Saturday, December 06, 2014

Keith Urban: James Brown’s 1966 hit, “It’s a Man’s Man’s Man’s World”

Is the Universe a Simulation?

http://www.nytimes.com/2014/02/16/opinion/sunday/is-the-universe-a-simulation.html?_r=0

By 


Olimpia Zagnoli

IN Mikhail Bulgakov’s novel “The Master and Margarita,” the protagonist, a writer, burns a manuscript in a moment of despair, only to find out later from the Devil that “manuscripts don’t burn.” While you might appreciate this romantic sentiment, there is of course no reason to think that it is true. Nikolai Gogol apparently burned the second volume of “Dead Souls,” and it has been lost forever. Likewise, if Bulgakov had burned his manuscript, we would have never known “Master and Margarita.” No other author would have written the same novel.

But there is one area of human endeavor that comes close to exemplifying the maxim “manuscripts don’t burn.” That area is mathematics. If Pythagoras had not lived, or if his work had been destroyed, someone else eventually would have discovered the same Pythagorean theorem. Moreover, this theorem means the same thing to everyone today as it meant 2,500 years ago, and will mean the same thing to everyone a thousand years from now — no matter what advances occur in technology or what new evidence emerges. Mathematical knowledge is unlike any other knowledge. Its truths are objective, necessary and timeless.

What kinds of things are mathematical entities and theorems, that they are knowable in this way? Do they exist somewhere, a set of immaterial objects in the enchanted gardens of the Platonic world, waiting to be discovered? Or are they mere creations of the human mind?

This question has divided thinkers for centuries. It seems spooky to suggest that mathematical entities actually exist in and of themselves. But if math is only a product of the human imagination, how do we all end up agreeing on exactly the same math? Some might argue that mathematical entities are like chess pieces, elaborate fictions in a game invented by humans. But unlike chess, mathematics is indispensable to scientific theories describing our universe. And yet there are many mathematical concepts — from esoteric numerical systems to infinite-dimensional spaces — that we don’t currently find in the world around us. In what sense do they exist?

Many mathematicians, when pressed, admit to being Platonists. The great logician Kurt Gödel argued that mathematical concepts and ideas “form an objective reality of their own, which we cannot create or change, but only perceive and describe.” But if this is true, how do humans manage to access this hidden reality?

We don’t know. But one fanciful possibility is that we live in a computer simulation based on the laws of mathematics — not in what we commonly take to be the real world. According to this theory, some highly advanced computer programmer of the future has devised this simulation, and we are unknowingly part of it. Thus when we discover a mathematical truth, we are simply discovering aspects of the code that the programmer used.

This may strike you as very unlikely. But the Oxford philosopher Nick Bostrom has argued that we are more likely to be in such a simulation than not. If such simulations are possible in theory, he reasons, then eventually humans will create them — presumably many of them. If this is so, in time there will be many more simulated worlds than nonsimulated ones. Statistically speaking, therefore, we are more likely to be living in a simulated world than the real one.

Very clever. But is there any way to empirically test this hypothesis?

Indeed, there may be. In a recent paper, “Constraints on the Universe as a Numerical Simulation,” the physicists Silas R. Beane, Zohreh Davoudi and Martin J. Savage outline a possible method for detecting that our world is actually a computer simulation. Physicists have been creating their own computer simulations of the forces of nature for years — on a tiny scale, the size of an atomic nucleus. They use a three-dimensional grid to model a little chunk of the universe; then they run the program to see what happens. This way, they have been able to simulate the motion and collisions of elementary particles.

But these computer simulations, Professor Beane and his colleagues observe, generate slight but distinctive anomalies — certain kinds of asymmetries. Might we be able to detect these same distinctive anomalies in the actual universe, they wondered? In their paper, they suggest that a closer look at cosmic rays, those high-energy particles coming to Earth’s atmosphere from outside the solar system, may reveal similar asymmetries. If so, this would indicate that we might — just might — ourselves be in someone else’s computer simulation.

Are we prepared to take the “red pill,” as Neo did in “The Matrix,” to see the truth behind the illusion — to see “how deep the rabbit hole goes”? Perhaps not yet. The jury is still out on the simulation hypothesis. But even if it proves too far-fetched, the possibility of the Platonic nature of mathematical ideas remains — and may hold the key to understanding our own reality.


Edward Frenkel, a professor of mathematics at the University of California, Berkeley, is the author of “Love and Math: The Heart of Hidden Reality.”

Buya Syafii Maarif ttg Hamka, Iman dan Pluralisme

https://www.facebook.com/notes/akhmad-sahal/buya-syafii-maarif-ttg-hamka-iman-dan-pluralisme/521436504571428
Akhmad Sahal

Berikut adalah dua artikel yang sangat menarik dari Profesor Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, tentang tafsir Buya Hamka terhadap ayat 62 Al-Baqarah dan ayat 69 Al-Madiah, dan kaitannya terhadap Islam dan pluralisme:

Esai Pertama: 

HAMKA TENTANG AYAT 62 AL-BAQARAH DAN AYAT 69 AL-MAIDAH

Rubrik Resonansi Republika, 21 November 2006


Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. 

Karena permintaan itu serius, maka saya tidak boleh asal menjawab saja, apalagi ini menyangkut masalah besar yang di kalangan para mufassir sendiri belum ada kesepakatan tentang maksud ayat itu. Ayat yang substansinya serupa dapat pula ditemui dalam surat al-Maidah ayat 69 dengan sedikit perbedaan redaksi. Beberapa tafsir saya buka, diantaranya Tafsir al-Azhar karya Hamka yang monumental itu.

Sebenarnya saya cenderung untuk menerima penafsiran Buya Hamka dari sekian tafsir yang pernah saya baca, baik yang klasik maupun yang kontemporer. Dalam perkara ini Hamka bagi saya adalah fenomenal dan revolusioner. Agar lebih runtut, saya kutip dulu makna kedua ayat itu menurut tafsir Hamka.

Al-Baqarah 62: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.”

Kemudian al-Maidah 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitujuga) orang Shabi’un, dan Nashara, barang sipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutanatas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.”

Ikuti penafsiran Hamka berikut: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah merekakerjakan itu. ‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung ayat 62), hlm.211.

Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85  surat Ali ‘Imran yang artinya: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah  akan diterima dari padanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.”(Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.”(Hlm 217).

“Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da’wah senantiasa terbuka,dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.” (Hlm. 217).

Tentang neraka, Hamka bertutur: “Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh DziNuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.” (Hlm. 218).

Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).

Terima kasih Buya Hamka, tafsir lain banyak yang sependirian dengan Buya, tetapi keterangannya tidakseluas dan seberani yang Buya berikan. Saya berharap agar siapa pun akan menghormati otoritas Buya Hamka, sekalipun tidak sependirian.
  

Esai Kedua:

MUTLAK DALAM KENISBIAN

Rubrik Resonansi Republika, 29 Desember 2006

Seperti sudah saya katakan bahwa di kalangan para mufassir belum ada kesepakatan dalam memahami ayat 62 Al-Baqarah dan ayat 69 Al-Maidah. Jadi bila kemudian telah memancing sikap pro dan kontra terhadap Resonansi tertanggal 21 November2006 itu sebenarnya tidak ada yang luar biasa. 

Iman saya mengatakan bahwa Alquran itu mengandung kebenaran mutlak, karena ia berhulu dari yang Maha Mutlak. Tetapi sekali ia memasuki otak dan hati manusia yang serba nisbi, maka penafsiran yang keluar tidak pernah mencapai posisi mutlak benar, siapa pun manusianya, termasuk mufassir yang dinilai punya otoritas tinggi, apalagi jika yang menafsirkan itu manusia-manusia seperti saya.

Oleh sebab itu, dari sikap pro dan kontra terhadap apa yang saya kemukakan semestinya orang akan mau belajar agar lebih arif dan rendah hati untuk mengatakan bahwa tafsirannya tetaplah nisbi. Jika ada orang yang mengatakan bahwa penafsirannya mengandung kebenaran mutlak, maka ia telah mengambil alih otoritas Tuhan, sebuah kesombongan yang tidak dapat dimaafkan. Adanya ungkapan Allahua'lam (Allah Maha Mengetahui) yang sering kita jumpai di akhir sebuah karya tulisan menunjukan bahwa betapa nisbinya manusia itu.

Saya tidak perlu lagi mengulas delapan tanggapan yang dimuat Republika sejak tanggal 1 sampai dengan 22 Desember 2006. Reaksi dalam internet dan sms entah berapa pula banyaknya, ada yang langsung ke HP saya. Masing-masing telah memberikan argumennya berdasarkan pemahamannya dan tingkat kualitas ilmu danemosinya. Semuanya harus dihargai, sekalipun kita belum tentu setuju.

Alquran adalah Kitab Suci yang terbuka untuk diterima atau ditolak dengan risikonya masing-masing. Sudah hampir 15 abad Alquran dikritik, dihina, dan didustakan oleh mereka yang tidak setuju. Kitab Suci ini tetap bertahan dalam keagungan dan kedahsyatan pesannya. Pertanyaan yang segera muncul adalah, jika pesannya agung dan dahsyat, mengapa umat yang mengaku percaya kepadanya tidak agung dan dahsyat? Mengapa sebagian mereka menjadi manusia kerdil dengan wawasan yang tidak melampaui tuturan atap rumahnya, atau untuk meminjam Iqbal, mereka penakaburung alit yang hanya pandai menari dari kembang ke kembang?

Sebagai umat yang masih berada di buritan peradaban, dapat dipahami mengapa sebagian kita begitu gampang gamang, gelisah, reaktif dan labil, kalau jumlah umat berkurang, pindah menjadi umat lain. Orientasi yang serba kuantitatif ini menjadi salah satu sebab mengapa sebagian kita begitu alergi terhadap makhluk pluralisme. Dikatakan dengan pluralisme orang akan lalu lalang pindah agama semau gue, karena menurut mereka pluralisme memandang semua agama itu sama. Jika ini yang terjadi saya mendaftarkan diri berdiri di garda paling depan untuk melawannya.

Bagi saya pluralisme adalah sebuah fakta keras sejarah, bahkan dalam menafsirkan wahyu yang sama oleh umat yang sama, pasti akan terasa nuansa perbedaan yang kadang-kadang sangat tajam. Paham pluralisme memberi peluang kepada siapa saja untuk menyakini agamanya sebagai mengandung kebenaran mutlak, tetapi hak serupa juga harus diberikan kepada penganut agama lain untuk memegang prinsip yangsama. Yang penting kita harus berlapang dada meneggang perbedaan paham apapun di planet bumi yang satu ini.

Iman saya mengatakan, penganut ateisme pun adalah makhluk Allah yang harus dihormati dengan catatan kita saling menghargai. Tidak ada peradilan duniawi yang berhak membinasakan kaum ateis ini selama mereka tidak melawan hukum positif yang berlaku dalam sebuah negara. Oleh sebab itu membinasakan pihak lain yang tidak sepaham tanpa melalui proses hukum adalah perbuatan biadab yang harus ditentang.

Prerogatif Allah

Dari beberapa tanggapan yang dimuat, ada sebuah ungkapan yang menurut saya mengandung kebenaran, yaitu merupakan hak prerogatif Allah untuk memasukkan seorang hamba ke dalam surga atau neraka, tentu sesuai dengan keadilan-Nya yang tanpa cacat. 

Sebagai intermezo, baik juga saya rekamkan di sini tanggapan seorang dari sebuah pesantren dalam kalimat berikut: "Pak Syafii pindah ke nasrani saja, kan enak ibadahnya cuma 1x seminggu. Semua agama kan benar semua masuk surga. Resonansi bapak tidak (ada) gunanya, tapi melemahkan saudara-saudara kita yang gigih melawan kristenisasi. Untuk apa Tuhan menurunkan Islam kalau dengan agama lama sudah masuk surga. Bagaimana mungkin syirik/trinitas masuk surga? Agama tersebut benar tapi pada zamannya... jangan sampai kita kufur dalam berpikir." (sms jam 20.49 tanggal 9 Desember 2006,ejaan disesuaikan).

Ketika tanggapan itu saya teruskan kepada seorang kyai maka jawaban yang diberikan dalam bentuk anekdot tapi cukup mendasar adalah: "Mereka rakus surga dan melakukan kekerasan teologis, joke saya, mereka akan masuk sendiri dan kelelahan nyapu surga yang luasnya tak terbatas. Kita masuk surga bukan karena shalat dan ibadah kita. tapi karena kemurahan Allah kok."(sms jam21.35 tanggal 9 Desember 2006, ejaan disesuaikan).

Bukankah yang kita cari dalam hidup ini semata-mata keridhaan Allah yang tidak terlalu terpaku dan terpukau oleh surga? Hamba yang tulus bukanlah seorang buruh Tuhan yang selalu menuntut kenaikan upah, bukan? Jam terbang spiritual kita mari sama kita tinggikan lagi, agar panorama yang terlihat semakin terhampar luas tanpa batas. Janganlah kita merasa mampu berjalan di langit untuk mengutip Iqbal lagi, sementara di bumi kita terkapar.

Akhirnya selama posisi umat masih dalam keadaan lemah lahir batin seperti sekarang ini, selama itu pulalah dialog yang sehat, dingin, konstruktif dan bermutu tinggi akan sulit dilakukan. Kecemasan yang sangat akan kehilangan jumlah umat merupakan monster yang menakutkan di kalangan sebagian kita.  Hanya sedikit di antara kita yang benar-benar berorientasi kepada kualitas sehingga diktum Alqur'an (Al-Baqarah148): fastabiqu al-khairat (berlombalah dalam kebajikan) dapat kita menangkan. Menang bukan untuk menindas dan melecehkan pihak lain, tetapi untuk menebarkan rahmat di muka bumi. Semoga saya tidaklah berada dalam kategori kufur dalam berpikir.

Wednesday, November 26, 2014

Developing an Attitude of Gratitude Can Help You Live a Longer, Happier Life

http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2014/11/27/thanksgiving-gratitude.aspx
By Dr. Mercola





Besides sharing time with family and friends over food, the primary ingredient of the American Thanksgiving holiday is gratitude. While it’s certainly good to have an annual holiday to remind us to express gratitude, there’s much to be said for the benefits of cultivating the spirit of thankfulness year-round.
People who are thankful for what they have are better able to cope with stress, have more positive emotions, and are better able to reach their goals. Scientists have even noted that gratitude is associated with improved health.
As noted in a previous article on this topic published in the Harvard Mental Health Letter,1 "expressing thanks may be one of the simplest ways to feel better:"
"The word gratitude is derived from the Latin word gratia, which means grace, graciousness, or gratefulness (depending on the context). In some ways gratitude encompasses all of these meanings. Gratitude is a thankful appreciation for what an individual receives, whether tangible or intangible.
With gratitude, people acknowledge the goodness in their lives. In the process, people usually recognize that the source of that goodness lies at least partially outside themselves.
As a result, gratitude also helps people connect to something larger than themselves as individuals — whether to other people, nature, or a higher power.
...People feel and express gratitude in multiple ways. They can apply it to the past (retrieving positive memories and being thankful for elements of childhood or past blessings), the present (not taking good fortune for granted as it comes), and the future (maintaining a hopeful and optimistic attitude).
Regardless of the inherent or current level of someone's gratitude, it's a quality that individuals can successfully cultivate further."

Gratitude—It Does a Body Good



Dr. P. Murali Doraiswamy, head of biologic psychology at Duke University Medical Center once stated that: "If [thankfulness] were a drug, it would be the world's best-selling product with a health maintenance indication for every major organ system."2
One way to harness the positive power of gratitude is to keep a gratitude journal or list, where you actively write down exactly what you're grateful for each day. In one study,3, 4 people who kept a gratitude journal reported exercising more, and they had fewer visits to the doctor compared to those who focused on sources of aggravation.
As noted in a previous ABC News article,5 studies have shown that gratitude can produce a number of measurable effects on a number of systems in your body, including:
Mood neurotransmitters (serotonin and norepinephrine)Inflammatory and immune systems (cytokines)
Reproductive hormones (testosterone)Stress hormones (cortisol)
Social bonding hormones (oxytocin)Blood pressure and cardiac and EEG rhythms
Cognitive and pleasure related neurotransmitters (dopamine)Blood sugar

Ways to Cultivate Gratitude

Cultivating a sense of gratitude will help you refocus your attention toward what's good and right in your life, rather than dwelling on the negatives and all the things you may feel are lacking.
And, like a muscle, this mental state can be strengthened with practice. Besides keeping a daily gratitude journal, other ways to cultivate a sense of gratitude include:
  • Write thank you notes: Whether in response to a gift or kind act, or simply as a show of gratitude for someone being in your life, getting into the habit of writing thank-you letters can help you express gratitude in addition to simply feeling it inside.
  • Count your blessings: Once a week, reflect on events for which you are grateful, and write them down. As you do, feel the sensations of happiness and thankfulness you felt at the time it happened, going over it again in your mind.
  • Pray: Expressing thanks during your prayers is another way to cultivate gratitude.
  • Mindfulness meditation: Practicing "mindfulness" means that you're actively paying attention to the moment you're in right now. A mantra is sometimes used to help maintain focus, but you can also focus on something that you're grateful for, such as a pleasant smell, a cool breeze, or a lovely memory.

Expanding the Science and Practice of Gratitude

Three years ago, the Greater Good Science Center at the University of California,6 in collaboration with the University of California, launched a project called "Cultivating Gratitude in a Consumerist Society." This $5.6 million project aims to:
  • Expand the scientific database of gratitude, particularly in the key areas of human health, personal and relational well-being, and developmental science;
  • Promote evidence-based practices of gratitude in medical, educational, and organizational settings and in schools, workplaces, homes and communities, and in so doing…
  • Engage the public in a larger cultural conversation about the role of gratitude in civil society.
In 2012, 14 winning research projects were announced, with topics covering everything from the neuroscience of gratitude, to the role of gratitude for the prevention of bullying. The organization has a number of resources you can peruse at your leisure, including The Science of Happiness blog and newsletter,7 and a Digital Gratitude Journal,8 where you can record and share the things you're grateful for. Scientists are also permitted to use the data to explore "causes, effects, and meaning of gratitude."
For example, previous research has shown that employees whose managers say "thank you" feel greater motivation at work, and work harder than peers who do not hear those "magic words." As noted in a previous Thanksgiving blog post in Mark's Daily Apple:9 "[R]esearch10 has shown that being on the receiving end of a person's gratitude can boost subjects' sense of self-worth and/or self-efficacy. It also appears to encourage participants to further help the person who offered the gratitude but also another, unrelated person in an unconscious 'pay it forward' kind of connection."

Cultivating an Attitude of Gratitude as Part of a Healthy Lifestyle

Starting each day by thinking of all the things you have to be thankful for is one way to put your mind on the right track. Also, remember that your future depends largely on the thoughts you think today. So each moment of every day is an opportunity to turn your thinking around, thereby helping or hindering your ability to think and feel more positively in the very next moment.
Most experts agree that there are no shortcuts to happiness. Even generally happy people do not experience joy 24 hours a day. But a happy person can have a bad day and still find pleasure in the small things in life.
Be thankful for what you have. When life gives you a 100 reasons to cry, remember the 1,000 reasons you have to smile. Face your past without regret; prepare for the future without fear; focus on what's good right now, in the present moment, and practice gratitude. Remember to say "thank you"—to yourself, the Universe, and others. It's wonderful to see a person smile, and even more wonderful knowing that you are the reason behind it! And with that, I wish you all a Happy and Healthy Thanksgiving!

Tuesday, November 25, 2014

Wijaya Herlambang : “Salihara dan Freedom Institute itu Lembaga Sampah!”

http://indoprogress.com/2014/11/wijaya-herlambang-salihara-dan-freedom-institute-itu-lembaga-sampah/
, , 

Wijaya-Herlambang

Kabar yang sangat menggembirakan kembali datang secara beruntun dari dunia melawan lupa, setidaknya dalam dua tahun belakangan ini. Tahun 2012 yang lalu, kabar gembira itu datang melalui film dokumenter karya Joshua Oppenheimer “The Act of Killing/Jagal” yang fenomenal itu. Film yang bercerita tentang pengakuan para pelaku pembantaian—dalam peristiwa pembantaian massal PKI, afiliasinya serta orang-orang yang dekat dengan mereka— itu memutar balikkan pengetahuan yang dimiliki publik selama ini mengenai peristiwa pembantaian pasca G30S 1965. Banyak yang terheran-heran, mengerenyitkan dahi, sedih, marah, sekaligus tercerahkan: ada fakta lain yang selama ini disembunyikan dan dilanggenggkan buku-buku sejarah resmi (baca: versi dan masih legacy Orde Baru). Film The Act of Killing/Jagal pun menjadi penanda dalam aras kebudayaan dimana monopoli sejarah Orde Baru mengenai peristiwa pembantaian dalam kurun waktu 1965-1966 itu kini berada diambang kehancuran.
Sekitar 1 tahun kemudian, kabar gembira pun kembali datang dengan hadirnya buku karya Wijaya Herlambang berjudul “Kekerasan Budaya pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film”. Buku yang menguraikan praktik-praktik kekerasan budaya yang menjadi alat legitimasi berbagai kekerasan fisik yang dilakukan oleh negara dalam peristiwa pembantaian 1965-1966 itu, membuat mata siapapun yang membacanya menjadi kian terbuka lebar. Karena buku itu, banyak yang marah dan merasa sangat dibodohi Orde Baru—juga rezim-rezim setelahnya—khususnya mengenai peristiwa pembantaian massal 1965-1966. Buku itu pun memicu perdebatan yang cukup menarik—dan belum usai—antara Martin Suryajaya dan Goenawan Mohamad.
Dalam edisi kali ini, Rio Apinino dan Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review (LBR) IndoPROGRESS, mewawancarai sang pembawa kabar gembira, Wijaya Herlambang, doktor dari University of Queensland, Australia sekaligus dosen di beberapa kampus di Jakarta itu. Berikut petikan wawancaranya :

Bisa diceritakan bagaimana perjalanan intelektual Anda?

Saya berasal dari keluarga yang secara ekonomi pas-pasan. Dari situ, saya tumbuh jadi anak yang bandel banget. Mabuk lah, berantem lah, intinya cuma mau mencari identitas diri dan mencari penyebab kehidupan saya dan keluarga menjadi serba susah. Mulai lah saya mengidentifikasi sumber permasalahannya, apa sih yang meyebabkan kemiskinan dalam masyarakat kita? Begitulah kira-kira. Kesadaran itu tumbuh semakin kuat ketika kuliah di UNDIP tahun 1993, pada saat kasus golput baru saja meletus. Kasus itu bermula ketika ada beberapa truk tentara masuk kampus, menganiyaya dan mengintimidasi mahasiswa yang dianggap terlibat. Dua di antara yang ditangkap itu adalah Poltak sama Lukas Luwarso. Dari peristiwa itu saya lantas berpikir, kok tentara bisa masuk kampus dan melakukan kekerasan seenaknya? Peristiwa itu juga memicu keingintahuan lebih jauh tentang apa penyebab tindak kekerasan seperti itu. Mengapa jika orang tidak puas dengan sistem politik yang represif dan menyebabkan ketimpangan ekonomi justru dianiyaya? Akhirnya saya paham bahwa sumber dari berbagai masalah sosial adalah pemerintah Orde Baru, terutama figur Soeharto yang kejam dan korup. Jadi, penyebab kemiskinan di dalam masyarakat Indonesia bukan individu-individu yang malas atau ketidakmampuan tulang punggung keluarga mencari nafkah, dll, tapi sistem politik represif itulah yang membuat kita sebagai bangsa menjadi miskin secara ekonomi, sosial dan budaya.
Proses berpikir itulah yang menggiring saya mempelajari banyak hal, membaca berbagai buku mulai dari filsafat, sosial, politik, budaya dan kesusastraan segala macam, termasuk bergaul dengan banyak aktivis. Saya sendiri bukan aktivis dalam arti turun ke jalan, jadi anggota SMID misalnya, itu nggak. Saya aktif di pers kampus, majalah Hayam Wuruk. Waktu itu, pada saat banyak majalah lain tidak berani wawancara dengan tokoh kritis seperti George Aditjondro dan penulis kiri seperti, Pramoedya Ananta Toer, kita justru berani. Kementerian Pendidikan, melalui Dikti juga bereaksi keras atas liputan seperti itu. Tapi tetap kita jalan terus.
Di Jawa Tengah, waktu itu, ada dua majalah mahasiswa yang kritis: Balairung (UGM) dan Hayam Wuruk (UNDIP). Jadi dua majalah itulah yang sering mewakili suara-suara marjinal. Tapi di pers kampus itu juga ada banyak warna, banyak kepentingan, dari HMI, orang-orang kiri (SMID), dari orang-orang GMNI, dan segalaa macam, mereka saling berebut kendali pimpinan di majalah itu. Semuanya ingin mendominasi. Kebijakan-kebijakan editorial ingin dikuasai. Sampai akhirnya jatuh ke tangan aktivis SMID. Di situ ada Petrus, ada Aan Rusdianto, Iwan, Naning, Iin dan banyak yang kelak dikenal sebagai aktivis ‘98. Saya bergaul dekat dengan mereka walaupun saya bukan anggota. Jadi kalau ada demo ya kita kadang meliput, mengawal, memantau, ikut demo juga. Dari situ saya mengamati proses pergulatan politik yang sesungguhnya. Ada sebuah upaya perlawanan yang walaupun terasa sangat kecil namun penting sekali. Seperti sekarang, kita berharap terjadi revolusi dalam waktu dekat, itu kan terasa seperti mimpi? Nah, waktu itu rasanya juga seperti itu. Kapan sih Soeharto bisa jatuh, wah menjatuhkan Soeharto itu seperti mimpi di siang bolong, terasa hampir mustahil. Tapi gerakan yang terasa kecil itu dilakukan oleh teman-teman SMID dan kolega mereka dengan konsisten dan pantang menyerah. Sama jika kita bicara tentang Marco, Semaoen, Tirto Adisoerjo, perlawanan PKI terhadap pemerintah Belanda di tahun 1926, berdirinya PNI di tahun 1927 dan Sumpah Pemuda di tahun 1928, dll, mereka juga seperti sedang bermimpi bahwa Indonesia bisa merdeka dari Belanda. Mereka melakukan sesuatu yang waktu itu dianggap sebagai utopia. Tapi toh benih yang mereka tanam akhirnya tumbuh, meletus menjadi Revolusi di tahun 1945. Sejarah membuktikan, bahwa akhirnya Belanda jatuh, Soeharto akhirnya jatuh. Jadi revolusi itu tidak seperti judul buku kumpulan essaynya Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada lagi. Itu hanya slogan saja. Dengan membaca judul buku itu orang akan berpikir sekilas bahwa ada suatu masa di mana revolusi sudah tidak relevan lagi walaupun isi buku itu sendiri terdiri dari berbagai macam essay berisi bermacam isu.
Kembali ke SMID, jadi, waktu itu kita juga belum bisa berpikir sejauh mana usaha yang dilakukan aktivis SMID itu bisa membuahkan hasil, terutama karena organisasi mereka waktu itu masih sangat kecil. Belum ada PRD juga. PRD baru terbentuk tahun 1994, belum partai, masih persatuan, baru 1996 deklarasi jadi partai karena mau ikut pemilu, langsung diberangus. Wiji Thukul hilang dalam proses pemberangusan itu.
Dari pergulatan pemikiran, pencarian informasi tentang proses politik itu saya mulai mengerti bahwa musuh utama bangsa Indonesia itu ya pemerintahnya sendiri, di bawah Soeharto, dan di atasnya adalah kapitalisme. Dari situ saya mulai mencoba mengembangkan pemikiran dan berusaha mewujudkannya lewat skripsi S1 tentang Pramoedya Ananta Toer, tapi dilarang oleh Dekan saya. Itu tahun 1997/1998. Soeharto sudah hampir jatuh. Tapi waktu itu belum ada yang tahu dia akan jatuh atau tidak. Akhirnya saya malah menulis skripsi tentang Danarto, salah satuliterary champion-nya Orde Baru. Tentang Mistik, halah! Jadi dulu saya juga senang baca karya-karya Danarto, yang tanpa saya sadari, karya semacam itu adalah bagian dari strategi politik Orde Baru dan antek-antek kebudayaannya yang bertujuan untuk memberangus tradisi kesusasteraan yang berkomitmen sosial. Baru kemudian saya sadari, bahwa saya membuat skripsi yang sangat tolol. Ngomong tentang mistik, mistik Barat dan Timur, ngapain?
Pada saat yang sama, saya juga bertanya-tanya, kenapa kampus mengekang mahasiswa membahas tokoh-tokoh tertentu, seperti Pram, dalam kesusasteraan. Padahal dulu waktu masih di Hayam Wuruk, saya sempat wawancara dengan Pram. Pertama kali saya ketemu Pram tahun 1995. Sejak itu saya kerap berkunjung ke rumahnya di Utan Kayu sampai dia pindah ke Bojong. Kalo ke rumahnya di Utan Kayu dulu, itu saya muter-muter dulu supaya yakin gak diikutin intel. Mastiin aman dulu. Baru saya masuk. Ngobrol. Sering dia mengungkapkan keinginannya untuk bikin ensiklopedi sastra Indonesia dengan arsipnya yang banyak banget itu. Ada cerita yang saya tidak pernah lupa. Suatu kali, saya datang lagi ke rumah Pram, Pram lagi tidur, yang keluar Bu Maimunah, saya disuguhi minum sirup Marjan warna merah. Tiba-tiba bu Maimunah marah-marah, menanyakan Naning, menanyakan kenapa anak-anak SMID tidak ada yang muncul sama sekali. Ternyata anak-anak SMID itu bawa ratusan copy buku Perburuan, tapi uang penjualannya tidak kembali ke tangan Pram. Sementara Pram itu masih seperti tahanan rumah, masih gak bisa kerja, gak bisa ngapa-ngapain. Jadi dapur mereka berhenti ngebul. Itu yang bikin bu Maimunah marah-marah. Ketika Pram bangun dan menemani saya di teras, saya kasih tau bahwa bu Maemunah jengkel sama kelakuaan anak-anak SMID, Pram malah cengengesan hahaha..
Lalu saya lulus dari UNDIP, kemudian saya ke Australia tahun 1999, di sana saya kursus bahasa Inggris dulu, lalu ingin melanjutkan S2, waktu itu saya di Townsville, kota kecil di Utara Australia. Jauh dari mana-mana. Salah satu universitas yang besar, Universitas Queensland (UQ) dan punya Indonesian Studies adanya di Brisbane, 18 jam nyetir dari Townsville. Sebelum kontak UQ, saya telepon Arief Budiman. Waktu itu dia masih mengajar di Melbourne Uni. Saya minta dia jadi pembimbing saya untuk S2. Waktu itu saya masih fascinated sama Pram kan, terus Arief tanya: kamu mau neliti apanya tentang Pram? Saya bilang saya mau neliti bagaimana Pram melukiskan karakter kebudayaan Jawa dalam novel-novelnya dia, terutama tetralogi. Arief Budiman malah bilang ngga ada, ngga cocok. Lho sekaliber Arief Budiman kok malah ngomong gitu? Apa karena dulu dia penandatangan Manikebu jadi ngga boleh? Hahaha.. Pokoknya alasannya ngga jelas gitu.
Akhirnya saya telepon Profesor di UQ. Helen Creese namanya. Saya tanya sama dia, kira-kira bisa gak saya menulis tesis tentang Pram. Tapi karena saya belum punya pengalaman riset yang baik, jadi proposalnya terlalu umum, padahal yang dituntut sangat spesifik. Lagi pula menurut Helen celah penelitian tentang Pram sangat sempit, karena sudah dibahas oleh ratusan sarjana. Akhirnya saya urungkan niat itu. Lalu saya teringat aktivitas di kampus dulu dan masalah sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, terutama kasus-kasus kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyatnya sendiri. Ada pembantaian jutaan orang yang dituduh komunis, invasi militer ke Timor Timur, Petrus, Tanjung Priok, Talangsari, DOM di Aceh, Kedung Ombo, Pembantaian Dili, Marsinah, terus menerus, bahkan dalam setahun bisa terjadi beberapa kali kasus kekerasan. Jadi itu merupakan problem gede banget pada saat Soeharto berkuasa.
Itu yang saya jadikan landasan untuk penelitian saya. Tapi apa kaitannya dengan sastra? Kemudian saya mulai melakukan preliminary research, saya cari karya-karya sastra yang mengungkapkan tentang kekerasan. Yang saya temukan dan yang saya anggap paling bisa didengar orang, antara lain karya-karya Wiji Thukul, Seno Gumira Ajidarma, dan Ratna Sarumpaet. Itulah yang saya jadikan sebagai primary sources tesis saya. Dan pembacaan saya terhadap teks-teks itu saya lakukan dengan melibatkan konteks di mana teks-teks itu ditempatkan. Karena pembacaan close reading itu merupakan bagian tradisi dari positivis, yang anti dengan permasalahan-permasalahan di luar sastra, jadi metode ini tidak cukup untuk menjelaskan kedudukan seni dalam masyarakat. Tradisi positivis seperti close reading an sich itu pada dasarnya sesuai dengan ideologinya Manikebu, humanisme universal, dimana apapun yang menyangkut tentang karya seni, tidak boleh dikaitkan dengan hal lain di luar karya seni, terutama politik. Jadi, walaupun berguna, close reading tidaklah memadai untuk apa yang saya lakukan di dalam penulisan tesis itu. Sekarang tesis itu sedang saya terjemahkan ke bahasa Indonesia dan direvisi.
Setelah tesis master itu selesai, saya bingung mau kerja dimana. Pulang ke Indonesia atau bagaimana? Dua minggu setelah terima ijazah, Prof. Helen Creese menelepon saya untuk menawarkan beasiswa lagi untuk lanjut ke s3. Saya pikir ini ada hubungannya dengan pertemuan saya dengan Dr. Keith Foulcher, pakar sastra Indonesia senior, penulis buku Social Commitment in Literature. Waktu itu saya diundang ke konferensi di Tasmania. Di sana saya bertemu Keith dan mengobrol tentang banyak hal karena dia juga sudah membaca tesis saya. Secara personal dia bilang ke saya bahwa dalam analisis awal tentang perkembangan kesusasteraan Indonesia, saya tidak menjelaskan bagaimana Orde Baru, terutama seniman-senimannya, para penandatangan Manikebu itu, mempromosikan ide-ide yang bertentangan dengan komunisme. Lalu saya bilang, ini akan saya lakukan jika saya punya kesempatan untuk melanjutkan studi ke S3. Helen juga hadir. Saya pikir mungkin Keith diam-diam turut merekomendasi saya untuk melanjutkan studi saya kepada Helen. Saya tidak tau.
Jika dulu saya fokus pada pembahasan praktek kekerasan langsung dan struktural, maka niat saya untuk penelitian S3 saya fokuskan pada praktek kekerasan kultural. Ketiga jenis kekerasan itu adalah model teoretis yang diperkenalkan Johan Galtung. Itulah konsep dasar dari seluruh penelitian saya. Saya tidak mau mengulang-ulang teori ini. Intinya adalah kekerasan negara hanya bisa dilakukan jika ada landasan kulturalnya.
Penghancuran PKI ‘65 itu dimungkinkan kalau ada landasan ideologisnya, yaitu Pancasila versi Soeharto dan landasan ideologis kapitalisme yang sesungguhnya, ya liberalisme. Akhirnya saya selesai dalam waktu sekitar 4 tahun, lulus, buku itu diterbitkan di Jerman pertama kali tahun 2011. Tapi gemanya tidak sampai ke Indonesia. lantas saya memutuskan balik ke Indonesia sekitar Oktober 2011. Awalnya saya ditawari kerja jadi staf ahli di DPR. Saya coba, saya lihat, ternyata kerjaannya hanya membantu korupsi. Misalnya untuk menyalurkan BLT atau sejenisnya, anggota dewan ngantongin sekian persen. Dikorupsi. Proposal diminta dari daerah, masuk, dana turun, sekian persen masuk kantongnya dia. Ancur banget. Ya saya keluar lah. Kemudian saya dapat tawaran ngajar di Gunadarma dan akhirnya juga mengajar di Pancasila, selain jadi editor di majalah Forbes Indonesia.

Bisa diceritakan mengenai proses penelitian anda mengenai perisitiwa ‘65?

Secara spesifik, saya membahas ‘65 itu di tesis S3. Ketika saya mulai sadar bahwa kekerasan budaya dilakukan oleh negara dengan memanfaatkan produk-produk budaya. Jadi kalau misalnya ada orang dianiyaya karena perbedaan nilai (kasus Ahmadiah dan berbagai kasus lain yang mirip) dan kita menganggapnya sebagai tindakan yang sah (karena ada legitimasi nilai budaya lain di kepala kita), maka pada titik itu kita sedang melakukan praktik kekerasan budaya. Walaupun kita tidak ikut melakukan tindak kekerasan fisik itu, tapi jika kita mengamininya dalam hati, maka itu adalah kekerasan budaya. Salah satu contoh yang paling ekstrem adalah film Pengkhianatan G30S/PKI. Pemerintah menggunakan media kebudayaan untuk melegitimasi pembantaian 3 juta manusia. Orang yang menonton akan menganggap bahwa pembantaian terhadap PKI adalah hal yang wajar karena PKI di dalam film itu terlihat sangat kejam. Film itulah yang membuat saya akhirnya mau melakukan penelitian tentang ‘65. Walaupun film itu sudah dirilis sejak tahun 1980an awal dan sampai ‘97 masih diputar dan sudah dibahas banyak orang, banyak akademisi, tapi mereka tidak pernah membahasnya secara detail. Mereka hanya merujuk, “oh iya ada film ini,” “fungsinya untuk ini itu,” selalu disebut, tapi tidak pernah dianalisis. Orang pertama yang menganalisis film itu adalah saya. Kalaupun ada yang lain, misalnya Intan Paramadhita, dia membahas film itu dari sisi gender, bagaimana heroisme atau patriarkisme itu begitu menonjol di film itu. Jadi dia melihatnya dari sisi diskriminasi gender. Sementara fungsi utamanya yang sangat luar biasa dari film itu tidak dibahas. Makanya saya membahasnya secara detail, adegan per adegan saya teliti. Jadi keliatan sekali fungsi itu film untuk apa bagi masyarakat.
Itu yang pertama yang membuat saya ingin sekali membongkar peristiwa ‘65. Tapi motivasi itu pun didorong oleh peristiwa-peristiwa tentang kekerasan yang melibatkan isu ‘65, misalnya peristiwa Kaloran di Jawa Tengah. Waktu mereka menggali kubur di Wonosobo itu, terus mau dikubur ulang, lantas dihancurkan oleh kelompok FUIK, sampai tulang-belulang korban berserakan di mana-mana. Itu adalah satu contoh di mana anti-komunisme kuat sekali bercokol di otak orang Indonesia. Sampai turun temurun, mungkin sudah genetis sifatnya. Bayi yang baru lahir pun bisa jadi langsung anti-komunis hahaha. Begitu kuatnya anti-komunisme di Indonesia.
Lalu apa faktor yang membuat anti-komunisme sampai begitu kuatnya di Indonesia? Ternyata faktor kebudayaan. Bukan faktor fisik tapi kekuatan kognitif. Otak kita ini dihajar dengan godam anti-komunis lewat macam-macam. Kalau buku sejarah saja tidak menyinggung PKI, tidak menyinggung Marxisme, ya lucu. Yang berontak berusaha membebaskan diri dari penjajahan Belanda pertama kali ya PKI kok. Siapa? Memang mereka pikir Golkar? Militer? Soeharto? Nasution? Tidak, tapi PKI. Baru kemudian PNI berdiri. Baru yang lain-lain ikut. PKI sudah berontak duluan. Kalau itu tidak ditulis dalam sejarah, ya lucu. Itu ditanamkan terus sejak Orde Baru. Buku-buku sejarah, materi P4, sastra, koran, musik, film, museum, diorama, patung-patung, monumen, hari-hari peringatan, semuanya. Kita bisa melihat bagaimana produk kebudayaan itu dimanipulasi untuk membuat kita memandang peristiwa kekerasan sebagai hal yang sah dan normal saja. Padahal itu pembunuhan, tanpa proses pengadilan: massif, terstruktur dan sistematis hehehe..

Bagaimana anda melihat perkembangan diskursus mengenai ‘65 saat ini?

Ada kemajuan, tapi belum signifikan. Mainstream discourse-nya tetap anti-komunis. Ada beberapa elemen kecil yang masih terus berusaha untuk membuka luka tahun ‘65. Yang paling terasa besar sebetulnya literatur akademik yang mulai accessable di Indonesia. Sebetulnya dari situ, orang Indonesia sudah mulai tahu, cuma permasalahannya tradisi baca di Indonesia sangat minim. Yang kedua adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh aktivis. Sejak penghancuran di tahun ‘65, gerakan radikal itu baru muncul di akhir 1980an awal ‘90an. Sebelum itu tidak ada. Bahkan sampai gegernya kasus Malari itu bukan gerakan radikal sama sekali. Gerakan koreksi, iya. Radikalisme muncul tahun 1980-an. Ketika DOM baru diterapkan, kemudian kasus Kedung Ombo meletus, disusul dengan pembantaian Dili, radikalisme mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Tapi itu pun pasang surut dan hancur tahun ’98 kan. Sejak tahun 27 Juli 1996 hingga 1998, gerakan itu hancur. Untuk kesekian kalinya, radikalisme yang berhaluan Kiri, dihancurkan. Yang masih bertahan adalah karya sastra dan karya akademik.
Karya akademik waktu itu belum bisa diakses secara luas, tapi karya sastra berfungsi penting sekali dalam mengubah paradigma kaum intelektual. Sastralah yang mengisi kekosongan penulisan sejarah tentang PKI atau gerakan Kiri di Indonesia. Itu sudah muncul di akhir 1970an dan awal 1980an. Mulai dari karyanya Yudisthira Ardi Nugraha: Mencoba Tidak Menyerah, Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari sampai Bumi Manusia-nya Pram. Sejak itu mulai muncul lagi tradisi yang dulu dikembangkan oleh LEKRA: realisme sosialis, komitmen sosial dalam sastra, gaya penulisan yang sederhana, straight forward, dan menceritakan isu-isu yang berhubungan dengan ‘65.
Sebetulnya sudah ada karya sastra lain, terutama cerpen, yang terbit dari tahun 1966-1970an yang membahas ’65. Beberapa akademisi seperti David Hill misalnya, berargumen bahwa karya-karya ini mengisi kekosongan informasi mengenai peristiwa ‘65 dan dengan demikian karya-karya ini berharga, walaupun terbitnya di majalah anti-komunisHorison, yang jelas-jelas didirikan oleh orang-orang Manikebu. Dia menganggap karya-karya ini penting dan berguna, juga sebagai sebuah usaha membongkar kasus itu. Kemudian saya baca dan pikir-pikir lagi, lalu membuat analisis atas karya-karya yang yang di Horison yang tentang peristiwa ’65 itu, ternyata sama sekali tak ada hubungannya upaya membongkar, justru untuk melegitimasi peristiwa pembantaian massal itu. Ada proses manipulasi psikologis dari tokoh-tokoh di dalam karya-karya itu, yaitu justru untuk mempahlawankan si pelaku pembunuhan dan mengibliskan korbannya. Jadi tidak mengherankan kalau Horison yang anti-komunis itu mengangkat cerita-cerita ini, karena pada dasarnya, ini adalah upaya untuk membungkam gerakan Kiri, bukan untuk bersimpati terhadapnya. Bangkitnya tradisi kiri itu ya sejak akhir ‘70an dengan munculnya karya Yudhistira, Ahmad Tohari, dan Pram. Karya-karya sastra inilah yang mengisi gap yang ditinggalkan oleh penulisan sejarah Indonesia. Sampai akhirnya karya-karya itu, terutama karya Pram, terkenal secara internasional. Pramoedya namanya mencuat, kemudian orang-orang Manikebu jadi ciut, di samping iri juga hahaha.
Tradisi kebudayaan Manikebu itu memang untuk membungkam kesusasteraan yang berkomitmen sosial, semua yang mengandung tema sosial pasti akan dicap jelek, sastra murahan, sastra pop. Sebaliknya, sastra-sastra yang mengandung konflik intelektual, eksistensial, atau yang bertemakan fantasi, mistik dan aneh itu yang dianggap paling bernilai tinggi, sastra adiluhung dan mendapat penghargaan. Contohnya karya-karya Danarto itu, Putu Wijaya, Sutarji Calzoum Bahri, Iwan Simatupang, Abdul Hadi W.M., Sapardi Djoko Damono, Budi Darma dll. Itulah tradisi kesusasteraan Orde Baru.
Institusi-institusi baru pun dibentuk. Ada DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), TIM, dan Akademi Jakarta. Semuanya anti-komunis. Satu pentolannya Ajip Rosidi memang menulis novel Anak Tanah Air, oke dia bicara tentang G30S, tapi kan memakai perspektif dia yang anti-komunis itu. Makanya pada saat Martin Aleida, mantan penulis Lekra, dicalonkan menerima penghargaan dari DKJ baru-baru ini, angkatan tua karatan seperti Ajip Rosidi, Taufik Abdullah dll menolak, Martin disingkirkan. Awal tahun ‘80an terjadi perdebatan sengit di antara pendukung Manikebu sendiri. Terutama Arief Budiman dkk karena Arief Budiman mencetuskan istilah sastra kontekstual. Sebetulnya itu Ariel Heriyanto yang duluan. Dua orang ini yang mencuat sebagai tokoh pembaharu sastra di bidang kritik dengan menelurkan konsep sastra kontekstual yang intinya adalah menekankan komitmen sosial di dalam sastra yang dulu pernah dikampanyekan LEKRA. Jadi mereka berusaha untuk belok Kiri sedikit hehehe. Pecahlah itu perdebatan tahun ‘84. Tapi karya-karya yang mengikuti alur sastra kontekstual tetap langka.
Akhirnya, di tahun 1980 akhir, Wiji Thukul muncul. Dia sebetulnya pernah juga ngefans sama Sutardji Calzoum Bahri. Tapi kemudian Thukul mikir, sastra begitu ngga bicara apa-apa tentang situasi yang dia alami. Sutardji puisinya apaan coba, ngga jelas dan dibilangnya itu keren. Intinya, Sutadji ngomong tentang mantera. Seolah-seolah baru ada sekarang. Tidak ada artinya sama sekali juga. “Ping di atas pong, pong di atas ping,” apaan itu? Nah, itu yang dipikirkan Wiji Thukul, ngapain gue ngomong mantera sementara perut kelaparan? Dari situlah Thukul berontak terhadap tradisi kesusasteraan Orde Baru. Dia mulai menulis puisi-puisi yang bersinggungan secara langsung dengan kehidupan dia sehari-hari. Sampai limbah pabrik MSG di depan rumahnya dibahas. Bagaimana Thukul berpuisi tentang perkelahiannya dengan kucingnya sendiri gara-gara kucing itu nyolong ikan asin buat lauknya makan, sampai akhirnya mereka baikan, kepalanya buat sang kucing, badannya buat dia. Tentang baju loak, dll. Pada saat itu juga Thukul sudah dicurigai sebagai cikal bakal pemberontak oleh BAKIN (Badan Keamanan dan Intelijen Negara). Di masa itulah mulai muncul radikalisme baik dalam politik maupun kesusasteraan. Thukul muncul memimpin JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat) dan juga PRD. Di situlah mulai muncul lagi tradisi kebudayaan Kiri. Sayangnya tidak lama. Gerakan itu dihancurkan lagi tahun 1996, Thukul dan rekan-rekannya dikejar-kejar tim Mawar-nya Prabowo. Namun sepanjang 1 dekade itu juga mulai muncul kesusasteraan yang bicara masalah kekerasan negara. Seno Gumira, Ratna Sarumpaet dan lain lain muncul. Karya-karya itulah yang meneruskan tradisi Kiri dalam kesusasteraan Indonesia. Pelopornya tetap Wiji Thukul, karena dia yang mulai.

Dalam buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965”, Anda menjelaskan bahwa kekerasan yang seringkali dilupakan ialah kekerasan budaya. Bisakah anda menjelaskan kaitannya dengan konteks politik saat ini?

Ada banyak sekali. Salah satunya konsep kekerasan budaya adalah slogan Trisakti dalam pilpres kemarin. Itu buat saya adalah bentuk kekerasan budaya karena apa yang dipikirkan Soekarno itu dipelintir sedemikian rupa untuk melegitimasi praktik perekonomian nasional yang sejak Orde Baru dipertahankan hingga saat ini. Tidak ada hubungannya dengan konsep Trisaktinya-nya Soekarno. Mirip dengan Pancasilanya Soeharto. Itu cuma salah satu dari sekian banyak kekerasan budaya yang masih ada.
Masih banyak yang belum diberesin sama Jokowi. Mungkin karena dia masih baru. Tapi saya ragu banget. Kenapa? Karena melihat dari gelagatnya juga sudah jelas. Dengan menaikkan harga BBM, perpanjangan kontrak Freeport, MP3EI, semuanya. Termasuk tindakan represif, seperti penggusuran PKL di Kota Tua dan Monas, bentrok akibat rencana pembangunan pabrik semen di Rembang, perampasan tanah di Karawang dan demo kenaikan BBM di Makassar baru-baru ini. Saya bukan kecewa, tapi menyayangkan elemen Kiri yang mendukung Jokowi tanpa melihat faktor lain. Mendukung Jokowi untuk mengubah sistem, ini musykil untuk dilakukan. Walaupun mungkin, tapi sulit sekali karena kekuasaan korporasi raksasa di belakang Jokowi itu besar sekali. Lalu ada isu tentang Hilmar Farid yang menjadi calon menteri, ya walaupun akhirnya gak jadi, saya pikir dia lebih baik jadi intelektual independen, menjadi “guru bangsa” karena pikirannya sangat dibutuhkan oleh bangsa ini.
Balik lagi ke Trisakti. Trisakti itu kan konsep Sukarno tentang kemandirian secara politik, ekonomi, dan budaya. Di masa sukarno, konteksnya jelas. Mandiri secara politik berarti bebas dari campur tangan asing. Bebas dari cengkeraman kapitalisme asing. Tapi ternyata kan infiltrasi asing bukan cuma melalui politik dan ekonomi, dia juga lewat kebudayaan. Ada CCF di situ, CIA di belakangnya. Pentolannya ya Goenawan Mohammad. Sebelumnya ada Mochtar Lubis dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tapi karena Mochtar Lubis ditangkap Sukarno, Ivan Kats cari kader baru. Dicarilah anak-anak muda, dapatlah GM dan Arif Budiman, kakaknya Soe Hok Gie. Gie juga kenal baik kok sama Ivan Kats. Di samping berkolaborasi dengan Nugroho Notosusanto, dia juga kolaborasi dengan orang-orang CCF dan FE UI, orang-orang Ford itu, dan dengan mafia Berkeley itu, terutama Soemitro. Karena patron mereka yang paling berpengaruh saat itu ya Soemitro, bapaknya Prabowo.
Jadi ya kalau tiba-tiba Jokowi ngomong Trisakti, itu bukan Trisaktinya Soekarno. Jika dia menjalankan Trisaktinya Soekarno beneran, dia harus memotong cengkeraman gurita asing di sini, terutama Amerika. Termasuk menyatakan penghapusan hutang luar negeri, menolak investasi segala jenis korporasi dan membatalkan kontrak-kontrak perusahaan pertambangan asing. Memang terdengar ekstrim, tapi itulah yang dimaksud oleh Sukarno ketika dia bicara tentang Trisakti. Berani gak pemerintah sekarang mandiri secara ekonomi, politik dan budaya? Ini yang kemudian saya sayangkan dari Martin (Suryajaya). Kenapa dia gembor-gembor soal Trisakti lewat koran itu (Koran Bakti)? Kesalahan perhitungan politik saya pikir. Ya itu sekedar kritik saja dari saya. Jokowi itu gak punya basis massa. Jadi kalau Seknas, atau relawan itu diklaim sebagai basis massa, itu salah besar. Karena para relawan itu tidak ideologis. Beda sama PKI, bahkan PNI, massanya ideologis semua. Militan. Punya kesadaran kelas. Jadi kalau ini permasalahan strategi politik, ya salah. Tapi gak masalah, itu kan pilihan dia. Tapi ya konsekuensinya juga silahkan ditanggung. Kan yang ketawa terkekeh-kekeh Goenawan Mohammad juga akhirnya. Jadi percuma kan akhirnya hehehe.

Menurut Anda, kekerasan budaya seperti apakah yang paling mempengaruhi kondisi sosial politik Indonesia saat ini?

Yang paling jelas ya itu anti-komunisme. Anti-komunisme masih menjadi mainstream discourse. Kekerasan budaya paling besar. Itu sampai sekarang. Kenapa ide marxisme, sosialisme, komunisme itu ditakuti? Siapapun yang ngomong, memperkenalkan, melakukan gerakan, ditangkap dan dipukulin di penjara. Itu kekerasan struktural dan langsung. Disebut struktural dan langsung karena diterapkan melalui kebijakan politik, setelah diberi landasan ideologis anti-komunis (kekerasan budaya), dan hasilnya kekerasan fisik.

Bagaimana pandangan anda mengenai lembaga-lembaga seperti Salihara dan Freedom Institute?

Lembaga sampah, tulis aja tuh di situ, jadiin judul. Udah, saya gak mau komentar banyak tentang lembaga itu. Lembaga sampah.

Jika pasca ‘65 terjadi kekerasan budaya, berarti untuk melakukan perlawanan terhadapnya diperlukan hal yang serupa. Bagaimana pendapat anda proyek kebudayaan yang ada saat ini untuk meng-counter kekerasan budaya yang pernah dilakukan?

Itu memang agak problematik, sering mengundang salah tafsir. Seperti juga konsep realisme sosialis yang diperkenalkan Lekra dan orang-orang sosialis yang mengandung komitmen sosial. Itu problematik karena metode seperti itu juga dipakai Orde Baru untuk melakukan hal yang sebaliknya. Taruhlah film Pengkhianatan G30S/PKI, itu kurang realis apa? Kurang punya komitmen sosial apa? Sama juga dengan novelnya Arswendo, yang isinya juga sama dengan filmnya. Dia punya dua mata pedang. Jadi kalau kita selama puluhan tahun dicekokin lewat kekerasan budaya dan kita berusaha membalik kondisi itu, ya itu memang hal yang harus dilakukan. Definisi kekerasan budaya itu begini: kita melakukan transformasi kultural, dari memandang kekerasan negara sebagai hal yang normal, lalu mengubahnya menjadi hal yang tidak normal, sehingga kita terus menerus dan konsisten melihat praktek kekerasan negara sebagai hal yang salah. Kalau cara sih bisa lewat macam-macam lah. Lewat buku, tulisan, kampanye, lewat desain grafis, sosmed, diskusi, kurikulum, karya seni, musik dan macam-macam lah. Untuk mengkampanyekan hal yang sebaliknya. Jadi, dalam praktik itu saya tidak melihatnya sebagai kekerasan budaya, sebaliknya, dia menjadi perdamaian budaya. Karena yang dilakukan adalah untuk mereduksi atau menyingkirkan faktor kekerasan langsung dan strukturalnya. Makanya dia bukan sebuah praktik kekerasan budaya. Kekerasan budaya itu adalah cara menggunakan produk kebudayaan untuk melegitimasi kekerasan langsung dan kekerasan struktural. Sementara kalau kita melakukan hal yang sebaliknya, untuk melawan praktek kekerasan, itu adalah praktek perdamaian budaya. Dengan kata lain itu adalaah upaya kebudayaan untuk mengubah paradigma kekerasan menjadi perdamaian. Perdamaian dalam pengertian praktik kekerasan negara harus dihapus sama sekali. Termasuk membongkar kasus ‘65 lewat jalur-jalur kebudayaan.

Bagaimana berjalannya Orde Baru melanggengkan proses budaya yang ‘mendisiplinkan’ masyarakat dan masih bertahan hingga saat ini?

Banyaklah. Salah satu contohnya adalah HIP (Hubungan Industrial Pancasila). Selain itu juga sekolah-sekolah yang dipersiapkan untuk jadi pimpinan, seperti IPDN, sekolah taruna. Itu adalah salah satu bagian yang masih dipertahankan. Tapi juga secara lebih luas, materi-materi pelajaran dari SD sampai kuliah pun masih tetap begitu. Jadi kalau ada perubahan, tidak jauh kok perubahannya. Kecuali mungkin pusat kekuasaan menjadi lebih tersebar. Tapi sistem dan lain-lainnya masih sama, masih Orba banget. Kalau bukan Orba, seperti orang-orang Kiri di belakang Jokowi itu berharap, seharusnya kontrak-kontrak pertambangan asing dll sudah diputus duluan atau proyek MP3EI, yang salah satunya diambil Tomy Winata kemudian dibatalkan, seharusnya bukan cuma membatalkan proyek jembatannnya aja, tapi seluruhnya, karena itu melibatkan investasi asing super besar, massif, terstruktur dan sistematis hahaha. Nah kasus Rembang kemarin kan begitu. Pendirian pabrik semen di Rembang itu adalah bagian untuk menyuplai bahan baku untuk membangun infrastruktur dalam mega proyek MP3EI. Yang di Karawang juga kemarin perampasan lahan, ya sama aja. Jadi land expropriation itu masih terjadi dan parah. Makanya harus ada UU Agraria yang benar. Bidang itulah yang paling sensitif. Karena kalau ada orang yang menyuarakan reformasi agraria, langsung dilibas, mati orang itu. Jadi kalaupun ada perubahan, itu pergantian rezim, bukan sistem. Jadi ya sistemnya sama aja.

Apa rencana penelitian Anda selanjutnya? Bisakah diceritakan? Apakah masih berkaitan dengan penelitian kekerasan budaya?

Yang jelas saya sedang meneliti tentang penghancuran gerakan Kiri di Indonesia pasca 65. Intinya adalah membongkar konspirasi itu lagi. Tentang bagaimana mereka dihancurkan, siapa aja tokohnya, bagaimana prosesnya. Yang saya teliti ya mulai peristiwa ‘65 sampai sekarang. PKI dihancurkan, semua organisasi yang berafiliasi dengannya dihancurkan, lalu bagaimana represi diterapkan untuk membungkam semua gerakan Kiri, sampai pertarungan politik dilakukan dari fase ke fase sepanjang Orde baru hingga sekarang. Tapi semua itu akan dilihat melalui cara pandang kebudayaan, makanya saya juga berencana menganalisis perkembangan kesusastraannya juga.

Apa saran Anda bagi para penulis muda yang tertarik pada peristiwa 65?

Sebetulnya sih ya terus saja menulis tentang hal-hal yang selama ini dibungkam, mencari informasi dan terus membaca sambil bergerak, membangun kesadaran, karena tanpa itu revolusi tak akan pernah mendapatkan momentumnya. Jadi kalau misalnya mau niat meneliti tentang peristiwa ’65 ya usahakan mencari data yang selama ini masih tersembunyi. Banyak celah yang masih belum diteliti. Misalnya, siapa yang menulis editorial Harian Rakyattentang dukungan PKI terhadap gerakan Untung di saat gerakan itu justru telah hancur? Ada satu saksi hidup yang nanti mau saya wawancarai. Itu orang yang kayaknya tahu. Menurut Martin Aleida, editorial itu sudah gak bisa diganggu-gugat pada saat masuk ke redaksi. Tapi siapa yang nulis, atau siapa yang ngasih perintah menaikkan tulisan itu? Itu salah satu celah yang masih bisa diteliti.