Friday, December 22, 2006

Amsterdam Punya Trem, "Canal Bus", Lalu Jakarta?

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/20/metro/3187037.htm
Rabu, 20 Desember 2006
R Adhi Kusumaputra

Trem merupakan salah satu alat transportasi publik yang populer di Amsterdam, Belanda, sejak lebih dari satu abad lalu. Ketika belum menghadapi persoalan kemacetan lalu lintas, kota ini sudah memiliki alat transportasi publik yang disebut trem, yang berjalan mengikuti rel, membelah jalan raya.

Trem lebih ringan daripada kereta api. Trem lebih bebas berkelak-kelok mengikuti rel yang ada di jalan ketimbang kereta api yang cenderung berjalan lurus.

Trem beroperasi kali pertama di Amsterdam pada tahun 1875 saat penduduknya masih sangat sedikit. Kini Amsterdam, ibu kota dan kota terbesar di Belanda, berpenduduk 735.560 jiwa (data tahun 2003). Jika digabungkan dengan penduduk sekitarnya, menjadi 1,3 juta jiwa.

Seperti halnya kota besar lain di dunia, setiap hari warga yang tinggal di pinggiran berbondong-bondong masuk kota untuk bekerja. Mereka yang tinggal di dalam kota Amsterdam biasanya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.

Mereka yang tinggal di pinggiran kota? Trem bertenaga listrik yang membantu warga pinggiran Amsterdam bepergian, selain alat transportasi publik lainnya seperti metro dan bus. Tiket trem, metro, dan bus menggunakan sistem tiket terpadu atau strippenkaart, yang berlaku untuk semua alat transportasi.

Transportasi publik di sini dikendalikan Gemeentevervoerbedrijf (GVB), badan transportasi publik Amsterdam.

Saat ini, dari Stasiun Pusat (Centraal Station) Amsterdam, ada 10 jurusan trem. Tiap-tiap jurusan berhenti di sejumlah lokasi. Banyak warga Amsterdam senang naik trem karena lebih mendapat prioritas untuk melaju di jalan.

Dibandingkan dengan bus, kapasitas trem lebih banyak karena gerbongnya dapat ditambah pada jam-jam sibuk, tanpa harus menambah pengemudi. Suara trem juga tidak terlalu bising.

Trem sangat membantu wisatawan yang berkunjung ke Amsterdam. Trem Nomor 4 yang dinaiki Kompas, misalnya, mangkal di Stasiun RAI, tak jauh dari pusat konferensi terbesar di Belanda, RAI Congress Center. Stasiun trem itu juga dekat dengan Hotel Novotel Amsterdam sehingga sangat membantu mereka yang menginap di hotel itu dan akan ke jantung kota Amsterdam.

Setelah tiba di jantung kota, biasanya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri kawasan pusat kota Amsterdam, dari kawasan Chinatown sampai Red Light District, yang sengaja dijadikan kawasan wisata.

Trem Nomor 4 itu berhenti di 10 titik, yang rutenya melintasi Van Woustraart, Frederiksplein, Utrechtsestraat, Rembdrandsplein, Regulierbreestraat, Muntplein, Rokin, Dam, dan berhenti di Damrak di jantung kota. Penumpang trem dapat menyaksikan pemandangan sepanjang perjalanan, yang umumnya didominasi bangunan tua dan kanal.

Mia Wistaria (58), perempuan kelahiran Indonesia yang bekerja di sebuah toko bunga di Amsterdam dan bersuamikan warga negara Belanda, mengaku lebih suka naik trem karena alat transportasi itu langsung menembus jantung kota.

Biasanya dia membeli tiket terusan karena lebih murah. Harga tiket dua strip (minimum satu zona) 1,6 euro, tiket tiga strip 2,4 euro, tiket delapan strip 6,4 euro, 15 strip 6,7 euro, dan 45 strip seharga 19,8 euro. Untuk perjalanan tak terbatas (tiket 24 jam) harganya 6,3 euro, sedangkan tiket perjalanan 48 jam seharga 10 euro dan tiket 72 jam 13 euro.

Amsterdam Metro

Amsterdam juga punya metro, yang beroperasi di tiga jurusan, yaitu jurusan Eastern, Amstelveen, dan Ring. Jurusan Eastern menghubungkan Centraal Station di Amsterdam dengan kawasan sub-urban tenggara, yaitu Amsterdam Zuidoost dan wilayah Bijlmermeer. Jurusan ini memiliki dua cabang, yaitu line 53 dan 54. Metro ini beroperasi kali pertama tahun 1977, kemudian dikembangkan tahun 1980 dan 1982.

Jurusan Amstelveen (line 51), yang beroperasi sejak tahun 1990, menghubungkan Centraal Station dengan kawasan sub-urban selatan. Sedangkan jurusan Ring (line 50), yang dibuka tahun 1997, menghubungkan wilayah tenggara dengan wilayah barat tanpa masuk ke dalam kota. Amsterdam Metro terkoneksi dengan trem sehingga penumpang KA dapat melanjutkan perjalanan dengan trem, dan juga sebaliknya.

Metro beroperasi sejak pukul 06.00 hingga 00.30, dengan interval waktu setiap 12 menit. Kehadiran metro di kota ini memudahkan transportasi warga pinggiran yang bekerja di dalam kota.

Yang juga menarik, alat transportasi publik yang dapat dimanfaatkan wisatawan adalah canal bus, yang ramah lingkungan. Ini merupakan perusahaan pertama yang mengoperasikan boat untuk angkutan publik di Eropa. Canal bus ini memanfaatkan ratusan kanal yang mengelilingi kota ini dengan tiga jurusan, yang semuanya mengambil keberangkatan dari Centraal Station.

Tidaklah heran jika Amsterdam tetap ramai dikunjungi turis karena kemudahan transportasi umum yang disediakan pemerintah setempat. Trem, metro, dan canal bus dibuat senyaman mungkin.

Bagaimana Jakarta?

Jika kita mengacu pada Jakarta yang berpenduduk 12 juta jiwa pada siang hari, transportasi umum apa yang dapat dibanggakan? Busway mungkin salah satu karya Sutiyoso yang saat ini memang membantu transportasi warga Jabodetabek.

Puluhan tahun lalu ada jalur trem di Medan Merdeka dan Harmoni, tetapi entah kenapa akhirnya lenyap tak berbekas.

Kereta rel listrik? PT Kereta Api berwacana akan memodernisasi tujuh stasiun kereta api dari Tanah Abang ke Serpong terkait dengan dibangunnya rel ganda Tanah Abang-Serpong saat ini. Tahun 2007, KRL Tanah Abang-Serpong akan beroperasi selama 24 jam!

Bukan hanya itu, akan dibangun juga KRL dari Manggarai ke Bandara Soekarno-Hatta sehingga koneksi antarstasiun KRL memudahkan warga ke dan dari bandara.

Subway, monorel? Entah kapan pembangunan transportasi umum ini dapat terwujud karena sejak 15 tahun lalu hal ini sudah diwacanakan, tetapi hingga kini belum terwujud. Karena terlalu banyak berwacana, jangan heran apabila problem kemacetan lalu lintas hingga kini tak pernah dapat teratasi!

No comments: