembelanjaan minimal tertentu. Ini pun menjadi salah satu cara masyarakat AS untuk berhemat dalam membelanjakan pendapatannya untuk BBM. Dengan cermat merencanakan keperluan sehari-hari, misalnya dengan teratur berbelanja bulanan, selain berhemat dari segi frekuensi ke mal, juga mendapat bonus tambahan berupa potongan harga membeli BBM

3.   Mengkaji rute hemat bahan bakar.  Daripada melewati jalur yang selama ini ada, masyarakat mulai mencermati rute-rute baru yang lebih hemat BBM. Diantaranya dengan menggunakan perangkat GPS untuk menemukan rute paling efisien. Beberapa situs bahkan menyediakan aplikasi untuk diunduh, yang bisa menyediakan rute-rute efisien tersebut.

4.   Menjadi supir yang lebih sabar. Menurut Kementerian Energi AS, memacu kendaraan 5mph diatas 60 mph akan menambah konsumsi BBM sekitar US$0,3 per galon. Berhenti tiba-tiba atau menekan gas secara mendadak juga memboroskan BBM sekitar 33 persen. Berkendara secara kalem menghemat sampai US$1,28 per galon. Jadi masyarakat AS juga dianjurkan untuk menjadi pengemudi yang lebih bertanggung jawab dalam berkendara demi hemat energi.

5.   Membersihkan kendaraan secara rutin. Seringkali tanpa disadari ada banyak barang-barang menumpuk di bagasi. Padahal setiap tambahan beban 100 pon pada mobil, akan mengurangi keekonomian bahan bakarnya sampai 2 persen. Berbagai asesori seperti pembawa kargo di atap kendaraan,  juga akan mengurangi keekonomian bahan-bakar sampai 5 persen.

Wednesday, March 21, 2012

Indonesia Nenek Moyang Penduduk Madagaskar

http://sains.kompas.com/read/2012/03/22/05423437/Indonesia.Nenek.Moyang.Penduduk.Madagaskar
Yunanto Wiji Utomo | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Kamis, 22 Maret 2012 | 05:42 WIB 


 



SELANDIA BARU, KOMPAS.com - Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B, Rabu (21/3/2012), mengungkapkan bahwa orang Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar. Kesimpulan tersebut didapatkan setelah ilmuwan asal Massey University di Selandia Baru, Murray Cox, melakukan analisis DNA orang Indonesia dan Madagaskar (disebut Malagasi).

Dalam riset, Cox mengambil sampel DNA dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan serta 266 etnis Malagasi, terdiri dari Mikea, Vezo, dan Andriana Merina. Penelitian memfokuskan pada DNA Mitokondria, jenis DNA yang terdapat di organel sel yang berfungsi menghasilkan energi. DNA ini diturunkan lewat ibu.

Riset menunjukkan bahwa 22 persen sampel punya pola DNA Polinesia, ciri suku Polinesia namun jarang ditemukan di Indonesia Barat. Pada salah satu suku Malagasi, karakter ini ditemukan pada 1 dari 2 orang.

"Kami berpendapat kolonisasi awal (Madagaskar) oleh sekelompok kecil perempuan Indonesia, kurang lebih 30 orang," ungkap Cox seperti dikutip situs Discovery, Rabu hari ini.

Perempuan yang mengolonisasi Madagaskar masih produktif dan memiliki 93 persen gen yang terkait dengan Indonesia. Penemuan ini mungkin mengejutkan, namun beberapa bukti arkeologis dan linguistik mendukung. Secara linguistik, dialek Madagaskar mirip dengan Indonesia.

Bukti lain, banyak leksikon Madagaskar berasal dari bahasa Ma'anyan yang dipakai di lembah Sungai Barito, Kalimantan. Sementara, terdapat beberapa kata yang mirip bahasa Jawa, Melayu, dan Sansekerta.

Secara arkeologis, kolonisasi oleh Indonesia dibuktikan dengan temuan perahu, alat besi, alat musik seperti xylophone, alat makan serta budidaya tanaman ubi jalar, pisang dan talas.

Adakah laki-laki Indonesia yang berperan dalam kolonisasi Madagaskar? "Kami tahu laki-laki dan perempuan Madagaskar berasal dari Indonesia cuma kami tak tahu berapa jumlah laki-laki. Bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa jumlahnya sangat kecil," tambah Cox seperti dikutip Livescience, hari ini.

Teori kolonisasi Madagaskar sebelumnya menyebutkan bahwa kolonisasi sangat terencana, sebab pulau tersebut cocok untuk pelabuhan dalam perdagangan jalur Afrika ke Eurasia.

Dengan penemuan ini, Cox mengatakan, "Kita perlu berpikir kembali banyak hal tentang bagaimana Madagaskar dikolonisasi."

Cox mengungkapkan bahwa kolonisasi Madagaskar bisa jadi terjadi secara tak sengaja. Hal ini didukung oleh simulasi arus laut dan pola cuaca monsun.

Pada masa Perang Dunia II misalnya, bangkai kapal yang dibom di dekat Sumatera dan jawa bisa terbawa hingga ke Madagaskar. hal yang sama juga bisa terjadi pada pelaut masa lalu.

Menanggapi hasil penelitian ini, Matthew Hurles, peneliti dari Wellcome Trust Sanger Institute mengakui adanya keterkaitan antara Indonesia dan Madagaskar.

Ia berpendapat, "Orang Malagasi adalah 50:50 perpaduan dari dua grup nenek moyang, Indonesia dan Afrika Timur."
Sumber :

Saturday, March 10, 2012

PENGELOLAAN AIR DAN SANITASI: PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI

http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=5&doc=5b8
  1. PENDAHULUAN
    Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.
    Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.
  2. URAIAN SINGKAT
    Sekam padi banyak terdapat didaerah pedesaan, namun penggunaan sekam padi belum dimanfaatkan sepenuhnya. Uraian ini adalah salah satu cara memanfaatkan sekam padi untuk memperoleh air bersih yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat.
  3. BAHAN DAN PERALATAN
    1. Arang sekam padi
    2. Kayu bakar
    3. Sampah-sampah/tanah
    4. Pipa
    5. Kerikil
    6. Kawat ram
    7. Lumpur
    8. Drum diameter 40 cm dan tinggi 72 cm
  4. PEMBUATAN
    1. Dasar drum dibuat lubang-lubang kecil (diameter 2 mm) dan 4 lubang dengan diameter 3,5 mm. Pada dinding drum diberi 6 lubang berdiameter 3,5 mm. Jarak antara masing-masing lubang 10 cm. Bagian kiri dan kanan drum dipasangi pipa yang panjangnya 15 cm. Pada bagian dasar dari drum diberi kawat ram (lihat Gambar 1).

      Gambar 1. Alat Pembuatan Arang Sekam Padi
    2. Tungku pembakaran :
      Tungku pembakaran adalah tungku rumah tangga yang dimodifikasi untuk pengarangan kayu bakar. Lihat Gambar 2.

      Gambar 2. Tungku Pembakaran Sekam Padi
    3. Alat penjernihan air terdiri atas 2 bagian :
      1. Alat pengendapan yang terbuat dari drum.
      2. Alat penyaringan yang dibuat dari gentong. Pada dasar gentong diberi kerikil dan arang sekam padi setebal dari 10 sampai 20 cm di atasnya. Di atas arang sekam padi diberi ijuk.
    4. Pembuatan arang sekam padi :
      1. Secara tradisional arang sekam padi dibuat dalam suatu lubang yang berukuran : panjang 50 cm, tinggi 30 cm dan diameter 50 cm, dengan kapasitas 5 kg. Sekam dibakar di atas tungku singer. Sekam yang sudah terbakar ditutup tanah dan diatasnya diberi sampah. Pada salah satu sudut lubang diberi pipa udara.
      2. Cara lain dengan menggunakan drum sebagi tungku pembakaran. Temperatur pada waktu pengarangan 400°-600°C dan lama pengarangan 2,5 jam. Bahan bakar kayu yang digunakan 5 kg, untuk 5 kg sekam padi.

        Gambar 3. Alat Penjernihan Air
  5. PENGGUNAAN
    Proses penyaringan air:
    1. Tahap pertama pengendapan
    2. Tahap kedua penyaringan dengan arang sekam padi kira-kira 10 cm tebalnya. Proses penyaringan ini bekerja selama 6 jam/hari.
  6. KEUNTUNGAN
    1. Dapat memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan keluarga
    2. Pengarangan sekam padi mudah dikerjakan oleh masyarakat pedesaan sendiri.
    3. Relatif murah
    4. Hasil penjernihan memenuhi syarat kesehatan.
    5. Sekam padi mudah diperileh di pedesaan.
  7. KERUGIAN
    Pembakaran harus sempurna, apabila pembakaran”tidak sempurna” (kekurangan oksigen) arang sekam padi dan abu akan bercampur.
  8. DAFTAR PUSTAKA
    Asril, Lutan. Penjernihan air menggunakan arang sekam padi skala keluarga untuk daerah pedesaan. Dalam kumpulan makalah : Lokakarya penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna penyediaan air minum dan pembuangan kotoran di pedesaan, Cimacan : 2-4 Februari 1981. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, 1981.
  9. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050 
    2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPIbekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.